5:08 pm - Selasa November 21, 2017

Mengkhianati Pendidikan = Mematikan Kehidupan Masa Depan

336 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh: Muhammad Fuadi

Lagi lagi dunia pendidikan Aceh diterpa angin badai dan penuh intrik ketika penyusunan anggaran pembangunan dan belanja Aceh (APBA). Bagaimana tidak, dari total Rp. 11,78 triliun, aggaran pendidikan hanya dianggarkan sebesar 10,73%.

Realitas ini sungguh mengejutkan. Apa sebenarnya yang dipikirkan pemerintah Aceh ketika sedang menyusun anggaran pembangunan itu? Padahal sebuah bangsa maju mensyaratkan pendidikan berkualitas. Jika pemerintah Aceh ingin memanusiakan dan membudayakan manusia Aceh tak lain kecuali benahi pendidikan!

Single content advertisement top

Fakta dan konsep bertolak belakang, jika dikaitkan dengan amanah UUD 1945 pasal 31(4), “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD untuk memenuhi penyelenggaraan pendidikan Nasional.

Menjadi miris bagi kita, jika menyimak model aplikasi yang operasionalkan pemerintah Aceh dengan mengurangi jatah dana anggaran untuk pendidikan. Secara rasional, kita perlu mengapresiasi pemerintah sebelumnya, yang  alokasi  dana APBA untuk pendidikan selalu lebih 20 persen, bahkan rata-rata 30 persen.

Rangking  Pendidikan Jeblok

Jika menoleh sejarah kebelakang, pada tahun 90an pendidikan Malaysia masih dibawah mutu pendidikan Indonesia. Banyak mahasiswa Malaysia datang dan belajar di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, termasuk ke Aceh.

Ketika bangsa ini mulai sibuk dengan  pembangunan fisik dan infrastuktur,  negeri jiran sibuk melakukan ekspansi pembangunan bidang pendidikan dengan mengirimkan putra-putri terbaiknya untuk belajar keluar negeri dengan harapan sekembalinya mampu mengaplikasikan ilmu di negeri sendiri. Kini pendidikan di Indonesia mulai tertinggal dibandingkan Malaysia, dan sewajarnya kontdisi ini bisa menjadi ibrah bagi pemerintah Aceh saat ini.

Realitas sosial terkait kualitas lulusan putra-putri Aceh berdasarkan data Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Kementerian Pendidikan Nasional pada 2012 menunjukkan bahwa kelulusan siswa tingkat SMA jurusan IPA 99,75% (rangking 23) dan SMA jurusan IPS 98,81% (rangking 25 nasional) dan SMK 98,59% (rangking 26). Untuk tingkat lulusan SMP di Aceh pada 2012 tingkat kelulusan adalah 99,42% (rangking 21 nasional) dan MTs 99,27% (rangking 26). dari 33 provinsi di tanah air.

Data ini memang tidak buruk-buruk amat, tapi hasil ini kontradiktif dengan hasil seleksi SNMPTN di seluruh Indonesia. Tingkat kemampuan lulusan SMA/SMK/MA Aceh menembus perguruan tinggi negeri berada di peringkat 31 nasional untuk jurusan IPA dan peringkat 25 untuk jurusan IPS.

Demikian pula hasil Uji Kompetisi Guru (UKG) tingkat nasional. Kualitas guru Aceh berada pada peringkat 28 nasional dari 33 provinsi. Dengan mengambil analisis pakar pendidikan,  seyogyanya Pemerintah Aceh harus mengalokasikan tidak kurang Rp 900 miliar hingga Rp 1 triliun per tahun (khusus untuk dana peingkatan kapasitas dan mutu layanan pendidikan dan bukan infrastruktur) untuk mendongkrak prestasi pendidikan Aceh berada pada peringkat 10 besar nasional (Serambi,17/10/2012).

Karena itu, jangan heran jika kesejahteraan guru di Aceh seperti zaman Omar Bakrie, dan kualitasnya seperti Guru Sule, tetap rendah tidak berpengharapan, dan hanya untuk lucu-lucuan.

Harusnya ini telah menjadi sinyal bahaya bagi Pemerintah Aceh dan mulai membuka mata memperbaiki kualitas lulusan dan perbaikan rangking di tingkat nasional agar tidak semakin terdegradasi, bukan malah mengurangi anggaran.

Dengan pengurangan APBA untuk pendidikan  menjadi 10, 73 %, bukan mustahil pendidikan Aceh semakin terporosok ke peringkat dasar dan menjadikan putraputri Aceh kelam. Sejatinya, pendidikan menjadi tumpuan utama dalam memancang pilar-pilar pembangunan, pemajuan daerah dan pencerdasan anak bangsa secara merata dan berkesinambungan. Ini malah dikebiri dan dipandang sebelah mata, mau jadi apa negeri Serambi Makkah ini?

Terobosan Pendidikan

Kini Pemerintah Aceh harus memiliki terobosan dengan kebijakan revolusioner untuk membawa perubahan bagi dunia pendidikan. Pemerintah harus jeli dan teliti dalam anggaran termasuk memanfaatkan dana Otsus untuk penguatan kapasitas guru sebagai prioritas utama. Sehingga, kita berharap tahun 2013 perubahan dari tingkat kelulusan ujian nasional dan kompetensi guru mulai muncul.

Jika susah belajar dari Jakarta, sepatutnya kita bisa belajar dari Pemerintah Papua yang notabe memiliki nasib mirip Aceh. Provinsi Papua mampu meningkatkan kelulusan Ujian Nasional (UN). Proritas utama adalah mendidik para guru agar mampu mentransfer ilmu yang baik kepada siswa. Jadi guru tidak hanya bermodalkan wawasan dan ilmu, tetapi kemampuan dalam mendidik, mentransfer ilmu, dan berpihak dalam anggaran.

Jangan lupakan juga kesejahteraan guru.Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan. Berdasarkan survei Federasi Guru Independen Indonesia(FGII) pada 2005, idealnya seorang guru menerima gaji bulanan sebesar Rp tiga juta rupiah.

Saat ini, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan hanya Rp 2 juta, guru bantu Rp. 460 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata masih Rp. 10-20 ribu perjam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan.

Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang. Permasalahan kesejahteraan guru biasanya akan berimplikasi pada kinerja yang dilakukannya dalam melaksanakan proses pendidikan dan efeknya akan diteima oleh peserta didik.

Pemerintah juga harus melihat strategi pembenahan pendidikan secara komprehensif. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan suatu daerah ada lima strategi yang perlu disasar untuk peningkatan mutu pendidikan, yaitu kualitas lulusan, guru, kurikulum, infrastruktur pendukung, dan buku mata pelajaran (Rian Nugroho, 2008). Kelima isu ini harus menjadi perhatian pemerintah jika pemerintah ingin membangun sektor pendidikan.

Kita berharap Pemerintah Aceh tidak lagi tidur-mendengkur, sebelum terlambat sepatutnya membuka mata atas isu pendidikan. Sebab ini menjadi tongkat estafet generasi muda ke depan dalam memimpin bangsa ini.[*]

 

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Prodi Bahasa Inggris STAIN Malikussaleh Lhokseumawe dan Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan III.

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Siaran TV dan Dampaknya Bagi Pemirsa

Prospek UN dan Trauma Siswa

Related posts
Your comment?
Leave a Reply