2:17 am - Minggu November 19, 2017

Meraih Pahala Qurban

400 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh: Erlindawati, S.Pd.I*

Sungguh luar biasa pahala bagi orang-orang yang berkurban. Selain Allah sediakan kenikmatan yang luar biasa, juga diberikan kebajikan yang tiada tara dengan Rahmat dan Kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya yang taat dan patuh.

Single content advertisement top

Allah berfirman: “Sungguh Kami telah memberi kepadamu Telaga Kautsar (kebaikan yang banyak), maka oleh sebab itu kerjakanlah shalat untuk Tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh orang yang membencimu itu akan musnah” (QS. Al Kautsar: 1-3).

Perintah untuk berkurban secara historis dimulai pada masa Nabi Ibrahim AS, setelah dengan rela, taat dan ikhlas beliau melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Nabi Ismail AS, sang anak tercinta semata wayang.

Sesungguhnya, wacana kurban itu terlontar dari kata-kata Nabi Ibrahim sendiri, tanpa sengaja, lantaran beliau sudah tua, usia 70 tahunan belum memiliki momongan.

Saat itu Nabi Ibrahim, memohon kepada Allah agar diberi keturunan. Tanpa sengaja Nabi Ibrahim berucap, jika aku diberikan anak oleh Allah, akan aku korbankan juga anakku demi agama Allah lantaran  aku cinta kepada Allah.

Waktu terus bergulir, hingga suatu saat Siti Hajar hamil, Istri kedua Nabi Ibrahim AS. Bukan kepalang Nabiyullah Ibrahim gembiranya karena keinginan dan doanya diterima Allah SWT.

Tiba saatnya, Ismail jadi seorang remaja cerdas dan akhlak mulia. Sang ayah bercerita soal mimpinya yang berulang-ulang kepada anak tercinta, Ismail. Nabi Ismail AS, bukannya gelisah dan ketakutan, malah gembira dan ikhlas dengan mimpi sang Ayah, Nabi Ibrahim AS untuk menyembelihnya (berkurban).

Hingga Ismail berkata pada sang ayah, “jika ayah yakin itu perintah Allah, lakukanlah, semoga aku menjadi orang yang sabar”. Nabi Ibrahim, masih tak percaya dengan jawaban buah hatinya, Ismail.

Singkat cerita, jadilah Nabi Ibrahim melaksanakan kurbann atas ananda tersayangnya, Ismail karena perintah Allah. Dan kemudian Allah berfirman pada sekalian malaikat, “Lihatlah hamba-Ku (Ibrahim dan Ismail) telah menunaikan perintah-Ku dengan ikhlas, taat dan sabar. Wahai Jibril, gantikanlah kurban Ibrahim dengan seekor  kibas dari surga”.

Dari historikal inilah, kegiatan kurban menjadi fenomenal hingga saat ini. Karena memang dalam kurban itu mengandung nilai-nilai ibadah yang luar biasa, yakni mentaati perintah Allah dengan sebenar-benarnya (takwa), menjadi makhluk yang iklas dan sabar, dan lain sebagainya.

Ketika Nabi Daud AS bertanya pada Rabb, juga tersirat nilai-nilai pahala dari ibadah berkurban yang sungguh luar biasa. “Wahai Tuhanku, apakah pahala ummat Muhammad dari berkurban?”

Allah SWT menjawab, “Pahalanya, dia akan Aku anugerahi bahwa tiap-tiap bulu pada badannya sebanyak sepuluh kebaikan. Aku hapuskan daripadanya sepuluh kejahatan. Aku angkat baginya sepuluh derajat; dan baginya dengan tiap-tiap bulunya dari binatang kurban sebuah gedung istana didalam surga beserta satu jariyyah dari bidadari yang cantik jelita, dan kenderaan yang bersayap yang langkahnya sejauh pandangan yang dikenderai oleh penghuni surga, maka dia bisa terbang dengan kenderaan itu sekehendaknya. tidakkah engkau tahu, hai Daud sesungguhnya kurban-kurban itu menjadi kenderaan dan akan menghindarkan segala bahaya di hari qiamat?”

Dalam suatu riwayat, diceritakan Nabi Daud tercengan dengan firman Allah itu, dan mau menjadi ummat Muhammad. Subhanallah.

Dalam hadist yang lain, dari Anas dari Ali bin Abi Thalib, bahwasanya  Baginda Rasul SAW bersabda, “Apabila orang-orang mukmin digiring dari kubur mereka, maka Allah ta’aalaa berfirman: “Hai para malaikat-Ku, jangan kamu sekalian suruh berjalan kaki para hamba-Ku, bahkan naikkan mereka itu diatas kurban-kurban mereka. Karena sesungguhnya mereka itu sudah terbiasa berkenderaan ketika didunia”.

“Adalah pertama kali tulang rusuk/pinggang ayahnya sebagai kenderaan mereka, kemudian perut ibunya sebagai kenderaan mereka, ketika mereka sudah dilahirkan oleh ibunya, maka pangkuan ibunya sebagai kenderaan mereka, sehingga selesai menyusu, maka pundak ayahnya sebagai kenderaan mereka; lalu kuda dan keledai sebagai kenderaan mereka di darat; perahu dan jukung dilaut; dan ketika meninggal dunia maka pundak kawan-kawannya, dan ketika mereka bangkit dari kubur, janganlah kamu suruh berjalan kaki, karena sesungguhnya mereka sudah terbiasa berkenderaan, dan berikanlah kepada mereka binatang mereka, yakni kurban-kurban mereka”.

Itulah sebagian pahala dan nilai-nilai ibadah berkurban di Hari Raya Idul Adha. Karena Idul Adha sendiri dari segi bahasa (arab), bermakna kembali menyembelih (berkurban). Dalam konteks yang lebih luas, makna Idul Adha itu bisa dipahami saat kembali berkurban sebagaiman dilakukan Nabi Ibrahim AS tempo dulu agar kita menjadi makhluk yang ikhlas, taat dan patuh serta menjadi orang-orang yang sabar. Selamat meraih kemenangan dengan penuh kebaikan dan kenikmatan yang diberikan Allah SWT.

Penulis: Guru Agama di SMP Negeri 3 Muara Batu, Kab. Aceh Utara.

Editor: Muhajir AF

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Saksikan Militer Mesir Bantai Warganya, PBB Buta dan Tuli

‘Pseudo’ Pendidikan

Related posts
Your comment?
Leave a Reply