3:11 pm - Kamis November 23, 4152

Menggantung Harapan Baru Pasca Pilpres 2014, Mungkinkah?

387 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi Harapan baru (kompas.com)
Kamaruddin Hasan, M.Si

Kamaruddin Hasan, M.Si

Oleh: Kamaruddin Hasan

KEHIDUPAN berbangsa dan bernegara membutuhkan keseimbangan dan keharmonisan dalam segala segi. Keseimbangan dan keharmonisan dalam dunia politik, sosial, budaya, ekonomi dan hukum.

Disaat negara bangsa berada dalam ketidak seimbangan, ketidakharmonisan tergambar dengan jelas diatas cakrawala nusantara yang dipenuhi asap kelabu ketidakpastian yang menutupi langit cerah alam sadar bawah sadar nusantara. Kelabu peradaban negara bangsa manusia nusantara terpampang dilangit-langit harapan nurani yang terasa kosong. Walau kemudian berbagai prediksi tancapkan, harapan ditaburkan dan kekhawatiran terus dikumandangkan sementara kegelisahan  masih tersimpan di balik-balik hati nusantara yang paling dalam.

Untuk menggantungkan harapan, agar kemudian tidak meninggalkan kekecewaan, bangsa nusantara perlu introspeksi dan meredefinisi kembali akan eksistensi dirinya, dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri dan seluruh bangsa nusantara; mengapa negara bangsa tidak habis-habisnya didera masalah?

Single content advertisement top

Memang kesulitan dan kendala itu tidak akan pernah putus, akan terus menerus membelit negara bangsa nusantara. Kesulitan itu juga menimpa kemanusiaan sendiri. Kapan akan berakhir? kesulitan itu akan hilang dan berakhir sampai para manusia-manusia bijaksana menjadi pemimpin/penguasa di nusantara atau sampai mereka yang sekarang kita sebut pemimpim/penguasa itu sungguh-sungguh menjadi manusia-manusia bijaksana.

Artinya pemimpin atau penguasa mesti menjadi contoh bagi rakyat yang dipimpinnya bukan malah menjadi sumber masalah. Rakyat sudah bosan dan muak dengan prilaku dan kebijakan pemimpin/penguasa dalam proses menyelasaikan berbagai masalah negara bangsa nusantara yang senantiasa meminggirkan rakyat.

Kalau kita ambil Falsafah Carfesian yang menyakini eksistensi sebagai sebuah hasil pemikiran. Maka keberadaan bangsa negara juga karena adanya proses kesadaran tersebut. Nusantara ini dikenal karena mau berpikir dan sadar akan keberadaannya. Tetapi ketika bangsa nusantara ini sudah tidak mau berpikir lagi, ketika berhenti menyadari diri sebagai sebuah bangsa  negara, apatis, skeptis, pesimistis dan lain-lain saat itu pula harapan dan kemerdekaan sebagai sebuah bangsa negara telah terhampas.

Negara bangsa ini sudah lama kehilangan identitas diri, lama mengalami de-eksistensi diri. Bayangkan ketika penguasa/pemimpin dan sistem politik negara telah memonopoli makna semua segi kehidupan yang sama juga telah memonopoli kebenaran. Tafsir menjadi monopoli, sampai-sampai merekayasa berbagai sistem, orang harus mengartikan sebuah  peristiwa  secara seragam.

Monopoli makna sesungguhnya telah memonopoli kebenaran. Kebenaran bukan lagi milik rakyat  tapi sepenuhnya ditangan penguasa/pemimpin. Akhirnya telah terjadi krisis pemikiran, kebenaran dan krisis etika dan moral sehingga saat itu pula harapan terkikis habis.

Walau demikian, harapan patut disandarkan pada pemerintah baru pasca pilpres 2014, siapapun yang dipilih oleh rakyat nusantara, mesti diterima dengan lapang dada. Mereka diharapkan menjalin sinergi dengan elemen rakyat sipil yang dominan belum terangkut dalam pembangunan, sekalipun mereka minoritas dan tersingkir di tengah sistem politik gaya kapitalis, ditengan neo-liberalisme, ditengah realitas sosiologis, antropologis dan komunikasi yang cenderung mematikan idealisme, cenderung mematikan ide-ide peradaban manusia.

Harapan itu ada, bukankah semuanya; kedua pasang capres-cawapres (Jokowi-JK dan Probowo-Hatta) dalam proses politik nusantara saat ini dimaksudkan dan ditujukan untuk; kemajuan, kecerdasan, kesejahteraan, kemandirian, identitas kebangsaan, bermartabat, kehidupan yang demokratis, keadilan, kemakmuran, nasionalisme, peradaban yang penuh etika, norma dan karakter yang diperjuangkan? Kalau ya, mari merangkul, menghargai dan dihargai semua elemet rakyat dalam membangun nusantara ini.

Tentu saja, dalam menabuhkan harapan dalam proses pencapaian keseimbangan dan keharmonisan bernegara dan berbangsa tersebut, dibutuhkan peran aktif dari semua kalangan rakyat (civil society). Kelompok, komunitas civil society dalam bentuk apapun, yang penting dapat menjalankan fungsi gerakan sosial.

Civil society yang dapat menjalankan gerakan sosial baru; terdapat didunia kampus, pekerja/buruh, petani, lembaga swadaya masyarakat, gerakan media massa, gerakan koperasi, rakyat terpinggirkan dan atau segaja dipinggirkan, rakyat yang tidak mendapat akses pelayanan negara; rakyat yang nihil akses pelayanan pendidikan, nihil akses pelayanan kesehatan, nihil akses pelayanan ekonomi.

Rakyat yang menjadi komoditas kapitalis, rakyat yang hampir kehilangan identitas diri, rakyat yang hampir kehilangan kebudayaan dan peradaban. Rakyat semacam ini, yang mendominasi, mendiami nusantara raya serta rakyat inilah yang sedang menaruh harapan besar. Walau secara global, ekonomi dunia, dikuasai oleh 20 persen penduduk terkaya di dunia menerima lebih dari 82 persen pendapatan dunia, sementara 20 persen rakyat paling miskin hanya menerima 1,4 persen. Wallahu’alam. []

__________

Penulis: Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unimal Lhokseumawe, Pengamat Masalah Sosial Politik, dan juga Ketua Development for Research and Empowerment – DeRE-Indonesia. Email: kamaruddinkuya76@gmail.com HP. 0813 9502 9273

Editor: Safta

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Menggugat Indepedensi Media Massa..!

Hiper-Realitas Politik Kontemporer Jelang Pilpres 2014

Related posts
Your comment?
Leave a Reply