4:27 am - Senin November 20, 2017

Kakek Aneh Penjual Kangkung

303 Viewed Redaksi 0 respond

Cerpen: Masrur Tok

SEWAKTU aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) banyak kejadian-kejadian yang aku alami dan kemudian aku jadikan pelajaran yang berharga dalam hidupku ini. Aku memiliki beberapa teman akrab semasa SMA, bisa di katakan mereka itu adalah sahabat-sahabat terbaik yang pernah aku kenal.

Mereka begitu perhatian terhadap orang lain, mereka selalu ada dalam keadaan suka maupun duka. hampir setiap harinya di sekolah kami menghabiskan waktu bersama, mulai dari belajar bersama, nongkrong bareng dan hampir semua aktivitas kami jalani bersama dengan penuh suka. Namun ada satu kenangan yang sampai sekarang tidak pernah bisa ku lupakan.meskipun aku sudah tidak lagi bersama mereka, karena setelah tamat SMA kami semua berpisah.

Siang itu cuaca begitu panas menyengat, dari dalam kelas aku melihat ke lapangan basket yang belum siap itu seperti padang pasir. Tanahnya yang tandus, gersang dan debunya yang di tiup angin persis dengan pemandangan yang ada di Arab. Guru yang sedang menjelaska pelajaran tak ku hiraukan lagi. Pikiranku saat itu hilang kosentrasi, mungkin karena tadi aku belum sempat istirahat karena mengerjakan tugas sekolah.

Single content advertisement top

Melihat temanku yang sepertinya juga bosan mengikuti pelajaran ini, akhirnya aku mengajak dia untuk keluar menemaniku mencari makan di kantin. setelah minta izin sama guru nya, aku dan temanku ini langsung turun mencari kantin yang masih ada makanan nya, karena hari memang sudah mulai siang, jarang sekali masih ada makanan di kantin pada waktu itu. “eh, jadi kamu mau cari makan dimana? tanya temanku.”  “Gak tahu ni, coba aja kita ke kantin belakang siapa tahu masih ada.  jawabku”.

Setelah itu kami pun bergegas berjalan menuju ke kantin belakang sambil berbincang-bincang. Ketika sampai di kantin, ternyata semua makanan sudah habis. Aku pun hanya bisa menghela nafas sambil menggosok perutku yang sepertinya sudah mulai keroncongan.

Untuk mengisi perutku agar tidak kosong, aku mengajak temanku ke koperasi sekolah. Meski tidak ada lagi nasi setidaknya aku bisa mengisi perutku dengan makanan ringan supaya tidak sakit perut. “Kasian kali kamu ya mas, kata temanku dengan nada sedikit mengolok”.  Iya ni, rasanya mau pingsan ni aku, tidak ada sedikit pun makanan dalam perutku ini, jawabku lemas”.

Oh iya, hari ini kita ada les wajib gak? Tanyaku”. “pastinya adalah kan hari ini hari rabu, emang kenapa mas? jawab nya”.  “Gak ada sih, tapi sepertinya aku rasanya malas ngikutin les wajib hari ini, kataku”.  Iya aku juga sama sih sama kamu mas, gak tahu kenapa rasanya begitu malas hari ini, apalagi cuacanya lumayan penat, enaknya kan nanti pulang sekolah kita ngadem aja.

Cari tempat yang enak buat nongkrong sambil kita refreshing, sela temanku yang mengiyakan juga”. “Wah, ide bagus tu rid, nanti kita coba ajak orang ini dulu ya, gimana? Tanyaku lagi”. “Boleh, boleh nanti pulang sekolah kita gak usah pulang dulu, kita tanya sama mereka apa mereka mau ikut juga, jawabnya”.

Selepas pulang sekolah kami berkumpul di dalam ruangan kelas untuk membahas rencana aku dan farid yang ingin hari ini tidak ikut les wajib, dan mau refreshing. Ketika kami tanyakan sama mereka, mereka dengan cepat merespon pertanyaan kami, dan mereka langsung menjawab iya, tanpa pikir panjang kami pun turun dan mengambil motor kami yang di parkir di perkarangan sekolah.

Lalu kami bergegas meninggalkan sekolah dan mencari tempat tongkrongan yang menurut kami seru dan asik. Setelah kami menemukan tempat yang memang kami anggap cocok kami langsung masuk ke tempat itu, tak lama setelah kami duduk kemudian waiternya menghampiri kami dan menyodorkan aneka daftar menu makanan dan minuman.

Setelah pesanan di hidangkan di atas meja, tanpa basa-basi pun aku langsung menyantap dengan lahap, karena dari waktu istirahat tadi aku belum makan sedikitpun. Melihat aku, mereka juga langsung melakukan hal yang sama. Yang membuat mereka tertawa saat makananku sudah habis, tanpa rasa minder dengan mereka aku pun memesan makanan satu porsi lagi.

Eh mas, itu perut apa tong sampah sih? Keluar canda salah satu temanku.” Aku hanya tertawa dan tidak menanggapi candaan mereka, karena aku saat itu memang benar-benar lapar. Dalam pikiranku saat itu yang penting perut kenyang. Tidak perduli temanku mau bilang apa.

Ketika semuanya telah selesai makannya kami melanjutkan pembicaraan, kami memang biasanya suka bercanda dengan mengolok satu sama lain.dan kami tahu kalau semua olok-olokkan itu hanya sebatas candaan saja, agar suasananya jadi lebih seru dan asik.

Kala asik-asiknya ngobrol tiba-tiba kami di kejutkan oleh suara orang separuh baya, ketika kami memalingkan muka untuk melihat siapa yang menegur kami. Ternyata orangnya itu dapat dikatakan seorang kakeklah meskipun belum terlalu tua.

Kemudian kakek itu menawarkan kami beberapa ikat kangkung yang ada di tangannya. Nak, tolong di beli kangkungnya, “pinta kakek itu”,. Kami semua kebingungan dan heran untuk apa kami kangkung itu, dan di satu sisi kami kasihan sama kakek itu, karena bajunya tampak lusuh dan kelihatan lemas.

Akhirnya kami memberikannya uang saja, namun kakek itu memberikan kangkungnya kepada kami, namun kami tolak. Mungkin kami berfikir kangkung itu bisa di bawa pulang dan menjadi lauk untuk makanannya di rumah. Tapi itu semua salah setelah kami memberikan uang dan kakek itu pergi meninggalkan kami, ia melakukan hal yang sama persis dilakukannya kepada kami tadi.

Ternyata kakek itu menawarkan kangkungnya itu untuk pengunjung lain yang ada di tempat itu. Sontak hal itu membuat kami heran dan tak percaya, kami pun saat itu hanya bisa tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. []

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.

Tewas di Malam Pertama Setelah Tengguk Viagra

Kanwil Dirjen Pajak Aceh Gelar “Tax Goes to Campuss” di Unimal

Related posts
Your comment?
Leave a Reply