3:11 pm - Rabu November 25, 3716

Refleksi Milad ke-67: HMI Sebagai Harapan Masyarakat Indonesia

532 Viewed Redaksi 1 respond
Refleksi Milad HMI ke 67
Lambang HMI (image: google)

Milad ke 67 HMIOleh: Muhammad Fuadi*

HIMPUNAN  Mahasiswa Islam (HMI) sebagai wadah pergerakan mahasiwa Islam yang lahir 5 februari 1947 oleh Lafran Pane dan teman-temnnya di Jogjakarta merupakan organisasi mahasiswa yang tertua dan saat ini sudah berusia 67 tahun, ini sebuah perjalanan yang sangat panjang untuk sebuah organisasi pengkaderan dan pergerakan mahasiswa.

Tentu saja dalam usia yang tidak lagi muda, HMI telah banyak berbuat untuk bangsa dan negara ini  Berbagai suka dan duka telah terekam dengan cukup baik dalam lembaran sejarah HMI.

Tahun 1998 menjadi titik ledakan perjuangan bangsa ini ketika  HMI ikut terlibat dalam aksi melengserkan Rezim Orde Baru, salah satu tokoh HMI yang getol waktu itu melabrak penguasa adalah Amien Rais, dan kawan-kawan. Demikian pula dengan upaya damai terkait konflik bersenjata selama 30 tahun lebih antara Pemerintah Jakarta dengan GAM di Helsinki, Polandia (MoU Helsinki), juga dipelopori M.Jusuf Kalla (JK) dan rekan-rekan, serta banyak kasus lainnya di negeri ini yang melibatkan kader-kader HMI.

Lembaran-lembaran sejarah tersebut tidak semestinya dijadikan sebatas dokumentasi historis saja, namun lebih dari itu harus dijadikan cermin untuk merefleksi diri sekaligus untuk mengukur proses cita dan harapan pendirinya telah terpenuhi oleh kader-kader HMI masa kini.

Single content advertisement top

Karena itu, sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan, mengingatkan kita pada peristiwa penting simbolisasi perjuangan, yang diisyaratkan Jenderal Soedirman, bahwa HMI merupakan “Harapan Masyarakat Indonesia”, dan ini satu kesimpulan harapan untuk masa bangsa ini seiring putaran waktu.

 Kondisi Kekinian Bangsa Dan Sosok HMI

“Kronis” Itulah sebutan yang pantas dilabelkan pada bangsa ini. realitas menunjukkan bahwa kondisi kekinian bangsa saat ini sangat menyedihkan untuk sebuah negara yang julukan seribu pulau. Lihat saja, berbagai polemik tiada pernah berhenti. Mulai dari kisruh politik yang tidak berujung, model pendidikan yang tidak berpola, korupsi merajalela, kriminalitas meningkat, kemasiatan bertaburan, ekonomi sakit-sakitan, kemiskinan tak kunjung tuntas, dan lain sebagainya.

Sebut saja, polemik pendidikan yang tak kunjung menemui titik terang –mulai dari Ujian Nasional, anggaran, kesejahteraan guru hingga masalah gonta-ganti kurikulum yang tidak tepat sasaran. Hal ini menjadi miris bagi bangsa ini yang tidak konsisten terhadap pembangunan bangsa ini.

Demikian juga dengan problematika lingkungan hidup, yang jadi isu krusial seperti berbagai bencana alam di negeri ini, dan lain sebagainya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan bangsa ini ? Barangkali inilah yang perlu dicari problem solving-nya, bukan malah terlena dengan upaya sikat-sikut, adu domba dan hasat-hasut diantara anak bangsa.

Dalam konteks ini, penulis teringat lirik lagu Ebiet G Ade dalam nyayiannya: “Mengapa di tanahku terjadi bencana Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”

Sebagai bangsa mari lebih kritis dengan bait-bait lagu Om Ebit G. Ade tersebut, mari pula mengaca diri akar telihat dimana borok dan cela, sehingga bisa permaks kembali untuk menata kehidupan bangsa yang lebih elok ke depan.

Jika mau jujur, HMI telah menyuguhkan sejumlah tokoh bangsa dan publik figure dari hasil pengkaderan dan pergerakan HMI, baik tingkat regional maupun nasional. Di level nasional misalnya, tampak tokoh HMI seperti; Nurcholis Madjid, Amien Rais, Akbar Tanjung, M. Yusuf Kalla, Abraham Samad, Mahfud MD dan sederet lainnya –telah banyak memberi konstribusi pemikiran dan tindakan nyata bagi bangsa ini, dalam menata kembali bangsa yang sedang ‘sakit’ dan penuh carut marut ini.

Selamat Ulang Tahun HMI yang ke 67, semoga dapat berbuat lebih banyak lagi untuk kemakmuran bangsa ini. []

________________

*Penulis adalah pengurus HMI Komisariat Tarbiyah, Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan III, dan Presiden Mahasiswa STAIN Malikussaleh Lhokseumawe Periode 2014-2015.

Editor: Safta

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Persepsi Cinta Kaum Muda Yang Rancu

Prospek Pengembangan Pariwisata Religius di Aceh

Related posts
One Response to “Refleksi Milad ke-67: HMI Sebagai Harapan Masyarakat Indonesia”
  1. HANIEF DJOHAN
    # 5 Februari 2016 at 8:07 pm

    67 thn sudah HMI lahir dan berada di negeri ini, beribu cerita dan kisa yang sdh menjadi sejarah bagi perjalanan bangsa ini. Dan di usia yg sudah melewati usia dewasa, apa yang bisa diperbuat oleh kader-kader HMI saat ini. Semua menyadari akan carut maruy nya kehidupan di negeri ini, apa yang bisa dilakukan oleh kader2 HMI? Karena itu mari kita berhenti mencari eslahan orang lain, mari kita bersatu bersama saling menghargai, meaafkan, berdiskusimencari solusi yang paling riel buat kondisi bangsa ini. SELAMAT ULANG TAHUN HMI YANG KE 67. GO HEAD HMI

Leave a Reply