12:37 pm - Senin November 20, 2017

Riset: Bahaya Jika Media Massa Ikut Memuji Jokowi

406 Viewed Redaksi 0 respond
Jokowi Capres PDIP (foto:ist)
Jokowi Capres PDIP (foto:ist)

Jokowi Capres PDIP (foto:ist)

Yogyakarta–Media massa alami polarisasi pada kelompok yang mendukung dan tidak mendukung pencalonan Jokowi sebagai capres yang diusung PDIP. Demikian hasil riset Media Literacy Circle UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

“Analisis isi terhadap enam media cetak nasional yang kami lakukan menunjukkan adanya polarisasi pemberitaan Jokowi sebagai calon presiden,” kata Direktur Eksekutif Media Literacy Circle Iswandi Syahputra, seperti diberitakan merdeka.com, Rabu (2/4).

Single content advertisement top

Polarisasi tersebut, dia menjelaskan, terlihat dari tone (bunyi) pemberitaan setiap media massa yang diteliti. Ada media yang memframing Jokowi sebagai penantang kuat dengan tone pemberitaan Jokowi secara positif.

“Ada juga media yang memframing Jokowi bukan sebagai penantang kuat dengan tone pemberitaan Jokowi secara negatif. Selain itu ada pemberitaan media yang malu-malu, seakan ingin netral padahal cenderung mendukung Jokowi,” jelas Doktor kajian media UGM tersebut.

Dalam kasus yang paling mutakhir, Iswandi memberi contoh adanya kabar pesawat pribadi yang digunakan Jokowi dalam kampanye ke sejumlah daerah.

“Coba perhatikan, saat Jokowi naik mobil Esemka hampir semua media meliputnya. Tapi saat Jokowi kabarnya naik pesawat pribadi, walau itu mungkin pesawat sewa tapi harganya jauh lebih mahal dari pesawat komersial biasa, beritanya tidak begitu ramai di media massa,” paparnya.

Lebih lanjut Iswandi menyatakan, polarisasi pemberitaan media mulai terasa saat Jokowi menyatakan maju sebagai calon Presiden setelah mendapat mandat dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Tanggal 14 Maret saat Jokowi menyatakan maju sebagai calon Presiden seperti menjadi pluit bagi polarisasi pemberitaan media tersebut.”

Mantan anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat tersebut menjelaskan, polarisasi media itu hal yang biasa terjadi dalam politik pemberitaan. Dengan catatan media menyajikan fakta dan data objektif, bukan opini yang subjektif.

“Publik juga tidak boleh terlalu lama dalam euforia Jokowi. Sebab sebelum Jokowi maju sebagai capres, tidak ada media bersikap kritis. Situasinya mirip seperti Pemilu 2004, saat itu SBY yang menjadi media darling. Sangat berbahaya jika semua media memuja dan memuji Jokowi,” ujarnya.

“Memang harus ada media yang berani bersikap kritis pada Jokowi. Jadi media tidak perlu malu mendukung atau tidak mendukung Jokowi sebagai capres dalam politik pemberitaannya. Polarisasi ini positif untuk publik.”

Minggu lalu Media Literacy Circle UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merilis hasil riset analisis isi pemberitaan media cetak nasional terhadap pencalonan Jokowi sebagai Presiden. Penelitian dilakukan pada tanggal 13-22 Maret 2014 atau dua hari sebelum hingga seminggu penetapanJokowi sebagai capres PDIP.

Isi pemberitaan media cetak nasional yang dianalisis adalah Kompas, Koran Tempo, Republika, Koran Sindo, Media Indonesia dan Jawa Pos. Riset analisis isi media tersebut dimaksudkan untuk menemukan peta pemberitaan media terhadap pencalonan Jokowi sebagai capres. (mdk/pr)

Editor: Khairu S

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

80% Masjid di Indonesia Berpaham Islam Moderat

SBY Luncurkan Beasiswa BPRI Untuk Anak Negeri

Related posts
Your comment?
Leave a Reply