5:11 pm - Selasa November 21, 2017

Prospek Pengembangan Pariwisata Religius di Aceh

748 Viewed Redaksi 0 respond
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (image: esq-news.com)
Anismar (foto: dok.pikirreview)

Anismar (dok.pikirreview)

Oleh: Anismar, S.Ag., M.Si*

PROVINSI Aceh terkenal sebagai daerah yang memiliki keunikan, kekhususan dan keistimewaan dalam bidang agama, pendidikan, budaya serta potensi alamnya yang indah, siap untuk dikembangkan menjadi sebuah objek wisata yang menarik untuk dikunjungi, sehingga Aceh dulu  terkenal dengan sebutan “Kota Tamaddun”, “Kota Maritim”, “Kota Keilmuan”, dan “Kota Spiritual”. Tetapi sekarang sebutan itu sudah jarang terdengar.

Selain itu, Aceh berbatasan dengan provinsi Sumatera Utara yang merupakan pintu masuk wisatawan manca negara untuk Sumatera wilayah Barat. Dengan demikian, dari letak geografis Aceh sangat berpotensi dikembangkan menjadi sebuah tujuan wisata yang terkenal di tanah air.

Single content advertisement top

Gagasan Wisata Religi di Aceh

Konsep pariwisata religius adalah sebuah ide yang sebelumnya telah dikembangkan oleh mantan Gubernur Aceh, Prof. Ibrahim Hasan dan Prof. H. A. Hasjmy sebagai ketua MUI saat itu. Kebijakan ini diambil setelah melihat nilai keistimewaan Aceh yang terdiri dari tiga keistimewaan, yaitu bidang Agama, Pendidikan dan Budaya.

Atas dasar ini, maka dalam kehidupan masyarakat Aceh terdapat falsafah: “Adat bak Poteu Meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Lakseumana”. Jiwa adat dan budaya sejalan dengan agama Islam sampai sekarang masih dihayati oleh masyarakat Aceh pada umumnya.

Menurut Kaoy Syah (2000:18), konsep pengembangan pariwisata religius pada masa pemerintahan Prof. Ibrahim Hasan dan Prof. H.A. Hasjmy sebagai Ketua MUI, sudah berjalan pada tahap yang serius. Dan ini dibuktikan dengan dilaksanakannya seminar internasional tentang pariwisata di Aceh, yang menghasilkan sejumlah keputusan yang diambil untuk pengembangan pariwisata religius, seperti; promosi, merehabilitasi sejumlah obyek-obyek wisata yang dianggap potensial, merencanakan membangun pesantren wisata untuk mendidik tenaga-tenaga potensial, yang dipekerjakan pada sejumlah obyek wisata, baik sebagai tenaga guide, bekerja di bandara, dan di pelabuhan serta bahkan juga dipersiapkan sebagai tenaga Polisi Syariah (Wilayatul Hisbah). Saking seriusnya, pemerintah daerah saat itu sudah mempersiapkan dana khusus untuk mendukung program tersebut.

Namun sangat disayangkan konsep pariwisata religius yang telah direncanakan itu tidak berjalan maksimal, karena selain terjadinya proses pergantian gubernur Aceh Prof. Ibrahim Hasan kepada Prof. Syamsuddin Mahmud, juga disebabkan perkembangan suhu politik Aceh saat itu semakin memanas. Sedangkan pada masa kepemimpinan Gubernur Ibrahim Hasan, kondisi Aceh saat itu masih stabil dengan diberlakukannya Daerah Operasi Meliter (DOM).

Setelah kesepakatan penghentian permusuhan antara RI-GAM tercapai, tepatnya pada tanggal 15 Agustus 2005 dan dengan disahnya Qanun Nomor 11 tahun 2002 tentang Syariat Islam di Aceh, maka eskalasi suhu politik di Aceh berubah drastis.

Dulu obyek-obyek wisata terpaksa ditutup, sekarang sudah normal kembali, tempat-tempat penginapan (hotel, losmen, dan pondok wisata) sudah mulai terisi lagi, wisatawan yang berkunjung ke obyek-obyek wisata di Aceh sudah berjalan normal tanpa keraguan lagi. Malah ada beberapa obyek wisata pasca tsunami menjadi perhatian khusus untuk dikunjungi. Sehinga Aceh menjadi salah satu tujuan kunjungan wisatawan manca negara. Ini menjadi sebuah potensi yang harus diperhatikan secara serius oleh pemerintah dan masyarakat.

Tidak cukup dengan potensi alam dan stabilitas suhu politik saja yang harus diperhatikan oleh pihak-pihak terkait, tetapi ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya yang harus diperhatikan secara serius, diantaranya: kelancaran transportasi, asap karena pembakaran hutan, pelayanan terhadap turis, pondok penginapan yang belum memadai, obyek-obyek wisata yang kotor, makanan yang membosankan, taman laut yang dihancurkan didepan mata turis, semua itu menjadi bahan promosi negatif yang sangat kuat.

Kemudian intern pemerintah sendiri, diantaranya: sangat sedikit anggaran yang disediakan dibidang pariwisata, kurang kerja sama antar instansi pemerintah yang menangani bidang terkait, kurangnya sumber daya manusia terutama dalam bidang pariwisata religius,  serta kurangnya terobosan pemerintah untuk menghadirkan investor luar untuk menanam sahamnya dalam bidang pariwsata. (Hasjmy, 1983: 11).

Berkaitan dengan pariwisatawa religius, Serambi Indonesia (18/10), juga melansir bahwa Badan Legislasi (Banleg) DPRA akan membahas Rancangan Qanun tentang wisata Islami. Pasalnya, kehadiran qanun tersebut sangat penting untuk menjamin aturan wisata islami di Aceh.

Lebih bijaknya, Badan Legislasi (Banleg) DPRA sebelum menetapkan sebuah qanun terutama tentang pengembangan pariwisata religius di Aceh, perlu dilakukan masukan-masukan dari yang berkompeten sehingga qanun yang dilahirkan mampu dicerna oleh masyarakat pada umumnya.

Hal ini penting untuk bisa tereujudnya konsep pariwisata yang religius (islami). Apalagi konsep pariwisata religius yang dipahami banyak orang hanya berkisar  tempat-tempat obyek wisata harus ada tempat ibadah (tempat shalat), dan tidak melakukan hal-hal yang melanggar nilai-nilai agama atau budaya masyarakat setempat.

Padahal dalam konsep pariwisata religius itu terdapat beberapa konsep, diantaranya: Religius berdasarkan Syariat Islam atau religius berdasarkan Pancasila? Kedua konsep tersebut sangat berbeda isi Qanunnya.

Marpaung (2002: 217), menyebut Indonesia sebagai salah satu negara yang penduduknya beragama Islam terbanyak di dunia, dan secara otomatis pola kehidupan masyarakatnya juga bernuansa Islam, walaupun dasar negara Indonesia bukan berasaskan Islam.

Kalau dilihat dari program pariwisata yang dikembangkan selama ini, kita kenal dengan istilah program Sapta Pesona, diantaranya Pesona Aman, Pesona Tertib, Pesona Bersih, Pesona Sejuk, Pesona Indah, Pesona Ramah Tamah, dan Pesona Kenangan, tidak ada disitu ada kata-kata pesona Islam. Ini menunjukkan peran agama  dalam program pariwisata dikesampingkan.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia tentang Pokok-Pokok Kepariwisataan pada azaz dan tujuannya (pasal 2) ada unsur meningkatkan rasa takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu:

  • Meningkatkan rasa takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan nasional
  • Meningkatkan rasa cinta tanah air dan persatuan nasional
  • Menumbuh serta meningkatkan rasa kemanusiaan, dan semangat persaudaraan atas persamaan dan
  • Memperluas lapangan kerja serta kesempatan berusaha.

Tetapi penerapan di lapangan sama sekali tidak terlihat peran dari point (a) tersebut, malah yang terjadi di lokasi wisata, orang yang mandi dengan membuka aurat (hanya memakai celana dalam saja), orang pacaran dengan bermesra-mesraan, tidur di kamar hotel bukan dengan muhrimnya, sama sekali tidak ada keamanan yang mengawasinya, malah terkesan dibiarkan.

Sebenarnya, kalau kita lihat kepada tradisi, kita akan bisa menjumpai nilai-nilai yang dapat dijadikan titik tolak pengembangan budaya pariwisata. Bahkan ajaran Islam merupakan unsur yang bisa berkembang ke arah kegiatan pariwisata. Sebagai contoh Islam mengajarkan agar manusia mengamati alam semesta yang akan menimbulkan kekaguman terhadap keindahan alam, sebagaimana dalam hadist Rasulullah SAW yang artinya:

“Tiga hal yang menjernihkan pandangan, yaitu: menyaksikan pandangan yang hijau lagi asri, dan pada air yang mengalir dan pada wajah yang rupawan” (H.R. Ahmad).

Selanjutnya, Islam juga mengajarkan agar antara suku-suku dan bangsa-bangsa terjadi komunikasi sehingga manusia bisa mengenal diantara sesamanya, walaupun berbeda warna kulit atau asal keturunannya. Mengenal bukan saja melihat bentuk fisik seseorang. Kita bisa mengenal baik orang lain melalui kebudayaan dan adat-istiadatnya.

Islam mengajarkan pula agar manusia berlayar dan menyebar ke bagian-bagian dunia lain, tidak saja untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk mengamati segala ciptaan Tuhan. Suruhan-suruhan itu dengan sendirinya akan menimbulkan budaya berwisata. Tetapi, agar kegiatan berwisata bisa dilakukan, perlu ada fasilitas dan pelayanan.

Prospek Wisata Religi di Aceh

Ada banyak program Dakwah Islamiah dan pembinaan umat telah disosialisasikan selama ini oleh lembaga-lembaga tertentu, hasil dari program tersebut sampai sekarang belum begitu terasa terutama terhadap masyarakat yang memanfaatkan jasa kepariwisataan. Akibatnya, pembangunan pariwisata di Aceh secara umum terkesan banyak membawa mudharat daripada manfaat.

Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya tempat-tempat penjualan minuman keras, pengguna narkoba, pola pergaulan remaja yang begitu bebas, pekerja seks komersial (PSK) teridentifikasi ditempat-tempat tertentu di beberapa daerah di Aceh. Dengan kondisi ini bisa jadi akan membentuk persepsi dan image di realitas sosial bahwa dengan pembangunan pariwisata berarti memberi kesempatan untuk berbuat maksiat, terutama terhadap pengguna jasa pariwisata.

Pada akhirnya terimbas pula kepada masyarakat luas, yaitu berwisata hanya untuk mencari kesenangan dengan dilengkapi unsur-unsur seks, pergaulan bebas antara sesama wisatawan, wisatawan dengan masyarakat, dan atau sesama anggota masyarakat itu sendiri. Selain itu, para wisatawan yang datang ke suatu tempat wisata, juga menawarkan nilai-nilai budaya yang ada di daerahnya, yang nilai-nilai budaya tersebut tidak semuanya sejalan dengan nilai-nilai budaya masyarakat setempat.

Oleh karena itu dalam pengembangan pariwisata di Provinsi Aceh saat ini masih memerlukan keterpaduan yang saling terkait terutama pada sektor perhubungan didalam perencanaan pengembangan objek dan daya tarik wisata yang disesuaikan dengan kemampuan setiap daerah memperhatikan kondisi pengembangan pariwisata saat ini, memerlukan pedoman dan arah lebih lanjut sesuai dengan kemampuan dan prioritas pengembangan pariwisata.

F.Ross (1998: 23), menyatakan seharusnya dalam pengembangan pariwisata bukan saja dapat memberikan satu kenikmatan kepada para wisatawan dan kesejahteraan bagi penduduk di daerah tujuan wisata. Karena itu pariwisata jangan hanya dinilai dari investasi yang dilakukan atau dari devisa yang dihasilkan.

Tetapi juga perlu ditinjau dari sudut lain, misalnya kedalam pembangunan pariwisata religius itu terciptanya ukhwah islamiah yang kuat antara wisatawan, guide dan masyarakat sekitarnya. Kemudian wisatawan mengerti dan memahami seluk beluk agama Islam yang sebenarnya. Jangan dianggap Islam ini sebagai agama teroris, kejam, kuno dan anggapan miring lainnya yang bersifat “non-moneter”.

Disarankan, dalam upaya pengembangan pariwisata Aceh ke depan dan program pariwisata  tidak menjurus ke hal-hal yang negatif (dilarang oleh agama) maka pemerintah harus melibatkan setiap komponen tekait serta perlu dibuat aturan-aturan yang baku, sehingga segala aspek yang terkait dalam kegiatan kepariwisataan harus mengandung nilai-nilai keagamaan (Islam), diantaranya :

  1. Jasa Akomodasi; dipintu hotel (penginapan) tertulis kalimat-kalimat dakwah, misalnya: “Islam menghormati tamu, Jagalah kebersihan karena kebersihan setengah dari iman, Sudahkah anda shalat?  Dan banyak kata-kata dakwah lainnya yang bisa dipakai. Kemudian di dalam kamar dibuat aturan yang tidak membolehkan pihak wisawan melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma agama dan adat-istiadat masyarakat.
  2. Jasa Transportasi; dalam perjalanan wisatawan menginginkan kenyamanan dan kepastian, untuk itu perlu ada aturan yang jelas tentang tarif angkutan baik darat, laut dan udara. Bila memungkinkan Pemerintah menyediakan jasa transportasi khusus untuk wisatawan sehingga lebih terjamin kenyamanannya.
  3. Guide; guide yang dipilih adalah yang telah dibina tentang pengetahuan agama dan pengetahuan umum, mereka mendapat pendidikan khusus di pesantren wisata. Sehingga dapat menjelaskan kepada wisatawan setiap persoalan-persoalan masyarakat yang dilihat langsung oleh wisatawan sendiri, sembari menyampaikan nilai-nilai dakwah pada wisatawan sehingga image wisatawan terhadap Islam positif, bukan seperti yang mereka terima selama ini, Islam identik dengan kekerasan, teroris dan hal-hal negatif lainnya.
  4. Obyek-obyek wisata; dipintu masuk obyek wisata tertulis ketentuan-ketentuan tertentu dan pihak pengelola obyek wisata diwajibkan menampilkan kesenian-kesenian daerah yang identik dengan nilai-nilai keislaman.
  5. Jasa kesehatan dan keamanan; khusus di tempat-tempat tertentu, misalnya di daerah kepulauan yang rawan dengan nyamuk malaria perlu disediakan klinik-klinik kesehatan atau penempatan tim kesehatan khusus yang siap menjaga kapan saja diperlukan. Kemudian tempat-tempat yang dianggap rawan pencurian, ombak besar, perlu ada tim keamanan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
  6. Iklan, brosur, (promosi); harus diisi dengan bahasa-bahasa dakwah (bijaksana). Dicantumkan ayat-ayat Al-Quran dan hadist yang sifatnya menyenangkan kebersihan, pentingnya hubungan silaturrahmi untuk menimbulkan sugesti bagi si pembaca.
  7. Media wisata; media ini harus dikelola secara profesional sehingga dapat mempekerjakan sejumlah karyawan yang terambil, mengerti tentang ilmu komunikasi islam. Selain sebagai sumber informasi juga dapat digunakan sebagai misi dakwah, misalnya menguraikan tentang obyek-obyek wisata tsunami, mesjid-mesjid kuno, situs-situs kerajaan nusantara dan lain-lain.
  8. Lembaga pendidikan wisata; pada lembaga ini terdiri dari lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan agama. Pada kedua lembaga pendidikan ini diharapkan dapat melahirkan sarjana-sarjana pariwisata yang profesional yang dapat bekerja pada sejumlah tempat wisata, diantaranya sebagai guide, polisi syariah (Wilayatul Hisbah), pelayan-pelayan hotel, pegawai bandara, pegawai pelabuhan dan sebagainya, sesuai keahlian masing-masing. []

 

*Penulis adalah Kepala Pusat Studi Pariwisata dan Budaya Aceh Universitas Malikussaleh Lhoksuemawe. Email: anismartgk.meukek@yahoo.co.id

Editor: Safta

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
Refleksi Milad HMI ke 67

Refleksi Milad ke-67: HMI Sebagai Harapan Masyarakat Indonesia

Sakit Jiwa

Sakit Jiwakah Kita ?*

Related posts
Your comment?
Leave a Reply