3:54 pm - Jumat Agustus 18, 2017

Pandangan Islam tentang Kemiripan Anak dengan Orang Tua

11496 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh: Muhammad Ikhsan, MA

Single content advertisement top

BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya, demikian kata pepatah. Kalau sekadar mencocok-cocokkan, pepatah ini bisa berlaku pada anak Adam.

Jika diperhatikan seorang anak dari suatu keluarga, biasanya anak itu kalau tidak mirip ayahnya atau keluarga ayahnya, mirip dengan ibunya atau keluarga ibunya. Persis seperti buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Anak yang dilahirkan juga demikian, tak jauh dari sifat salah satu dari orang tuanya (keluarga orang tuanya) atau membawa sifat kedua-duanya.

Demikianlah Allah SWT mengatur ciptaan-Nya agar manusia dapat bersyukur dan mengambil pelajaran. “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.” (QS. Ath Thariq: 5-7)

Berkata Ibnu Katsir ra, (4/498): “Firman Allah Ta’alaa: (Ia diciptakan dari air yang terpancar), yakni air yang keluar dengan terpancar dari laki-laki dan perempuan, maka akan terjadilah (lahirlah) anak dari keduanya dengan izin Allah, dan karena itu Dia berfirman: (yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada), yakni dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.”

Allah SWT menciptakan manusia dengan pertemuan air mani yang terpancar yang keluar dari sepasang suami istri tatkala keduanya melakukan jima’. Lalu Dia jadikan anak itu laki-laki atau perempuan, serupa dengan ayah atau ibunya, sesuai dengan apa yang Dia kehendaki dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa.

Pertanyaannya, bagaimana anak yang dilahirkan biisa laki-laki atau perempuan, dan bagaimana dapat terjadi penyerupaan dengan orang tuanya?

Ketika Baginda Rasul SAW masuk ke Kota Madinah, terdengar khabar sampai kepada Abdullah bin Salam (seorang pemuka Yahudi), dan ia pun mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata:

“Aku akan menanyaimu dengan tiga perkara, tidak ada yang mengetahui jawabannya, kecuali Nabi.” Lalu ia mulai bertanya: “Apa tanda awal datangnya hari kiamat? Makanan apa yang pertama kali disantap penduduk surga? Apa sebab seorang anak bisa serupa dengan bapaknya dan apa sebab bisa serupa dengan akhwalnya (keluarga ibunya)?”

Mendengar cerita Abdullah bin Salam, Baginda Rasul tersenyum dan bersabda: “Baru saja Jibril mengabarkan kepadaku.” Kemudian Abdullah berkata: “Jibril adalah musuh Yahudi dari kalangan malaikat.”

Rasulullah SAW bersabda: “Adapun tanda awal terjadinya hari kiamat adalah keluarnya api yang akan mengumpulkan manusia dari timur ke barat. Makanan yang pertama kali disantap penduduk surga adalah hati ikan yang besar. Dan, penyerupaan anak, apabila suami menggauli istrinya lalu air maninya keluar mendahului air mani istrinya maka anak (yang akan lahir) itu serupa dengan dirinya. Apabila air mani istrinya keluar lebih dulu maka anak itu akan serupa dengan istrinya.” Mendengar jawaban Baginda Rasul SAW, Abdullah berkata: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.” (Abdullah bin Salam kemudian masuk Islam) (HR. Bukhari dari Anas bin Malik)

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari perkara yang haq. Apakah wanita juga harus mandi jika ia bermimpi (ihtilam)? ” Beliau menjawab: “Ya, apabila melihat air.” Maka tertawalah Ummu Salamah dan berkata: “Apakah wanita juga mimpi (ihtilam)?” Bersabda Rasulullah SAW: “Bagaimanakah bisa terjadi penyerupaan anak?” (HR Bukhari).

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya seorang wanita berkata kepada Rasulullah SAW:

“Apakah wanita juga harus mandi jika ia bermimpi dan melihat air?” Beliau menjawab: “Ya.” Maka ‘Aisyah berseru: “Taribat yadaki.” (kalimat pengingkaran yang ditujukan ‘Aisyah kepada wanita tersebut karena ia bertanya dengan pertanyaan demikian). Jawab Rasul SAW: “Biarkan dia, dari manakah persamaan bila tidak dari demikian. Bila air mani perempuan melebihi air mani laki-laki maka anak (yang terlahir) akan serupa dengan akhwalnya (keluarga ibunya) dan bila air mani laki-laki melebihi air mani perempuan maka anak akan serupa dengan a’mamnya (keluarga ayahnya).” (HR Muslim).

Demikian pula, ketika seorang pendeta Yahudi datang kepada Nabi SAW. Ia bertanya tentang beberapa perkara, salah satunya ia bertanya tentang anak. Maka Nabi SAW bersabda; “Air mani laki-laki itu warnanya putih sedang air mani perempuan itu kuning. Apabila keduanya berkumpul, lalu air mani laki-laki lebih banyak dari air mani perempuan maka anak (yang akan lahir) laki-laki, dengan izin Allah. Bila air mani perempuan lebih banyak dari air mani laki-laki maka anak (yang akan lahir) perempuan, dengan izin Allah….” (HR.Muslim dari Tsauban)

Terkadang yang kita temui justru sebaliknya. Ada anak laki-laki tapi serupa dengan akhwalnya dan kadang ada anak perempuan yang serupa dengan a’maamnya, karena sebab itulah sebagian ulama mengarahkannya kepada ta’wil.

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, menakwilkan kata “al ‘uluw” dalam hadits ‘Aisyah dengan makna”AsSabq” (mendahului), sedangkan kata “al ‘uluw” pada hadits Tsauban, sesuai dengan makna zhahirnya (yakni unggul/melebihi). (Fathul Bari 7/273).

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (7/273): “As Sabq” merupakan tanda (anak yang akan lahir) laki-laki atau perempuan sedangkan “Al ‘uluw” sebagai tanda keserupaan.” Kemudian Al Hafizh melanjutkan: “Seakan-akan yang dimaksud dengan “Al ‘uluw” yang merupakan sebab keserupaan itu adalah bila mani dari salah satunya (laki-laki atau perempuan) keluar dalam jumlah yang banyak sehingga membanjiri yang lainnya. Dengan keadaan inilah maka tercapailah keserupaan. []

Penulis: Dosen Jurusan Dakwah, STAIN Malikussaleh Lhokseumawe

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Kegalauan Komunikasi Politik jelang Pemilu 2014

Pendidikan: Antara Kenyataan & Harapan Anak Bangsa

Related posts
Your comment?
Leave a Reply