10:38 pm - Senin November 20, 2017

Qari Kecil Membangunkan Kalbu

357 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh: Endang Kusnadi |3 Mei 2013

Single content advertisement top

SUARA lantunan ayat – ayat suci Al Qur‘anul qarim menderu disebuah surau tua yang beratapkan daun rumbia yang kian mulai lapuk, lantunan kalam Iahi pun semakin menderu bersamaan desah angin malam yang menyusup menembus sum – sum iga ku, begitu dingin seakan hujan salju menyirami Nanggroe Aceh Darussalam, padahal sepanjang catatan sejarah hal itu belum pernah terjadi hingga saat ini.

Tanpa sengaja lantunan Qari kecil itu  menyeruak dan menembus gendang telingaku serta mengobrak-abrik bunga mimpi yang hampir sempurna kurangkai.

Aku tersentak lalu bangun serta diam seraya mempertajam Sama’i, Aaah… itu pasti suara Qari atau hafizd kecil yang melantunkan Qalam Ilahi Rabbi di surau, Selarut ini ! …

Begitulah seruan yang ada di dalam benak ku seketika itu, bukankah bertadarus adalah hal yang biasa dimana umat Islam di seluruh dunia melakukan sesuatu yang disukai Tuhan? … Subhanallah, Maha suci Engkau Ya Rabb yang menguasai kerajaan langit dan bumi serta  tiada sekutu bagi Nya.

Walaupun demikian angan ku berkata, Andai saja hafizd kecil itu tidak menggunakan pengeras suara atau bila membacanya dengan suara indah alami, pasti tidak merusak lelapnya orang yangteridur pulas seperti ku, yang suaranya kadang- kadang mengalun serak bak  riak air laut yang mengandung Yodium yang pekat,  pasti akan menyejukkan batin dan  meluruhkan penat hingga tak membuat gejolak  amarah.

Biarpun malam terus merangkak dan angin malam seakan memberi isyarat untuk tetap berada di kehangatan kamar yang dibarengi dengan kasur yang empuk, tapi hasratku pun semakin bergelora tukpergi ke surau yang sederhana itu.

Dengan perlahan tapi pasti (itulah icon dan semangat Rider ketika melakukan operasi militer di Aceh) aku pun terus menganyunkan langkahku sambil menutupi tubuhku dengan kain sarung Wadimore yang sedikit membantuku dari kedinginan desir ingin malam yang menusuk serta menembus sumsum tulang – tulang iga ku.

Sungguh berkat alunan Hafizd kecil yang melengking dan terputus-putus di gerai angin malam itulah yang membuat aku semakin menyemangatkan ayunan langkahku walaupun sepanjang koridor jalan yang kutelusuri senyap, hatiku dilumuri perasaan tidak menyenangkan.

Tiba-tiba suara si Qari kecil  itu terhenti seketika. Akupun heran kenapa dia berhenti membaca Al Qur’an tanpa mengatakan Sadakallah Hul’azim.

Aku ingat betul saat itu tepatnya  ketika angin menghalau dedaunan meranti dan langit yang mendung mulai menyapu gemerlapnya bintang, hingga langit kian redup. Hatiku mulai gusar seiring rintik-rintik gerimis yang mulai membasahi bumi yang kian gersang.

Bocah itu, kukenal suaranya, lantunan iramanya mempunyai khas tersendiri tatkala di ambang senyap, perlahan dan kian mengecil. Lalu lantunan itu putus sekejap di saat begitu semangatnya ia bertadarus. Aaah,,, pasti ada sesuatu yang tak beres di tempat itu. Semakin cepat laju langkah melawan lautan gerimis yang kemudian berubah menjadi guyur hujan yang deras.

Setiba nya aku di tangga dan hendak masuk kedalam, tanpa melupakan sebubah kalimat

“ Assalammu’alaikum”! …

Yang artinya “Salam sejahtera atas mu“ dengan penuh sahaja sebagai tanda penghormatan ku kepada ahli – ahli syurga, mereka pun menjawab dengan kata

“ Wa’alaikumussalam”,

Lalu sesaat kemudian aku mendekati mereka dan berjabat serta menciumi tangan kakek yang disegani oleh kebanyakan masyarakat lainnya, bagaimana tidak dia adalah salah satu makhluk yang memepunyai ciri – ciri Waliyullah.

Dengan bersahaja pula sejumlah pertanyaan aku lemparkan dengan penuh rasa hormat walaupun volume nya melebihi dari tingginya nokhta rata- rata suara ku, maklum saja karena harus bersaing dengan suara microphone yang mengaum kencang. khususnya bertanya tentang sesosok anak kecil yang bertubuh mungil yang sedang rajin bertadarus itu.

Qari kecil itu memang rajin bertadarrus “Kata Teungku Imum” begitulah nama yang sering diucap oleh orang Aceh atau dengan kata lain tapi tetap senada yaitu dengan kata Imam Meunasah atau orang yang sekaligus Murakkap mempunyai jabatan menjadi Bilal, Mu’azin dan sekaligus menjadi Imam shalat.

Sungguh The right Man on The right Place, itu adalah kata yang pantas untuk kakek paruh baya yang bernama Tgk Imum Ahmadtersebut yang pekerjaan sehari – harinya sebagai petani. “ katanya Qari kecil yang bernama Lukman” dapat menyelesaikan bacaan lima sampai 3 juzz dalam semalam dengan penuh semangat.

Padahal Saban hari ia mencari sesuap nasi tanpa menghiraukan lelah dan dahaga menelusuri perempatan jalan yang berlampu merah, SPBU dan terminal – terminal kota bahkan sesekali waktu ia juga menelusuri gang yang sempit diantara deretan toko – toko yang megah, di tempat itulah ia menjadi pegawai tetap yang berpropesi sebagai Little Beggartuk di belas kasihani.

Lukman terpaksa berhenti sekolah karena harus mengais rezeki tuk mempertahan hidup bersama dua saudaranya yang masih kecil dan seorang nenek yang sudah renta yang penglihatannya mulai rabun bahkan kadang – kadang beliau tidak mengenal lagi cucu-cucu nya.

Peristiwa pilu itu terjadi bukanlah orang tua yang melahirkan tidak bertanggung jawab atas kesejahtraan hidup keluarga mereka, tapi kedua orang tuanya Raeb tanpa pusaradi masa Aceh berstatus Daerah Operasi Militer (DOM).

Walaupun demikian keteguhan, kegigihan dan ketabahannya patut di acungi bukan hanya dua jempol saja atau isapan jempol belaka tapi seharusnya ribuan appresiasi dari semua kalangan pantas untuk di anugrahkan Award supaya memperbaharui nasip nya yang tidak seindah dengan apa yang di impikan.

Bukankah dalam Al- Qur’an dan buku pedoman dalam berbangsa dan bernegara menyebutkan Anak Yatim Piatu dan anak- anak terlantar seta orang jompo di pelihara oleh Negara ? … kata – kata di atas bukanlah sebagai kritikan untuk orang yang tidak merasa, karena memang mata hatinya tidak beriman, bukan pula untuk orang yang mengaku mereka telah beriman, tetapi rangkaian kata – kata ini hanya untuk orang – orang yang mempunyai keteguhan iman saja.

Aku betul-betul malu sekaligus iri, karena aku yang sudah kuliah, belum mengkhatam Al Qur‘an satu kali pun. Pernah qari kecil itu menyapaku dengan suara lemah gemulai di meunasah seketika saya sedang duduk didekat nya sambil memperhatikan ayat – ayat yang di baca dengan penuh keihklasan, walaupun dia sendiri belum tau makna dari ayat yang dibacanya.

Maklum saja dia masih belum dewasa dan masihkekanak- kanakan karena memang baru beranjak belasan tahun, tiba – tiba entah darimana pertanyaan super dewasa itu keluar dari pikiran nya yang liar, dengan wajah yang penuh aura Malaikat, dia bertanya “Abang sudah berapa kali mengkhatam Alquran”? … begitulah sapaan biasa orang yang lebih muda terhadap yang senior“ maksud nya kepada yang lebih tua umurnya ”.

Aku pun hanya senyum dengan penuh perasaan malu sambil menepuk pundaknya dan menyarankan agar ia terus  menghafal, siapa tahu nanti akan jadi qari cilik tersohor sekaliber Rajif Fandi.

Tanpa enggan dan penuh penasaran dia langsung menanyakan dengan penuh cekatan “Siapa Rajif Fandi itu ? ”… Aku pun tidak mau kalah dengan anak yang tidak sekolahan “ begitu kata keren yang sering di proklamirkan oleh Tgk Haji Uma ” dalam sebuah film komedi Aceh yang berjudul “ Eumpang Breuh ”.

Sungguh ironis memang, Hafidz kecil itu adalah satu-satu nya bocah yang bertadarus hingga waktu tiba yang ditemani oleh kakek yang mampu menghafal sebagian ayat – ayat Al Qur’an walaupun beliau tunanetra yang usia nya suda mulai renta.

Sedangkan para pemuda sebagai Agent of change, mereka lebih betah bertadarus di warung kopi apalagi ketika Soccer Piala Dunia berlangsung secara bersamaan di bulan Ramadhan.

Ribuan bahkan jutaan harapan ku terbersit dalam jiwa, Andaikan letupan semangat seperti ketika bola menembus gawang dengan suara, Goal…Goal…Goal… andaikan semangat itu di aplikasikan di tempat tempat yang di rahmati oleh Sang Pemurah, pasti negri ini menjadi salah satu negri yang bertitle Taibatun waraffur Rahim.

Pada malam berikutnya walaupun sedikit gerimis, aku pun mencoba meramaikan majlis yang rindu dengan  cinta Ilahi Rabbi yang tidak menyerah pada segala keterbatasan.

Walau dalam remangnya lampu pijar, mata telanjang ku menangkap sesosok bayangan hitam yang termangu dengan isak tangis yang berirama sendu, diantara tangannya yang bertumpu di atas lutut menopang jidat. Sungguh jelas terlihat bajunya kuyup diterpa gerimis hujan dan air mata, lalu kudekati sosok manusia yang bertubuh mungil itu dengan hati-hati untuk memastikan apa yang terjadi dengannya.

Aku menyapa “Hafizd, kau kah menangis ?… dia menatapku denga Pipinya lebam dan rembesan air mata yang telah membasahi lesung pipinya. Barangkali ia agak tersinggung dengan ucapanku. “Maaf, kutahu pekerja kasar bukanlah anak cengeng. Maksudku apa kau sakit hati atas sapaan ku ini? ”tambahku”.

Mulut nya masih saja bungkam. Benakku berkata secara logis, mungkin ia sedang tak ingin berbicara, lalu kugengam tangannya dan kuajak pulang dengan menelusuri lorong gelap yang belum terfasilitasi saluran PLN.

Setiba didepan rumah nya gemuruh salam tetap tersapa walau di tengah sagup (kabut) malam yang pekat menyelimuti pandangan mata, kata ku“

Assalammu’alaikum”…

Sengaja aku lantunkan kepada nenek nya Lukman dengan harapan beliau akan menyahut salam ku itu dengan gegap gempita, namun yang menyahut kata,

Wa’alaikumsalam…

Itu justru manusia kecil yang berdiri dan yang kuantar tadi, tepat nya qari kecil itu sendiri. Lalu aku bertanya kenapa nenek mu tidak menjawab salam ku?,,, sembari nangis yang penuh isak, ia menjawab “ nenek ku sedang sakit dan tidak sanggup bersuara lagi”.

Aku tersentak dan kemudian tercengan ketika mendengar pemberitahuan itu, bagaimana tidak,,, jika diantara tetangga yang kaya raya dan serba berlebihan dalam segi materi, namun tidak ada satupun yang benar – benar peduli terhadap kesulitan yang didera oleh lukman dan keluarganya. Mungkin ini adalah salah satu tanda akhiruzzaman.

Sungguh, makhluk akhir zaman adalah makhluk – makhluk yang sangat keterlaluan, begitulah kata – kata yang ada dibenakku saat itu. Dalam hatiku bergema kalimah “Masya Allah”, seakan tidak percaya bahwa Erosi Moral kian hanyut diterpa oleh perkembangan zaman dengan menganut system Westernisasi.

Walaupun Di luar kabut semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, dan semua menjadi kabur tersaput butiran uapaan air yang memutih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku.

Tergambar lagi dalam benakku, yang dahulunya nenek yang gemar mendatangi majelis dan sering memberi siraman rohani kepada pendudduk kampung ini, namun kini tertidur lemas tanpa ada yang peduli.

Nenek yang bernama “Ummy Salamah” itu adalah sosok yang sangat taat beribadah dengan penuh tawadhu’ dan khusu’ beliau pun juga melakukan tahajud di tengah malam buta sebagai rutinitasnya dan sekaligus sudah puluhan kali mengkhatamkan alqur’an disepanjang tarik ulur nafas nya, dan itu merupakan hal sekaligus pemandangan biasa buat lukman sebagai cucunya.

Aah… tiba – tiba  teringat ibu di kampung dan semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan kiri ini. Sambil menanti kapan aku bisa berbakti dan juga mempunyai waktu untuk mengkhatam Al Qur’an nulkarim yang suci?…

Aku harap juga berharap Wajah ibu ku masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja, tapi ibu tidak terlihat tua, begitulah kata tetangga ku yang sering berbincang lewat handphone selular ku, tetanggaku mengatakan “ hanya saja ibu mu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya”.

Ingin aku berlutut disisi pembaringannya, “Ibu..aku akan pulang setelah ujian Final Semester ini, bu..”, gemetar bibirku memanggilnya walaupun dalam hati. Ingin aku raih tangan ibu ku perlahan dan mendekapnya didadaku.

Dan Ketika kucium tangannya, mudah – mudahan butiran air mataku bisa menjadi bukti, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.[]

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Perjalananku

Pemkab Aceh Timur Ingin Kembangkan Pariwisata Islami

Related posts
Your comment?
Leave a Reply