8:58 am - Rabu November 22, 2017

Puncak, Tempat Laris Bermesum di Malam Tahun Baru

361 Viewed Redaksi 0 respond

BUKAN  hal baru ataupun tabu jikalau tempat puncak adalah sasaran (tepat) untuk melakukan bermesum ria kala di malam pergantian tahun 2013 menuju tahun 2014.

Sudah pasti dari kawula muda, pasangan yang tidak sah maupun sudah kumpul kebo tidak terasa afdhol jika malam pergantian tahun baru tidak melakukan aktivitas esek-esek. Merayakan dengan memuaskan nafsu birahi.

Single content advertisement top

Ya, kecuali, jika itu pasangan sah, suami-istri dan selalu membawa surat nikah ketika ingin “berbulan madu” entah dimana saja. Itu tidak masalah. Dan yang menjadi masalah ketika melakukan hubungan badan (menyalurkan  syahwat)  itu bukan pada “tempat” yang sudah disahkan oleh agama maupun undang-undang pernikahan.  Ini yang sangat dilarang sekali!

Sepertinya hal itu tidaklah mempan bagi mereka yang memang sudah tertutup mata hatinya dengan “surga duniawi”. Melakukan hubungan layaknya suami-istri bukan pada orang yang bukan tepat. Alias, bukan mahramnya. Atau, orang yang sah untuk digauli.

Tetapi bagi mereka tidak afdhol menutup atau mengakhiri tahun 2013 ini tanpa melakukan seks. Apalagi jika sudah menyangkut seks bebas. Sudah pasti hal ini sangat disayangakan dan disesalkan. Betapa ironis dan mirisnya menutup tahun yang lama dengan kesenangan yang hanya sesaat.

Orang melakukan kenikmatan duniawian tidak mementingkan dosa?

Berdosa? Mana ada orang yang sudah “kebelet” memuaskan birahi tahu akan hal berdosa itu. Tahunya apakah nanti memuaskan, mencapai klimaks atau tidak saat bersenggama nanti. Itu yang ada dalam pikiran mereka.

Lagi-lagi jikalau itu dilakukan bagi pasangan sah, suami-istri yang sudah resmi baik dimata hukum agama maupun undang-undang pernikahan. Tidak apa-apa. Tidak bermasalah. Sampai gempor melakukan hal itu ya tidak apa-apa. Ini malah malah diwajibkan bahkan mengandung ibadah. Berbeda dengan pasangan yang tidak sah maupun sudah berkumpul kebo yang ada hanya dapat musibah! Entahlah.

Bukan hanya itu saja yang lebih mengelus dada lagi ketika menjelang malam pergantian tahun baru permintaan kondom di kawasan puncak, Bogor semakin meningkat. Banyaknya permintaan kondom. Penjualan kondom sekarang makin marak diperjual-belikan  di minimarket yang berada  jalan kawasan Puncak.

Seperti dilansir dari Aktual.co yang disampaikan oleh Evick Budianto, Wakil Sekjen PB Pemuda Muslim Indonsia pada Senin (30/12). “Aktifitas yang berbau maksiat di banding aktifitas yang berbau ibadah memang lebih banyak maskiat, “kita bisa melihat ramainya acara-acara pesta malam tahun baru di berbagai pusat-pusat kota dengan biaya yang mencapai ratusan juta atau bahkan di berbagai pelosok-pelosok desa sekalipun meski hanya dengan biaya yang alakadarnya. sangat jarang kita temukan jamaah di suatu masjid yang menggelar doa bersama misalnya.”

Apalagi seperti diketahui, alat kontrasepsi kondom dan pil KB pun laris manis bak kacang goring di saat menjelang perayaan malam tahun 2014 di sejumlah apotek dan tokoh obat. Ironis sekali.

Sejatinya Tahun Baru adalah moment yang tepat untuk merenung dan mengitropeksi diri

Sejatinya tahun baru adalah merupakan ajang perenungan atas apa yang sudah kita lakukan dan perbuat selama setahun. Mengapa hal itu harus dilakukan?

Yup, hari-hari yang telah berlalu dalam setahun, bukanlah tidak musykil bila mungkin terisi dengan penuh cacat. Dan untuk menghampuskan dan membersihkan hal itu. Tak lain yang perlu dilakukan adalah adanya sebuah perenungan mendalam atas apa yang diperbuat selama setahun. Menenung atas keerhasilan dan kegagalan, dan juga kesalahan atas perbuatan. Mungkin jalan yang terbaik untuk mengintropeksi diri.

Karena adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bagi siapapun. Itu dilakukan agar pergantian tahun baru tidak diindentikkan dengan bermesum ria, pesta pora menghabisakan uang yang tak sedikit. Minimal ya mengintropekso diri kita sendiri!

Marilah kita awali segala sesuatu apapun dengan maksud dan niat yang ikhlas dan berbaik sangka termasuk dalam menilai dan mengoreksi orang lain. Sungguh mulia bila kita sebagai makhluk Tuhan yang patuh dan taat agama. Apalagi apabila pandai mengevaluasi dan mengintropeksikan dirinya terlebih dahulu, sebelum dan mengoreksi orang lain.

Tidak adakan manusia yang sempurna? Nah, mulai pergantian tahun baru ini tentu kita harus lebih arif dan bijak. Baik menghadapi masalah di dalam maupun di luar. Harus tetap terjaga prilaku kita dimanapun agar selalu bijak. Asal ajangan bijaksana-bijaksini tanpa ada ketentuan jelas dan norma agama. (bung tebe/kompasiana)

Editor: Muhajir

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Istri Alm Uje Diundang Ceramah Ke Hongkong

Mengajarkan Musik Sejak Dini, Tidak Tingkatkan Kecerdasan Anak

Related posts
Your comment?
Leave a Reply