4:11 am - Selasa November 21, 2017

Trend Mudik Jelang Ramadhan di Negeri Serambi Mekkah

299 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi Mudik Ramadhan (foto: ist)

Mudik Sambut Bulan Ramadhan di Aceh (foto: faizin/PR)

PikirReview.Com—Tradisi mudik bagi masyarakat di Negeri Serambi Makkah, tidak hanya menjelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Namun juga jelang memasuki bulan suci Ramadhan setiap tahunnya. Kegiatan pulang kampung (pulkam) sudah menjadi tradisi dalam masyarakat Aceh sejak dahulu, jelang Ramadhan tiba.

Aktivitas mudik jelang memasuki bulan puasa Ramadhan itu, bagi masyarakat Aceh berbeda disikapidan dimaknai. Dua hari sebelum Ramadhan, di Aceh sejak dahulu hingga kini ada tradisi potong sapi dan kerbau dalam jumlah besar, yang disebut dengan hari Meugang atau hari Makmeugang.

Hari Meugang ini, dilakukan dua hari sebelum Ramadhan. Hari Meugang pertama disebut hari Meugang Kecil, yang dalam masyarakat Aceh cenderung dipersepsikan sebagai Meugang bagi pegawai, seperti pegawai negeri, karyawan atau masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas. Sementara hari Meugang kedua, merupakan hari Meugang besar, atau hari Meugang secara umum bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kegiatan potong sapi atau kerbau itu, tidak saja dilakukan para pedagang di setiap pelosok pasar tradisonal atau pasar inpres, namun juga digelar oleh masyarakat Aceh di hampir semua meunasah (surau) di gampong-gampong (desa). Biasanya masyarakat gampong di Aceh melakukan acara potong binatang ternak; sapi dan kerbau pada hari kedua meugang.

Single content advertisement top

Para warga masyarakat di setiap gampong di Aceh berbeda cara membeli daging meugang yang digelar di gampong mereka. Sejatinya panitia meugang di pedesaan Aceh, sekitar 3 bulan sebelum Ramadhan sudah memberi pengumuman kepada warga soal daging meugang, sehingga warga bisa mempersiapkan diri untuk mengumpulkan uang meugang.

Ada juga model transaksi kedua, yaitu sebulan sebelum memasuki Ramadhan baru diberi informasi pada warga bahwa di gampong akan dilaksanakan meugang, sehingga para warga yang ingin membeli daging meugang dapat menulis namanya, dan pada hari meugang tinggal bayar uang daging saja.

Sementara model pembelian daging meugang ketiga, para warga sudah bertanya-tanya ‘apa ada meugang kali ini bos?’ pada pedagang dadakan (toke), yang setiap tahun memotong sapi atau kerbau untuk meugang di gampong. Biasanya toke akan merespon warga, seperti ini; kalau ada 50 orang warga yang memesan daging meugang, kita siap untuk potong sapi pada hari meugang’.

Nah, salah satu fenomena tradisi mudik jelang Ramadhan di masyarakat Aceh, boleh jadi para perantau ‘kangen’ dengan masakan daging meugang keluarganya di kampung. Selain itu, para pemudik juga rindu berpuasa Ramadhan dan sholat taraweh barang 2 atau 3 hari  di kampung halamannya. Labih jauh, pemudik juga hendak mengambil berkah Ramadhan bersama orang tuanya, yang sudah lama ditinggalkan, sehingga mudik jelang Ramadhan menjadi moment penting dalam kehidupannya. [sw]

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Praktek Jurnalistik di Indonesia Jauh dari Sehat dan Ideal

Semrawutnya Pendidikan Aceh dan Solusi Perbaikan ke Depan

Related posts
Your comment?
Leave a Reply