4:59 pm - Jumat September 22, 2017

Semrawutnya Pendidikan Aceh dan Solusi Perbaikan ke Depan

656 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi (antaranews)
Muntasir Pasai, Sekjend IMAS Jakarta (foto: dok pribadi/fb)

Muntasir Pasai, Sekjend IMAS Jakarta (foto: dok pribadi/fb)

Oleh: Muntasir Pasai*

DALAM  beberapa tahun terakhir, pendidikan Aceh sedang dilanda beragam permasalahan. Mulai dari masalah profesionalitas pengelola pendidikan, leadership, kurikulum, proses perekrutan tenaga pendidik, kualitas guru, pemerataan tenaga pendidik yang belum optimal dan penyalahgunaan wewenang pejabat.

Kondisi terserbut tercermin pada kualitas pendidikan Aceh, dari parameter kelulusan UN Aceh beradas di urutan ke 27 dari 35 provinsi di Indonesia tidak berbanding lurus dengan dana yang besar yang dikuurkan setiap tahun.

Tentu parameter UN tidak bisa dijadikan patokan secara 100% atas kualitas pendidikan, namun prestasi lain juga tidak kunjung diperlihatkan oleh pemerintah aceh atau dinas pendidikan Aceh. Disisi lain jumlah dana pendidikan untuk Aceh sangat fantastis. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan sendirinya memunculkan berbagai macam pertanyaan dikemanakan uang tersebut,? bagaimana penggunaan anggaran pendidikan tersebut?

Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah Aceh untuk mengambil langkah-langkah kongkrit cepat dan tepat sasaran untuk mengembalikan jati diri pendidikan Aceh, karena jika kondisi tersebut terus berlangsung lana maka dikhawatirkan, Aceh akan terus tertinggal dalam hal pengelolaan sumber daya manusia.

Single content advertisement top

Pengelolaan sumber daya manusia menjadi sangat penting agar sumberdaya alam Aceh yang kaya dapat dikelola dengan baik oleh putra-putri Aceh, dengan demikian Aceh siap dalam menghadapi globalisasi, persaiangan SDM dan gempuran product import apalagi kita akan memasuki asean ekonomic community tahun 2015.

Kita tidak ingin rakyat Aceh hanya menjadi penonton, tetapi putra-putri Aceh harus jadi pelaku utama dalam mengelola sumberdaya alam Aceh untuk kemakmuran Aceh yang kita cintai.

Atas dasar kondisi sembrautnya pendidikan Aceh tersebut, kami Forum Kajian Ikatan Mahasiswa Pasca Sarjana Aceh Jakarta (IMPAS) merasa perlu membuat penelaahan, memberikan masukan dan mengingatkan para pihak yang yang terlibat dalam pendidikan agar bekerja keras untuk keluar dari keterpurukan pendidikan di Aceh.

Tidak ada ruang alasan lagi bahwa untuk mengeluh kekurangan dana, namun kondisi saat ini kita masih miskin leadership, kita miskin pemimpin yang jujur dan adil, kita miskin pemimpin yang mau bekerja keras mengiplementasikan program-program pendidikan serta masih lemahnya pengawasan terhadap program-program tersebut.

Dalam diskusi-diskusi menelaah mengenai situasi dan kondisi pendidikan di Aceh. Dari beberapa kali hasil diskusi tersebut. IMPAS menghasilkan beberapa rekomendasi dan masukan kepada pihak yang terkait terutama Pemerintah aceh/kab dan kota serta dinas pendidikan dan kebudayaan. Adapun rekomendasi sebagai berikut:

Pertama: Pemerintah Aceh/kabupaten kota perlu mengavaluasi secara menyeluruh penyelenggaran pendidikan termasuk peningkatkan tenaga- tenaga pendidikan yang profesionalitas dari dinas pendidikan.

Kedua: Penempatan kepala dinas dan pejabat dinas yang terkait bebas dari unsur politis atau jabatan balas budi. Pejabat yang diangkat adalah pejabat yang memiliki kemampuan kepemimpinan, berkualitas, berintegritas, memilki trac record yang baik dalam memajukan pendidikan Aceh.

Ketiga: Perlu adanya rencana pembangunan dalam bidang pendidikan Aceh yang jelas, terarah, berkesinambungan, terukur, berasas nilai-nilai keislaman serta dapat diawasi oleh publik dan tidak hanya direncakan tetapi perlu ada pelaksanaan yang nyata. Hal ini penting karena dimasa modern ini masih saja terjadi ganti pejabat maka ganti pula kebijakan dengan mencari berbagai celah alasan.

Ke empat: Pemerintah dan dinas yang terkait perlu meningkatkan kualitas guru dengan memberikan program-program pelatihan yang kreatif dan inovatif, yang terencana, dan memiliki indikator keberhasilan dari pelatihan tersebut, sehingga program tersebut bukanlah program menghabiskan anggaran dan program tersebut bukanlah proyek dari dari pejabat, konsultan ataupun kontraktor.

Kelima: Pemerintah dan dinas terkait harus segera meningkatkan sinergiritas dengan univeritas, kementerian yang terkait dalam hal kualitas kelulusan calon pendidik dan mengimplementasikan proses perekrutan calon pendidik. Pendidik tidak hanya di ukur dari kemapuan tulis namun memiliki sertifikasi kelayakan menjadi tenaga pendidik.

Ke enam: Pemerintah Aceh/kab kota harus segera melakukan evaluasi penempatan guru diseluruh Aceh, walaupun telah ada aturan yang mengatur dimana pegawai negeri sipil tidak di benarkan pindah dari daerah penempatan dalam waktu tertentu, namun kebijakan tersebut belum menunjukkan hasil yang memuaskan dan perlu memperhatikan kesejahteraan guru-guru terutama guru-guru di daerah terpencil.

Terkahir: Perlu adanya pengusutan dugaan penyalahgunaan wewenang oleh pejabat dinas yang terkait oleh lembaga audit pemerintah dan pihak penegak hukum lainnya agar mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah, dinas pendidikan dan pihak yang terkait.

Semoga masukan dan rekomendasi tersebut tersebut bukanlah resep super mujarab. Tentu terdapat kekurangan dan berbagai tantangan dalam merealisasikannya. Namun pemerintah Aceh harus berusaha semaksimal mungkin, masalahnya adalah Pemerintah Aceh mau atau tidak untuk melaksanakannya.[]

*Penulis: Mahasiswa Pascasarjana Kebijakan Publik Univeristas Indonesia dan Sekjend IMPAS Jakarta

Editor:  Safta

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Trend Mudik Jelang Ramadhan di Negeri Serambi Mekkah

Hah…Pedagang Susu & Tukang Tambal Ban Kalahkan Insinyur Oxford

Related posts
Your comment?
Leave a Reply