12:53 pm - Selasa Oktober 24, 2017

Sambut Ramadhan, Di Aceh Ada Tradisi ‘Meugang’

450 Viewed Redaksi 0 respond
Meugang, Tardisi Wraga Aceh (ilustrasi: dok.pikirreview)

Lhokseumawe–Setiap memasuki bulan suci Ramadhan, ada tradisi khas dalam masyarakat Aceh, yaitu para pedagang, baik pedagang harian di pasar-pasar tradisional atau pasar inpres di setiap kecamatan, maupun para pedagang dadakan berbondong memotong sapi atau kerbau untuk dijual pada hari ‘meugang’.

Hari ‘meugang’ biasanya di Aceh digelar dua hari berturut-turut, sebelum memasuki 1 Ramadhan. Kondisi serupa juga berlangsung saat menyambut Hari raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.

Tradisi ‘meugang atau ‘makmeugang’ sudah menjadi tradisi keturunan dari generasi ke generasi dalam masyarakat Aceh. Pada hari ‘meugang’ ini, setiap warga, baik yang status ekonomi lemah maupun kelas menengah ke atas, siap menyediakan daging ‘meugang’ untuk keluarganya.

Single content advertisement top

Dalam tradisi ini, daging dibawa pulang untuk dimasak dalam berbagai selera oleh masyarakat Aceh. Di perkampungan-perkampunagn, setelah daging dimasak, biasanya satu keluarga dengan keluarga lainnya saling membagi masakan.

Masakan Daging 'Meugang' di Aceh (foto:cakfatah/wp)

Masakan Daging ‘Meugang’ di Aceh (foto:cakfatah/wp)

Memberi daging masakan ala kuliner Aceh kepada tetangganya, terutama mereka yang tidak mampu membeli daging sudah menjadi tradisi tersendiri diperkampungan Aceh. Hal ini tidak ditemui dalam masyarakat Aceh yang berdomisili di perkotaan.

Kaum duafha yang tidak mampu membeli daging, biasanya memotong ayam atau bebek hasil piaraannya sendiri, yang penting anak-anak mereka juga makan daging pada hari ‘meugang’

Seorang warga Lhokseumawe mengatakan, hari  ‘meugang’, adalah sesuatu yang khas bagi masyarakat Aceh dan tidak ditemui dalam masyarakat lain di nusantara ini.

“Saya kira ini tradisi dari leluhur sejak zaman dahulu dalam masyarakat kita (red–Aceh), dan sangat khas sekali”, ujar seorang Ibu paruh baya, di pasar Inpres Lhokseumawe,  Selasa (16/06).

Si ibu ini juga menambahkan, “Saya, saat istirahat kantor, langsung ke pasar membeli daging barang 2 kg untuk anak-anak, walaupun mahal tapi kan harus dibeli juga”, timpalnya.

Menurut salah seorang warga lain yang ditemui di pasar tradisional Kreung Geukueh, tradisi ‘meugang’ atau ada yang menyebut ‘makmeugang’ sudah berlangsung sejak zaman Sultan Iskandar Muda dulu.

“Meugang seperti ini kalau bisa jangan sampai hilang di dalam masyarakat Aceh, karena ini budaya dari sejak endatu kita sejak masa kerajaan Aceh tempo doeloe”, ujar Tgk Bukhari, warga Kecamatan Dewantara, Rabu (17/06).

“Soal harga yang tiap tahun naik, itu karena sapi dan kerbau juga mahal dari peternak. Jadi sessuatu yang wajar-wajar saja”, buktinya dagangan hingga jam 1 siang sudah habis”, pungkas Tgk Bukhari disela membeli daging ‘meugang’. [safta]

Redaktur: Khairu S

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Masjid-masjid Tetap Utuh, Kuil-kuil Hancur Berantakan di Nepal

Ternyata Mudik Menyimpan Fakta Unik

Related posts
Your comment?
Leave a Reply