8:38 pm - Senin November 20, 2017

Rintangan Dalam Pilihan

330 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh: M. Ilyas |26 April 2013

Single content advertisement top

AKU yakin bahwa pilihanku bukan sesuatu yang gagah-gagahan. Lalu (dalam keluguan seorang lelaki 12 tahun) kuceritakan padamu rintangan yang kulalui sebelum berangkat ke madrasah.

Dalam tangis yang ditahan-tahan, kukisah padamu perihal sodara perempuan Ayahanda yang keberatan dengan pilihanku. Mereka tidak pernah setuju dengan pilihanku karena sistem pemondokannya yang tidak baik terhadap psikologis anak didik yang dibaurkan sesama jenis kelamin dalam satu asrama.

 “Setahun saja di sana kepalamu bisa gundul dan sekujur tubuhmu kudisan. Bibi sering mendengar, di asrama madrasah itu sering terjadi prilaku seks menyimpang: lesbian, homoseks! Madrasah yang kau pilih itu adalah bentuk lain dari penjara. Belum lagi kebersihannya! Banyak santri yang terpaksa dirawat di rumah sakit karena terjangkit penyakit kulit, muntaber. Gangguan pencernaan!

Kau paham maksud Bibi? Konkritnya begini: kalau pilihanmu sudah final, maaf, Bibi tidak bisa membantu soal biayanya. Tapi kalau selain madrasah, Bibi sedia mendanai sekolahmu sampai ke tingkat yang lebih tinggi….”

Wajar saja Bibiku yang belum berumah tangga ini berkata begitu, karena dia seorang pemimpin di sebuah instansi pemerintah. Mungkin dalam memberi petuah atau instruksi selalu dengan bahasa yang tegas. Aku, anak tanpa bapak ini, tentu tidak akan membantah bila Bibi sedang berpetuah. Ya, bagaimana lagi.

Semenjak Bapak tiada, biaya sehari-hariku ada dalam tanggungan Bibi. Sementara Ibunda, hanya bisa duduk di rumah dan menanggung semua pekerjaan rumah. Pendidikan orang tuaku yang cuma tamatan SMA membuat nasip Ibunda ku harus menjadi ibu rumah tangga.

Dalam kondisi seperti itu, Bibi, adik mendiang bapak satu-satunya datang dengan niat yang mulia: membiayai pendidikan kami bertiga. Alhamdulillah, pikiranku yang nyaris dikuasai putus asa perlahan-lahan cerah. Aku pun kembali dapat merancang cita-cita.

Ketika Bibi datang menyampaikan keberatannya atas pilihanku ingin mengaji di sebuah pesantren, haruskah aku memaksakan diri? Tentu saja tidak, Aku hanya menunduk, menekuri denyut di dada kiri. Seperti ada peperangan di sana.

Saat menengadahkan kepala, kulihat wajah Ibunda saat itu seperti ingin memelukku. Dan matanya, masya Allah, menyulut semangatku. Aku tahu Ibunda mengubur tangisnya dalam-dalam. Ia kuyakini tengah mendukungku, memberi pembelaan terhadap pilihanku dengan caranya sendiri. Sebentar kemudian Ibunda mengisyaratkan agar aku mengikutinya ke dalam kamarnya.

Di dalam kamarnya yang lusuh, Ibunda menyodorkan sebuah tas mungil yang di kulit luarnya tertulis: Toko Mas Murni Anugerah. Saat kubuka, sebuah cincin beserta surat-surat jual belinya ada dalam kantong tas mungil itu. Aku mengerti maksud Ibunda.

Maka, esoknya setelah menjual cincin emas pernihakan Ibunda dulu, aku berangkat ke madrasah yang sudah lama menjadi bunga-bunga dalam mimpiku. Aku tak peduli meski menurut Bibi, madrasah itu hanya akan membuat kepalaku gundul dan sekujur tubuhku kudisan.

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
prev-next.jpg

Perpisahan Bukan Ditangisi

Perjalananku

Related posts
Your comment?
Leave a Reply