11:44 am - Selasa November 21, 2017

Mawar Hitam Untuk Elsa (2)

244 Viewed Redaksi 0 respond
single-thumb.jpg

Oleh: Dian Mahlia

Setiap habis ashar Elsa bekerja mengembangkan bakatnya sampai takdir berikutnya mempertemukannya dengan seorang pemuda ”Zian Azilia” begitu namanya, yang juga partner kerjanya saat itu. Pria Berkulit putih blasteran Aceh- melayu, lulusan Universitas luar kota yang dari dulu ia menyimpan asa untuk go international disebuah Perusahaan Minyak di Timur Tengah.

Zian yang religius, humoris, selalu bisa membawa suasana, perkenalan mereka yang terjadi secara tidak sengaja benar-benar telah mengetuk hati Zian untuk lebih dekat lagi dengan Elsa. Tapi sayangnya Elsa belum bisa disentuh oleh siapapun hatinya, kegalauan yang dirasakannya membuatnya ingin fokus sama pekerjaannya dulu.

Single content advertisement top

Namun Zian, lelaki yang selalu optimis itu tetap tidak mau kalah, ia tetap berjuang untuk mendapatkan Elsa. “Hello Miss, how are you”? Sapa Zian sambil melintas di ruang ngajar. “So fine”, Elsa pun menjawab dengan senyum tipisnya. Elsa yang masih baru dan belum bisa membaca lingkungan masih sedikit kaku, bahkan ia tidak tahu apa dan dimana sela2 yang harus di perhatikan dalam ruang ngajarnya.

Zian memperhatikan setiap gerak gerik Elsa yang kadang-kadang bingung sendiri tidak tahu cara menghidupkan lampu, tidak mengerti cara menyalakan kipas angin. Mula-mula ia mengajar dalam suasana gelap, tapi ahirnya dituntun oleh Zian sehingga semuanya mendekati sempurna sampai diapun terbiasa untuk hal itu.

Sore itu sambil menuruni tangga, seperti biasa Zian yang duduk depan komputer tetap melayangkan senyuman khasnya seperti biasa dengan sejumlah pertanyaan humorisnya. Elsa benar-benar tidak mengerti dengan tingkah lakunya Zian, dari awal perkenalan mereka yang ahirnya Zian memberanikan diri meminta nomor Hape Elsa, ada juga candaan dari sahabat sahabat terdekat Zian yang naksir miss Elsa, tapi ia sendiri menutupi rapat-rapat telinga untuk itu semua.

Setelah 2 bulan berlalu, tanpa terasa Elsa melihat Zian yang semakin akrab dengannya, kadang-kadang duduk mengobrol bersama depan layar komputer, bahkan Zian bisa jadi tempat Elsa bercerita, mengadu, dan mengeluh…..

“Hmmm…….., Saya ingin punya pendamping yang mau mengerti saya, kalau dia tidak mau mendengar kata-kata saya, biarpun cinta saya tetap akan pergi dan tidak akan kembali lagi”, pancing Zian kepada Elsa dengan sedikit harapan supaya Elsa bisa menangkap perasaannya. Tentu saja Elsa sangat terkejut mendengar….cerita dan berita  Zian menyukai dirinya, Elsa selalu mencoba menepis itu semua karena ia rasa Zian bukanlah lelaki yang tepat untuk dirinya.

Zian yang penampilannya  lembut dari luarnya telah membungkus sejuta asa religiusnya. “Mana mungkin pria lembut dan religius seperti itu menyukai wanita periang seperti diriku, uuuupsss’’, sergah Elsa dalam hatinya. Tapi biarpun gini-gini…..aku kan baik, biarpun keras kepala tapi…. kan aku nggak jahat, heheheh”, sambung  Elsa dalam hatinya.

Dua hari berikutya, cinta Zian disambut hangat oleh Elsa tepatnya bulan September di malam kamis yang menyelimuti kabut kegelisahan, hadir getar ketakutan, ia pun beranjak kekamar mandi untuk berwudhu’. Dan selepas Shalat ia berdo’a agar Allah membuka pintu hatinya untuk Zian dan membuat nya bahagia hingga batas waktu tak terhingga. “Ya Allah, bukakan hati saya untuk bisa menerima niat baik Zian untuk membahagiakan saya, semoga kali ini menjadi penutup kisah  hamba”. Amiiiin

Esok harinya ia bekerja seperti biasa, mengajari muridnya “kursus bahasa” yang semakin lama siswa semakin bertambah jumlahnya. “Good afternoon All, how are you today? Itulah pertanyaan opening Elsa setiap masuk ngajar.  “Good afternoon too miss”. Begitu juga celoteh murid–muridnya. Samar–samar dari jawaban itu terdengar phonetic yang berbeda dari umumnya suara murid-muridnya, ternyata Zian sudah menunggu sejak lama untuk menyapa Elsa yang telah menjadi Girl friendnya itu.

So sweet, Elsa masih tersenyum tipis seperti biasa, ia belum berani menciptakan suasana dramatis karena memang takutnya semua itu hanya pemanis diawal ‘love story-nya’. Seperi pepatah lama ”cinta itu ibarat kopi yang terasa nikmat saat hangat saja”. Namun pintarnya Zian, ia pintar membawa suasana dan selalu ada setiap Elsa membutuhkannya, selalu siap untuk membuat Elsa tertawa dengan canda-canda lelucon nya. “Deknong lon” yang berarti gadisku, panggilan sayangnya Zian kepada Elsa Almeira.

Sebagaimana pasangan lainnya, disaat yang satu sudah memberikan perhatian, maka pihak satu lagi juga tidak salahnya membalas semuanya agar terciptanya komunikasi yang baik.

Waktu terus bergerak, ada banyak kesan yang tercipta diantara mereka, mulai dari makan mie bakso dalam hujan, sampai berfoto dipinggir jalan tanpa memikirkan celaan orang yang berlalu lalang melewati mereka, “kita bukan di tempat sepi jadi ga usah hawatir,” sela Zian pada Elsa sambil memperlihat kan gaya konyolnya sambil meloncat – loncat seperti kisah putrid dan pangeran kodok, tingkah lucu mereka seakan membuat pasangan lain iri saat melintasi jalan sore itu.

Bagaimana hati Elsa tak terketuk, banyak waktu yang mereka habiskan dengan canda tawa bahagia, kadang melihat pengorbanan Zian, Elsa menangis haru seakan meminta waktu terhenti di sini agar kebahagiaan ini tetap terjadi,  “kedua keluarga kita sudah setuju, saat pengumuman kelulusan nanti kita  akan melanjutkan hubungan ini satu langkah ketahap yang lebih serius lagi”, tegas Zian meyakinkan Elsa.

T-Shirt biru laut, kado pertama dari Elsa menambah ketampanan seorang Zian Azilia, ia pun selalu mengirimkan lagu-lagu kesukaannya ke ponsel Zian. Ponsel yang tak pernah update dengan lagu- lagu baru terus di perbaharui Elsa, tujuan nya tidak lain, ia hanya ingin Zian tau apa yang ia suka dan tidak suka begitu pun sebaliknya. Setiap Zian menampakkan perubahan selau ia pertanyakan baik- baik supaya tidak terjadi miss communication.

Elsa bahagia, namun ada sedikit ganjalan ketika ia tahu keberadaan perempuan yang juga sahabat dari adik perempuannya itu, ia tahu bahwa perempuan itu begitu disukai Zian dari dulu namun cintanya di tolak dengan alasan sudah bertunangan.

Naluri perempuan begitu halus, ia tidak cemburu kepada siapapun hanya keberadaan perempuan ini masih sangat misterius statusnya. Elsa mencoba melupakan itu semua karna Zian terus meyakini Elsa bahwa perasaannya terhadap Fitri Sudah lama padam semenjak Elsa hadir. “Saya bahagia dan nyaman sama Kamu, posisimu tidak akan tergantikan baik oleh Fitri sekalipun”, Jelas Zian dengan penuh kejujuran.

Elsa percaya itu semua, karna memang terbukti semua yang dikatakan Zian kepadanya, Ia terus mendukung Zian dalam menjalankan Interview, ia terus berdo’a agar dibukakan kesempatan utuk Kekasihnya dalam meraih mimpinya. Seketika Zian galau menunggu pengumuman kelulusan nya, Ia terus menyemangati Zian. “ Do the best my Darl, I know that you can do it”. Itulah kata- kata yang selalu di keluarkan Elsa semerta melempar senyum tipisnya.

Dua minggu sepulangnya interview, terlihat muka Zian yang begitu pucat. Elsa mencoba menyapa namun seakan ia tidak mau mengganggu Zian yang sedang mengajari murid- muridnya. Ia pun beranjak pulang karna hari sudah malam.

Sabtu itu Pertemuan mereka masih hangat seperti dulu, namun Seiring perjalanan waktu, kehidupan, dan perubahan2 watak sering membuat ide – ide mereka pecah, ada kesalah pahaman dari sikap2 mereka yang sering menimbulkan pertengkaran2 kecil, kadang Elsa dengan mulut comelannya sering cemburu tak jelas.

Zian yang agak panikan pun sering mengoceh saat melihat tindakan Elsa yang terlalu berani untuk pulang pergi kerja sendiri, hujan- huajn tetap ngotot minta pulang sampai emosi Zian memuncak dan benar-benar  marah seketika Elsa minta pulang malam itu. Tapi Itu semua selalu bisa terhandle tanpa ada buntut apapun.

Maaf untuk tidak mengulanginya lagi”, itulah janji Elsa sambil menangis…..”Iya dima’afkan tapi lain kali jangan lagi,” Tegas Zian dengan muka yang memerah. “Iya…..” sahut Elsa dengan nada sedikit bergumam.

Masalah itu sudah tutup buku tapi bak duri dalam daging, tanpa di sadari semua masalah bermuara di sini merambah sampai satu bulan hubungan mereka dingin hingga tiba di hari pengumuman kelulusannya, senang bercampur haru mendengar berita ini seketika ia pun kembali mengingat janjinya untuk melanjutkan hubungan mereka ke tahap yang lebih serius lagi….bersambung

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Mawar Hitam Untuk Elsa (1)

Mawar Hitam Untuk Elsa (3)

Related posts
Your comment?
Leave a Reply