3:11 pm - Selasa November 24, 9074

Perjalananku

329 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh: M. Ilyas | 28 April 2013

DI terik siang, aku memuai Serupa menggala tengah hari. Aku kulai ditindih cerita tentang embun yang harus pulang ke relung awan. Ziarahku tiba-tiba membuat badanku terasa merinding. Aku tak kuasa melarang airmata tumpah ketika memandang bangunan yang dibungkus lumut.

Single content advertisement top

Jika hanya sunyi yang meleleh, aku dapat mengajak pikiranku menyusuri kembali kisah-kisah lama, mengupas kenangan, ketika aku dan ratusan teman-teman mengakrabi kitab-kitab, balai dan dan bilik di pesantren ini. Tapi tidak hanya sunyi yang kutemukan. Aku juga menuai sakit.

Di pintu gerbang yang di sisi atasnya tumbuh sebatang pohon mangga, lumut hijau menjalar angkuh. Dari berbagai arah, gumpalan lumut yang lain merangkak perlahan seperti mau menggulungku.

Ketika kukayuh langkah menuju peristirahatan terakhirmu, kurasakan teduh matamu menikamku. Aku tak sanggup menepis bayangmu yang hadir bersama tumpukan kenangan.

Ada suara-suara yang ngiang di selaput gendang: gemuruh amin kala kau mendoakan kami; riuh tanya-jawab di lokal; keprihatinanmu terhadap masyarakat di sekitar pesantren yang sampai waktu itu belum juga bisa menikmati air bersih.

Tentang cerita abang-abang becak di pasar kecil yang rela berkeringat sepanjang musim demi menyuapi keluarga, juga tentang kami yang harus berhadapan dengan hiruk-pikuk kemajuan yang mendangkalkan iman Pun, tak akan kulupakan. Abu, nasihatmu tentang kediaman terakhirmu.

“Bila aku dipanggil-Nya, makamku adalah sepetak tanah di belakang pesantren. Agar nanti, ketika kalian sudah kembali ke alamat masing-masing, dan aku berdiam di lahat, kalian dapat datang, melepas (mungkin) selaksa rindu di depan nisan dan mengirim doa-doa…”

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Rintangan Dalam Pilihan

Qari Kecil Membangunkan Kalbu

Related posts
Your comment?
Leave a Reply