8:40 pm - Senin November 20, 2017

‘Pseudo’ Pendidikan

378 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh:  Sulaiman Ibrahim*

PENDIDIKAN adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan (Notoatmodjo. 2003 : 16).

Single content advertisement top

Sedangkan, Pseudo diartikan sebagai sebuah bentuk semu,palsu,bukan sebenarnya (artikata.com). Pseudo pendidikan dapat diartikan pendidikan yang sebenarnya semu yang dicoba poles sedemikian rupa agar terlihat nyata.

Pendidikan sebagai suatu kebutuhan bagi pembebasan intelektual dari fase kebodohan, begitu kata Paulo Freire, sehingga terasa sangat disayangkan jika didalam benak masayarakat kita masih terselip “untuk apa sekolah?” atau “sekolah hanya menghabiskan uang orang tua yang nantinya toh mencari pekerjaan juga”, namun inilah yang menjadi pemicu optimisme anak bangsa untuk tidak mengecap pendidikan.

Masih banyak anak bangsa ini yang menganggap lembaga pendidikan formal seperti sekolah umum, madrasah sampai universitas sekalipun hanya menjadi produsen yang menciptakan ribuan pengangguran setiap tahunnya.

Apa yang ada dibenak mereka bisa dibenarkan serta diiyakan, bahkan kita pastikan masih banyak institusi pendidikan begitu di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kurangnya intensitas dari pendidikan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat.

Padahal tujuan pendidikan nasional harus berimplikasi pada peserta didik secara aktif dalam mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU Sisdiknas, Nomor 20 Tahun 2003)

Namun, saat ini pendidikan seakan tidak lagi menciptakan anak didik yang keratif, inovatif serta produktif melainkan menciptakan calon “kutu-kutu jalanan” yang siap menggerogoti segala kebutuhan masyarakat untuk dirinya.

Bagaimana tidak, dalam mendidik sangat dibutuhkan guru yang terampil, yang memiliki seribu cara dan ide, hingga mencapai keberhasilan dalam aspek kognitif, afektif dan konatif.

Tetapi apabila ide dan cara yang dimiliki itu bukanlah datang dari sosok guru yang memiliki kecakapan dan professionalitas? tentu didikannyapun tidak akan mampu mencapai tujuan, bahkan mirisnya hanya akan menjadi “mesin copy berjalan” sehingga dalam implementasinya akan salah kaprah.

Belum lagi sirna persoalan pendidik yang tak becus dalam mendidik, muncul lagi masalah Mahkamah Konstitusi menolak permohonan uji materi UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, terkait Pasal 9: “kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat”.

Gejala ini terus menghantui dunia pendidikan Indonesia, karena pasal itu memberikan ketidakpastian pada profesi guru yang bersifat khusus bagi pemegang gelar sarjana pendidikan yang dihasilkan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Dengan keputusan MK ini, sarjana apa pun bisa jadi seorang guru pada saat ini. Sangat disayangkan!

Penulis setuju dengan apa yang dikatankan Rumongso dalam tulisannya “Guru bukanlah Profesi Sampah” (Kompas,31/3). Tidak semua bidang ilmu sama, Pendidikan juga merupakan satu bidang yang khusus dimana pembelajaran sangat bersentuhan dengan karakter dan pedagogis.

Gambaran suramnya pendidikan ini dikhawatirkan akan berdampak semakin tidak bagusnya pada hasil dari pencapaian tujuan pendidikan yang kita harapkan, seolah-olah pendidikan itu hanyalah hal sepele yang tidak patut diperhatikan, cukup dijlankan sekedarnya tanpa ada inovasi serta penyesuaian dan peningkatan mutu sejalan dengan perkembangan zaman.

Namun disisi lain, kita coba menepis jauh-jauh pemikiran yang demikian. Seyogyanya kita tidak lagi bertanya mengapa pendidikan ini tidak maju atau tertingal jauh dari negara-negara lain, namun kita coba lakukan aksi bagaimana melakukan perubahan.

Validasi ilmu Pendidikan

Prosedur ilmiah memberi informasi mengenai dunia empiris yang divalidasi degan cara diterima/ditolak bila sesuai atau tidak sesuai dengan displin ilmu, tetapi memberikan penjelasan tentang apa yang harus dilakukan dalam aplikatif, sehingga validasi ilmu pendidikan harus menunjukkan kesimpulan yang argumentative dan konsisten.

Namun jika pendidikan hanyalah sebagai “topeng monyetnya” pemerintah yang asyik memolitikkan dunia pendidikan dari masa ke masa laksana sulap ‘sinsalabin’, jadi, maka jangan harap akan terjadi perubahan signifikan.

Setiap kita punya tugas masing-masing yang harus dilakukan untuk memajukan bangsa ini, terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai pendidik untuk dapat megawal perubahan melalui pendidikan yang sesuai dengan apa yang tercantum dalam UUD 1945, sehingga baying-bayang pendidikan dengan perlahan akan terlihat jelas.

Sebab pada dasarnya pseudo pendidikan merupakan pembodohan yang harus terus dikikis sampai tak berbekas pada dunia pendidikan Indonesia karena pendidikan bukanlah milik si kaya, bukanlah milik pengusaha namun semua kita berhak memilikinya.[]

Penulis: Ketua Umum Senat Mahasiswa Tarbiyah  STAIN Malikussaleh Lhokseumawe

News Feed
Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Meraih Pahala Qurban

Larangan Jilbab: Dunia Pendidikan Bali Lempar Bola Panas

Related posts
Your comment?
Leave a Reply