3:11 pm - Sabtu November 24, 2784

Menggugat Indepedensi Media Massa..!

358 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi (analisadaily)
Abdul Ghani (dok.pribadi/PR)

Abdul Ghani (dok.pribadi/PR)

Oleh: Abdul Ghani

MEDIA massa atau pers adalah wadah yang di desain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas guna menyampaikan informasi kepada publik. Media massa memiliki peran penting dalam penyelenggaraan negara, contohnya menjelang kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dimana Radio Rimba sebagai media massa saat itu mengambil andil dalam penyiaran informasi kemerdekaan Indonesia.

Saat itu Belanda menyuarakan kepada dunia bahwa Indonesia tidak ada lagi lewat Radio Hiversum miliknya setelah menguasai ibukota pemerintahan Indonesia, namun terbantahkan oleh suara sayup kecil dari Radio Rimba di dataran tinggi Gayo tepatnya di Kecamatan Rime, Aceh Tengah.

Dalam wikipedia disebutkan, Suara Radio Rimba berhasil memberikan informasi kepada dunia bahwa Indonesia masih ada, dan siarannya dapat ditangkap jelas oleh sejumlah radio di semananjung melayu (Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), Manila (Filipina) bahkan Australia dan Eropa. Akhirnya banyak negara dunia yang masih mengakui kedaulatan Indonesia.

Media massa yang mendapat perlindungan hukum oleh negara supaya pers dengan aman dapat mempublikasi atau menyebarluaskan informasi kepada masyarakat, seperti dijelaskan dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Pasal 4 Ayat 1, bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara, ayat (2), pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran, dan ayat (3), bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional memiliki hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.

Single content advertisement top

Bila pada masa orde baru kebebasan pers dikekang dan dininak-bobokan oleh rejim, sekarang media massa pantas bersyukur karena telah terbebas dari intervensi pemerintah, sifat pro rakyat sudah boleh dinampakkan. Celaknya, kebebasan pers sekarang selalu mengikuti keinginan sang pemilik modal, akibatnya esensi kebebasan pers menjadi kabur. Sebut saja fungsi kontrol sosial misalnya, sering diabaikan, terlebih lagi jika sipemilik media adalah pengurus suatu partai politik.  Media massa tidak lagi netral dalam pemberitaan isu politik.

Media massa tetap mengikuti kehendak sipemilik modal. Lihatlah informasi politik yang disajikan oleh TV One, Metro TV dan MNCTV. Sementara yang tidak memiliki media massa, terkadang penyaluran informasi politik atau lainnya sering terabaikan, meskipun rejim yang sedang berkuasa. Maka ada benarnya juga kata pepatah modern, bahwa ‘barang siapa menguasai media, dia akan menguasai dunia’.

Secara praktis, media massa memiliki tempat yang strategis dalam perpolitikan nasional, pengaruh yang diberikan media dapat merubah pola pikir masyarakat dengan apa yang diberitakannya.

Bila masyarakat mengkonsumsi berita politik hanya dari satu media akan membuat pandangan masyarakat kabur tentang informasi lain mengenai capres-capres yang akan dipilih. Komisi penyiaran Indonesia (KPI) mengatakan akan mengawal media massa sampai pilpres juli mendatang, bahkan iklan kampanye juga akan disediakan waktu terbatas (beritasatu.com)

Semoga saja, kebebasan pers saat ini jangan semata-mata ditujukan pada reality commersial, memihak sipemilik modal atau mendukung figure yang disukai. Sementara peran dan fungsinya sebagai saluran edukasi dan kontrol sosial diabaikan. Karena itu, media wajib harus netral dalam memberikan informasi apapun kepada masyarakat, termasuk informasi politik sebagai wujud euforia kebebasan pers. []

____________

Penulis: Siswa Sekolah Menulis Kajian Media (SMKM) Atjeh Angkatan Ke-VII, dan Ketum HMI Komisariat Tarbiyah STAIN Malikussaleh, Lhokseumawe.

Editor: Safta

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Komunikasi Politik Nihil Etika dan Norma Politik

Menggantung Harapan Baru Pasca Pilpres 2014, Mungkinkah?

Related posts
Your comment?
Leave a Reply