8:57 am - Rabu November 22, 2017

Kegalauan Komunikasi Politik jelang Pemilu 2014

400 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh: Muhammad Sanusi

PASCA penutupan pendaftaran caleg, Senin (22/04) bagi partai politik yang dinyatakan lolos verifikasi oleh KPU terlihat rasa gembira karena sudah berhasil menghantarkan jago-jago partainya untuk caleg DPRA dan DPRK di provinsi Aceh.

Single content advertisement top

Namun selang beberapa hari kemudian dikhabarkan oleh berbagi media cetak dan online terjadi teror, ancaman dan intimidasi hingga penembakan terhadap kader partai politik tertentu.

Sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia,  Kamis (25/04)  terjadi teror dan ancaman pada kader Partai Nasional Aceh (PNA). Klimaksnya, Jumat (26/04) seorang kader PNA di Kecamatan Mutiara Pidie tewas didor orang tak dikenal (OTK) (Serambi Indonesia, 27/04)/2013).

Ini membuktikan kondisi dan proses politik yang sedang berjalan di Aceh semakin hari semakin galau kalau tidak mau dikatakan mundur. Sungguh sangat disayangkan, sekaligus menyedihkan jika cara-cara berdemokrasi kuno dan konservatif masih diterapkan dalam masyarakat madani dan modern seperti saat ini.

Pertanyaan sekarang, kenapa cara-cara politik kuno masih menjadi pilihan sebagian orang jelang pesta demokrasi; pemilu atau pilkada? Apakah dengan intimidasi, teror atau pembunuhan dapat menjadikan diri sipelaku sebagai pahlawan demoraksi?

Jika jawabannya tidak, kenapa perbuatan maksiat yang dilarang oleh syar’i itu digandrungi dalam berpolitik. Padahal di alam demokrasi, rakyat bebas menentukan, mendukung dan memilih siapa saja pilihannya sesuai dengan hati nurani.

Sungguh intrik-intrik politik kuno yang dibangun pelaku teror terkadang tidak mendasarkan pada pola pikir sehat dalam upaya pembangunan politik masyarakat, pembangunan daerah, bangsa dan negara.

Akan tetapi lebih kepada gejala pelampiasan egois berlebihan untuk pembenaran ambisi menguasai dengan cara-cara yang tidak manusiawi dan berperikemanusiaan.

Seharusnya dengan tampilnya beragam corong politik direalitas sosial dapat membawa angin perubahan bagi kesejahteraan, pembelajaran masyarakat, pembangunan bangsa dan negara dalam realitas sosial. Bukannya mewacanakan pembodohan bagi masyarakat untuk menuju ke alam kejumudan.

Tapi kini dunia melihat akan bahwa kenyamanan dalam berdemokrasi di Indonesia umumnya, khususnya di negeri Serambi Mekkah sudah mulai tercabik akibat ulah pelampiasan egoisme orang tak dikenal –yang sengaja ingin menciptakan suasana konflik horizontal baru dalam masyarakat Aceh setelah perdamaian tercipta di Aceh 9 tahun lalu lewat traktat Helsinki.

Penulis: Mahasiswa Ilmu Komunkasi FISIP Unimal Lhokseumawe

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Perjuangan Tanpa Henti di Dunia Yang Menggenaskan

Pandangan Islam tentang Kemiripan Anak dengan Orang Tua

Related posts
Your comment?
Leave a Reply