9:10 pm - Sabtu November 18, 2017

Surat Untuk Pak Gubernur

253 Viewed Redaksi 0 respond

Assalamulaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Ta’zim penghormatan kami kepada bapak yang berada di gedung mewah di Jl. T. Nyak Arief No.219, Banda Aceh,  Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada bapak untuk memimpin Negeri Serambi Mekkah sampai pada masa akhir jabatan.

Single content advertisement top

Kami juga sangat berharap, semoga bapak diberikan kesempatan sedetik saja merasakan posisi kami, Rakyat mu, Rakyat yang masih berpayung di bawah kepemimpinan mu dan masih ber KK Aceh.

Salam sejahtera juga kepada seluruh kabinet bapak yang duduk di atas kursi SKPA yang empuk dan  kepada seluruh Rakyat Aceh yang bapak pimpin.

Bapak Gubernur Yang Mulia….

Kami hanyalah seorang pemuda yang lahir di rumah berdinding papan, dibesarkan di lingkungan gampong wilayah Timur Aceh Utara dan Tumbuh bersama Rakyat jeulata di Provinsi ini, yang  subur dan kaya Sumber Daya Alam. Provinsi yang pernah di sambar peluru dan letupan meriam NKRI dan hantaman ombak Tsunami yang ganas.

Dengan segala kerendahan harga diri, kami mohon maaf kepada bapak, karena melalui jasa media-lah, kami bisa menyampaikan keluh kesah yang selama ini kami rasakan karena status sosial yang jauh berbeda, yang kami rasakan tidak mungkin berjumpa, palagi berjabat tangan dengan bapak.

Disini, kami ingin mengutarakan beberapa harapan yang sopan dan elegan tanpa memojokkan pihak bapak dan bukan juga untuk menghakimi karena jika kami bersuara dalam nada mengkritik, itu bukan karena marah dan jika kami memuji juga bukan lantaran terpesona.

Bapak Gubennur yang Arif dan bijaksana…

Fenomena Aceh sekarang hanyalah seolah tampak dimata rakyat pada persoalan Qanun dan Bendera saja, sedangkan penderitaan rakyat tidak semahal dengan harga Bendera Bulan Bintang Di atas kain merah dan berles hitam putih itu.

Hal itu merupakan suatu yang lazim mengingat perjuangan panjang yang berdarah-darah dan banyak rakyat yang tidak diketahui kuburnya. Tetapi pak, Rakyat juga butuh perhatian dari bapak, layaknya seorang anak membutuhkan perhatian ayahnya.

Realitas, Rakyat kelaparan, berteduh di bawah kolom jembatan, generasi tanpa pendidikan, apakah itu tidak lebih penting dan apakah hal itu tidak di bahas dalam MOU Helsinki tahun 2005 silam ?

Penderitaan Rakyat!  Salah siapakah ?

Apakah salah bapak yang sibuk membicarakan bahasa sakti tentang ekonomi makro dan menjadikan rakyat sebagai pelacur intekletual dengan jargon – jargon kebenaran ilmiah yang akhirnya tidak ada tindakan apapun, atau pun salah kami yang tidak bisa memilah dan memilih untuk tidak dilahirkan sebagai rakyat di negeri syari’at Islam ini!

Bapak Gubennur yang terhormat…

Kami ini butuh dikasihani, kami tidak butuh harapan–harapan tak kunjung tiba. Istilah Aceh, “preh boh ara anyot” ? Kami hanya butuh sedikit perhatian dan kasih sayang. Bantulah kami untuk membuat pilihan–pilihan baru dalam hidup kami, agar kami dapat merubah hidup.

Kami juga anak bangsa ini, kami juga anak Aceh pak, walau kami tidak seberuntung dengan bapak. Kenapa kepentingan Politik hari ini membebankan rakyat pak ? Inilah permohonan dan pertanyaan kami pak, Semoga ini menjadi masukan dan perhatian dari Bapak.

Terakhir kami berharap Bapak tetap kuat dan bijaksana dalam memimpin Aceh dan mengantarkan Aceh ke gerbang kemajuan, damai dan sentosa…

Wassalam.

Dari: Putri Nurlaili

Mahasiswi Teknik Arsitektur Unimal Lhokseumawe

Editor: Muhajir AF

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Elemen Masyarakat Aceh Rame-Rame Tolak Wali Nanggroe

Related posts
Your comment?
Leave a Reply