9:08 pm - Sabtu November 18, 2017

Perjuangan Tanpa Henti di Dunia Yang Menggenaskan

811 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh: Arafat Nur 

SUDAHKAH Anda membaca novel karya Mo Yan yang cukup mengentak; Big Breasts and Wide Hips? Novel baru dan segar yang berlatar kisah nyata ini meraih Hadiah Nobel Sasta 2012 yang diterima penulisnya lima bulan lalu di Stockholm, Swedia.

Kali ini pembaca Indonesia cukup beruntung, sebab tujuh bulan sebelum Mo Yan dinyatakan berhak atas hadiah paling bergensi itu, Big Breasts and Wide Hipssetebal 750 halaman ini telah diterjemahkan oleh Penerbit Serambi dan buku ini mengalami cetak ulang pada saat novel Lampuki (Serambi, Mei 2011) diterbitkan.

Lazimnya karya-karya penerima Nobel tidak segera bisa dinikmati oleh pembaca di Tanah Air, bahkan banyak karya berkualitas dunia sampai sekarang belum lagi diterbit dalam edisi Indonesia atas berbagai alasan, dan salah satu kendala utamanya adalah masyarakat Indonesia sendiri yang tidak terlalu berminat, tidak memiliki kecerdasan untuk menikmatinya.

Single content advertisement top

Saat menerima Nobel, Mo Yan,57, berujar, “Kalau mau, Anda boleh melewatkan novel-novel saya yang lain, tetapi Anda wajib membaca Big Breasts and Wide Hips. Dalam novel ini saya menuliskan tentang sejarah, perang, politik, kelaparan, agama, cinta, dan seks.”

Memang novel ini sangat beda, bahkan judulnya pun sangat ganjil dan terkesan luncah, sehingga untuk ukuran masyarakat Indonenia sangat tidak layak menerjemahkannya. Mungkin atas pertimbangan itu pula, pihak penerbit tetap memasangkan judul dalam bahasa Inggris, bukan sekadar bermaksud untuk gagah-gagahan.

Novel ini mengisahkan seorang perempuan bernama Shangguan Lu (nama kecilnya Xuan’er) di Kota Gaomi Timur Laut yang berjuang bertahan hidup dan mati-matian berupaya membesarkan sembilan anak dan enam cucunya di tengah kelaparan yang mendera, deru perang, huru-hara pemberontakan, dan kekacauan politik yang kerap berimbas padanya.

Pada saat kanak-kanak hingga tumbuh remaja, karena tidak memiliki kedua orangtua, Shaguan Lu diasuh bibi dan Paman Cakar Besar. Dia menikah dengan keluarga pandai besi, mendapatkan mertua perempuan yang sangat kejam. Dia kerap dipaksa kerja keras di ladang, jarang diberi makan, dan acap kena pukulan, bahkan kepalanya sering kena hantam palu dan benda keras lainnya sampai mengeluarkan darah kental.

Shangguan Shouxi, suami Sangguan Lu adalah lelaki mandul yang tidak mengetahui dirinya mengidap penyakit ini. Dia punya tabiat kejam, pemalas, dan selalu tergantung pada sang ibu yang sangat berkuasa. Bahkan bapak mertuanya ini pun tunduk seperti budak pada si ibu mertua yang suka mengatur dan memerintah.

Shangguan Shouxi selalu menyalahkan istrinya karena tidak bisa memberikan anak. Suatu malam, saat mereka berdua berada dalam bilik, sang istri menyatakan bahwa tidak ada yang salah pada dirinya. Si suami langsung mencela, “Ayam betina yang tidak bisa bertelur menyalahkan ayam jantan!”

Ketika perkawinan sudah berlangsung dua tahun, Lu pulang berkunjung ke rumah bibinya dengan sangat menderita; tubuh lemah, banyak luka lembam, baju koyak-koyak, dan buntalan kain kumal. Bibinya naik darah, muncul rencana liar, memberikan tuak untuk suaminya, si Cakar Besar dan keponakannya sendiri. Saat bangun keesokan harinya, salah satu cakar paman ini berada di dadanya yang tanpa busana.

Dari benih itu lahirlah Kakak Pertama, Laidi, yang membuat Sangguan Lu lebih dihargai oleh suami dan mertuanya. Lantas benih dari asal orang yang sama pula lahirlah Kakak Kedua, Zhaodi. Namun, keluarga pandai besi ini sangat mengharapkan hadirnya anak lelaki sebagai penerus, yang akan minimbulkan rasa bangga dan menaikkan derajat keluarga.

Karena tidak sanggaup tahan lagi, Sangguan Lu pun berusaha mendapatkan benih anak lelaki dengan cara menjaling hubungan gelap dengan sejumlah lelaki. Dari hasil hubungannya dengan pedagang itik keliling lahirlah Kakak Ketiga, Lingdi, yang kemudian dikenal sebagai Peri Burung. Dengan seorang dokter keliling lahirlah Kakak Keempat, Xiangdi. Kakak Kelima, Pandi, lahir dari hubungan dengan penjagal anjing. Kakak Keenam, Niandi, adalah hasil hubungan dengan biarawan bijak dari Biara Tianqi. Kakak Ketujuh, Qiudi, lahir dari hasil perkosaan empat tentara desertir.

Karena anak yang lahir adalah perempuan melulu, Saguan Lu, kembali tidak dihargai dan diperlakukan layaknya budak yang selalu kena hantam. Di saat sedang hamil tua dia masih saja dipaksa bekerja, tidak diberikan makanan yang cukup, dan kerap kena hantam benda keras.

Malahan saat melahirkan terakhir kali, yaitu anak dari hasil hubungan gelap dengan seorang misionaris Swedia, Pastor Malory, yang melahirkan anak kembar; Kakak Kedelapan, Yunu (yang lahir dalam keadaan buta) dan Jintong (satu-satunya anak lelaki), suami dan mertuanya malah sibuk mengurusi keledai yang melahirkan pada saat sama. Mereka membiarkan Sangguan Lu melahirkan sendiri, yang lebih menyedihkan dari seekor binatang.

Pada saat itu pula sejumlah tentara Jepang telah mengepung rumah dan kampung itu. Setan-setan Jepang ini menembaki siapa saja yang mereka lihat dan mereka temui, termasuk seluruh keluarga Sangguan yang sedang berada di halaman rumah, kecuali ibu mertuanya yang kemudian mendadak pingsang. Ketika siuman dia meremas-remas kotoran keledai dan menjadi gila untuk selamanya.

Tatkala sejumlah tentara Jepang ini telah membunuh ratusan penduduk—termasuk bibi dan Paman Cakar Besar, dukun beranak yang baru datang—mereka pun melihat Sangguan Lu di atas kang (lantai tempat tidur khas China) setengah pingsan, lalu seorang dokter militer membantu persalinan itu. Seorang tentara memotretnya yang keesokan harinya terbit di surat kabar negara mereka dengan sebuah berita yang menyatakan telah terjalin hubungan baik antara Jepang dan China.

Dari sudut pandang Jintong inilah cerita mengalir; bagaimana susahnya Ibu (Sangguan Lu) membesarkan anak-anak dan cucu-cucunya di tengah kemiskinan, dinginnya salju yang mematikan, perang celaka yang tak henti-henti menghempiri, ancaman maut dan kelaparan, sampai-sampai sang ibu terpaksa menjual Kakak Ketujuh, Qiudi, pada seorang perempuan Rusia. Kelak anak ini mengganti namanya menjadi Qiau Qisha, sempat bekerja dipeternakan bersama Jintong, tetapi dia mati kelaparan sebelum sempat bertemu ibunya.

Sementara itu untuk menyelamatkan kelaparan keluarganya yang tak tertolong lagi, Kakak Keempat, Xiangdi, terpaksa menjadi pelacur. Dialah yang menyelamatkan sakit Ibu dan memeberi makan adik-adiknya. Xiangdi tidak beserta ibu dan saudaranya ketika perang silih berganti berkecamuk, malahan dia terlupakan dalam keluarga itu, hingga pada suatu hari dia kembali dengan tumpukan perhiasan serta penyakit spilis yang mengakibatkan tubuhnya membusuk. Nasibnya lebih buruk dari semua anggota keluarga yang pernah mengalami kejamnya perang.

Putri-putri Sangguan ini dikenal sebagai anak-anak yang paling menderita dan juga paling keras kepala, pembangkang, dan nekat. Anak-anak ini juga menikah dengan para tokoh pejuang; Laidi dengan Sha Yueliang, Komandan Pasukan Senapang Keledai, yang berperang dengan Jepang 1937-1945. Zhaodi menikah dengan Sima Ku, Komandan Pasukan Anti Jepang. Sima Ku sebelumnya mempunyai tiga istri, tetapi masih saja tetap suka menjalin hubungan gelap dengan perempuan mana saja.

Selain itu Lingdi (Kakak Ketiga) menikah dengan Sun Gugu, lelaki yang kemudian menjadi cacat oleh perang; berjalan dengan menggunakan tangan karena kedua kakinya telah tanggal. Dia punya kedudukan terhormat di jajaran militer, sangat nasionalis, pemabuk, dan berprilaku sangat kasar. Seusai perang dia kembali pada kekeluarga Sangguan, dengan agak memaksa menikahi Laidi (Kakak Pertama) yang telah janda. Tak lama kemudian lelaki ini mati di tangan istrinya sendiri yang berselingkuh dengan Han si Manusia Burung, dan kemudian Laidi dihukum mati.

Pandi menikah dengan Lu Liren, pejabat politik partai komunis dari Batalyon Penghancur. Hanya Pandi saja yang punya haluan politik berbeda dari anggota keluarga lainnya, dia dianggap pengkhianat dan tidak diakui sebagai keluarga Sangguan. Dia mengubah namanya menjadi Ma Ruilian setelah berdirinya Republik Rakyat China. Kelak anak perempuannya, Lu Shengli menjadi Walikota Dalan. Tatkala jatuh, Shengli menjalani hukuman mati atas kasus korupsi.

Sementara Jintong—satu-satunya anak lelaki dalam keluarga Sangguan yang terkenal ini—sekalipun cerdas, justru dia amat lemah, penakut, dan selalu mengalami nasib sial. Semasa bayi dia paling rakus dengan air susu, sampai usia sembilan tahun dia masih belum mau melepas puting susu Ibunya, tanpa sidikit pun dia bersedia menyentuh makanan, sehingga tubuh Ibu menjadi kering.

Lantaran ibunya sendiri hampir mati karena susunya diisap terus, maka kemudian dia menyusu langsung pada kambing betina. Sampai usia 18 tahun dia hampir tidak bisa menghentikan kebiasaan ini, dan pada usianya yang ke 42 tahun, dia masih juga gemar meminum susu manusia. Hampir sepanjang hidupnya selalu menderita, kecuali sekali waktu kala dia menjadi Pangeran Salju dan mempunyai tugas menyenangkan, yaitu memegangi ratusan dada perempuan setiap harinya, baik yang gadis maupun yang sudah bersuami.

Waktu kanak-kanak dia mengalami penyekapan bersama keluarganya, saat sekolah dia hampir terbunuh oleh anak-anak yang dengki padanya, di usia remaja dia dituduh memperkosa dan membunuh seorang perempuan bernama Komandan Long yang sesungguhnya tidak dia lakukan. Selepas menjalani kerja paksa dan penyiksaan selama 15 tahun dalam penjara, dia kawin dengan seorang janda yang lantas merampas seluruh harta dan melecehkannya.

Semua anak-anak dalam keluarga Sangguan ini mati secara mengenaskan sebelum ibu mereka yang tinggal seorang diri meninggal dalam keadaan buta di usia yang sangat tua. Sangguan Lu seolah-olah dilahirkan ke dunia ini hanya untuk membesarkan anak-anak dan cucunya, tanpa mereka semua sempat membalas jasa untuk mengurusi dirinya di kala tua. Bahkan anak-anak itu mati lebih dulu sebelum dirinya.

Hanya Jintong seorang yang hidup dengan nasib yang tidak menentu di tengah Kota Gaomi Timur Laut yang kini sudah berubah sangat maju dengan gedung-gedung pemerintahan, hotel, bank, supermaket, pabrik dur ulang, pabrik obat, pabrik kimia. Sedangkan saudara kembarnya, Yunu, tidak diketahui nasibnya bagaimana. Dia pergi diam-diam meninggalkan rumah saat usia belasan tahun, karena menganggap dirinya hanya menjadi beban keluarga.

Kisah dalam novel ini memang amat memukau, amat mengejutkan, penuh dengan lika-liku, dunia yang begitu keras dan kejam, sarat penderitaan, ironi, dan penuh dengan perilaku menyimpang orang-orang jahat, nafsu serakah, balas dendam, perselingkuhan, dan penindasan oleh pemerintah. Diceritakan dengan detil yang baik, jernih dan gamblang, terdapat humor di sana-sini, dan juga memicu emosi. Sebuah novel yang sangat kaya dan sungguh sayang bila dilewatkan! []

Penulis: Penulis buku, Sastrawan dan Analis Masalah Sosial Budaya Kontemporer, Tinggal di Kota Lhokseumawe

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Kegalauan Komunikasi Politik jelang Pemilu 2014

Related posts
Your comment?
Leave a Reply