3:39 pm - Jumat Agustus 18, 2017

Keterpurukan Pendidikan, Dayah Salafi Menjawab

616 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi Dayah di Aceh (foto: onlyaceh.blogspot)

Oleh: Tgk. Tarmizi, S.Sos.I*

DI TENGAH carut marut dunia pendidikan formal di Indonesia khususnya dibumi Aceh Serambi Mekah, serta ditambah beragam kasus kejahatan, asusila, dan berderet kasus lainnya yang setiap tahun bertambah, dan kasus yang lagi marak perilaku asusila seperti video dan foto porno karya anak didik (pelajar) yang sangat mencoreng dunia pendidikan kita.

Pertanyaanya apa yang salah dengan sistem pendidikan kita? Mengapa bisa demikian parah wajah pendidikan Indonesia, khususnya Aceh yang merupakan daerah otonomi kusus yang diberikan oleh pemerintah RI.

Single content advertisement top

Mungkin banyak lembaga pendidikan formal yang bisa dikatakan berhasil mendidik anak bangsa menjadi orang yang cerdas secara intelektualitas, tetapi gagal mendidik anak bangsa menjadi orang yang bermoral, berkarakter dan berakhlak mulia.Mungkin sebagian kita sering menganggap bahwa kemajuan pendidikan diukur dari segi kecerdasan otak saja. Sedangkan pendidikan moral dan akhlak yang berorientasi pada pendidikan agama sangat kurang dan bahkan mungkin tidak terpikirkan sama sekali oleh sang pendidik.

Inilah yang membuat karakter, akhlak dan moral anak bangsa hancur sejalan engan perkembangan zaman. Secara tidak langsung kita telah terjebak dengan pola pikir sekuler dan liberal yang terus-menerus menyusup dalam dunia pendidikan nasional, sehingga dekadensi moral tidak terelakkan di realitas. Jika demikian halnya, bagaimana solusi pendidikan yang bermoral dan berkarakter untuk mengatasi pelbagai perilaku tidak terpuji dan anti-sosial?

Seyogyanya pemimpin bangsa, parlemen, pendidik dan masyarakat pada umumnya perlu bercermin pada sistem pendidikan pesantren (dayah-istilah Aceh-red). Karena secara realitas, pesantren telah terbukti mampu mencetak anak bangsa yang lebih berkarakter dibanding lembaga pendidikan formal lainnya. Apalagi jika pesantren dikelola dan dikembangkan dengan manajemen yang baik, fasilitas yang modern serta didukung oleh penguasa seutuhnya, jelas akan memberi hasil yang optimal, sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

 Bercermin Pada Sistem Pendidikan Dayah Salafi

Menengok sistem operasinal manajemen pendidikan di pesantren (dayah), khususnya yang berorientasi salafiyah, siap melatih anak didik untuk selalu disiplin dan terbiasa mematuhi aturan yang ada, jika aturan dilanggar, tentu harus ada sanksi yang diterima.Sudah banyak yang merasakan manfaat sistem dayah salafi  ini. Memang ada yang gagal, namun prosentasinya sangat minim, karena tentu tidak semua benih yang ditanam akan berhasil.

Saat ini, pendidikan di negara-negara barat pun telah mengadopsi sistem pesantren dengan menerapkan sistem asrama bagi siswanya dengan pengawasan yang ketat, dan mereka pun berhasil. Sayangnya sistem pesantren ini hanya diadakan sampai tingkat pendidikan menengah atas saja. Untuk tingkat pendidikan tinggi sistem pesantren ini belum banyak dikembangkan. Hal ini  menyebabkan anak didik yang biasa terawasi menjadi lepas kendali setelah mereka masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

 Dayah Salafi Sebagai Solusi Pendidikan Berkarakter

Dalam pandangan masyarakat modern yang pola pikirnya awam, pendidikan pesantren salafi identik dengan tempat rehabilitasi atau pembuangan anak-anak bermasalah baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun sekitarnya. Karena itu, untuk menghilangkan image pesantren hanya untuk mendidik anak buangan, anak yang bandel atau anak yang telah rusak akhlaknya, sudah selayaknya kita juga perlu mensosialisasikan pentingnya penerapan pendidikan dayah salafi untuk semua kalangan tidak terkecuali. Logikanya, jika anak bermasalah saja bisa dididik menjadi baik, apalagi anak yang baik tentu akan semakin menjadi baik jika mau belajar di dayah salafi.

Dayah salafi memiliki prospek besar dalam mencetak dan melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompoten dan berkualitas dengan catatan dayah salafi mampu beradaptasi dengan globalisasi yang sedang terjadi tanpa meninggalkan watak kesalafihannya.

Minimal ada beberapa alasan mengapa pesantren (dayah) mempunyai peluang lebih besar dari pada lembaga pendidikan formal pada umumnya: (1) dayah salafi yang ditempati generasi bangsa dengan pendidikan yang tiada batas, (2) pendidikan dayah salafi yang memberikan keseimbangan antara pemenuhan lahir dan batin (3) pendidikan dayah salafi telah tersebar di berbagai wilayah nusantara, dan (4) pendidikan dayah salafi sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan kultur sosial di masyarakat. Dengan demikian, dayah salafi siap dan mampu menyikapi dan mengatasi berbagai macam persoalan akibat derasnya arus globalisasi yang menyeret anak bangsa ke arah keterpurukan akhlak dan hancurnya moralitas.

Menilik hal itu, sewajarnya pemerintah sesegera mungkin melakukan sejumlah rekonstruksi, dari pengembangan kurikulum pendidikan formal yang beroreintasi pada sistem pendidikan Islam, hingga penataan waktu yang lebih untuk pendidikan agama. Lebih dari itu, pemerintah juga harus peka dengan realitas yang berkembang di masyarakat secara holistik, dan kemudian menenentukan langkah-langkah konkret yang strategis dan sistematis dalam menghadapi semua permasalahan pendidikan bangsa ini. []

*Penulis: Tarmizi, S.Sos. I, Guru Pesantren Darul Ulum Alue Awe, Buket Rata Lhokseumawe. Email: mizy_aneukabu@yahoo.com

Editor: Safta

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Pilpres 2014, Media Massa dan Lembaga Survey

‘Valentine Day’ Identik dengan Ajakan Berzina

Related posts
Your comment?
Leave a Reply