3:11 pm - Selasa November 23, 9824

Kain Sarung Hijau

299 Viewed Redaksi 0 respond

Oleh: Masrur Tok

DI sebuah desa nan jauh dari perkotaan hiduplah sebuah keluarga yang sederhana namun harmonis, keluarga ini menjalani hidupnya dengan penuh keihklasan meskipun serba kekurangan. Keluarga kecil bahagia ini terdiri dari pak Amad, bu Siti dan anak tunggalnya Radi.

Pak Amad yang pekerjaan sehari-harinya mocok-mocok yang tidak jelas, dia bekerja jika hanya ada panggilan saja, namun ia tak hanya berdiam diri saja dirumah, apapun ia kerjakan asal mendapatkan rupiah demi rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sedangkan istrinya ibu Siti hanyalah seorang ibu rumah tangga yang menyiapkan segala sesuatu untuk suami dan anaknya tercinta.

Single content advertisement top

Dan buah hati mereka Radi masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) yang memang lagi banyak membutuhkan biaya karena ia sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan masuk SMA, dan hal inilah yang membuat orang tuanya kebingungan memikirkan biaya untuk Radi anaknya.

Meski berat apa lagi yang bisa dilakukan kedua orang tua ini kalau bukan berusaha dan berdoa agar ia dapat menyekolahkan anaknya sampai sarjana dan menjadi orang sukses yang pastinya dapat bermanfaat bagi nusa dan bangsa, itulah harapan setiap orang tua didunia ini.miris rasanya jika pak Amad menghancurkan impian Radi yang ingin menjadi guru agar ia bisa mengajari ilmu yang didapatkannya, sungguh mulia cita-citanya.

Dikarenakan bulan ramadhan sudah dekat hanya tinggal beberapa bulan lagi, Radi mulai resah tak karuan, pasalnya ia malu jika harus taraweh bareng teman-temannya disurai memakai sarung yang sudah lusuh dan tak layak pakai, saat berada didalam kamar.

Radi sedang memandang kain sarungnya yang warnanya sudah tidak jelas lagi warna apa itu, dilihat juga lubang kecil di kain sarungnya hamper disetiap sisi, mungkin karena sudah terlalu lama ataupun digigit tikus, maklum saja di istana kecil Radi ini tidak ada satupun lemari untuk tempat bajunya dan keluarga, mereka hanya menggunakan kardus sebagai lemari ala keluarga ini. Ditambah bilik kamarnya yang tembus karena terbuat dari bambu yang membuat malam keluarga ini menjadi kedinginan tanpa sehelai kain penutup untuk penghangat tubuh.

Pagi itu Radi ingin menyampaikan hasratnya untuk memiliki kain sarung kepada ayahnya, tapi tampaknya ia tak tega saat melihat wajah ayah dan ibunya.dalam hati kecilnya ia menangis merenungi nasib yang harus dijalaninya dan keluarganya, ia berpikir cobaan ini terlalu berat buatnya.

Tiba-tiba suara pak Amad membangunkan lamunan Radi. “Ada apa denganmu Radi?” Tanya pak Amad. “Oh ndak apa-apa pak, masih agak ngantuk aja ni”, jawab Radi.  “Kamu gak usah bohong sama bapak, jujur aja, sebenarnya ada apa denganmu,” Tanya lagi pak Amad.

Sambil menggarukkan kepalanya Radi menjawab pertanyaan bapaknya itu. “kan ni mau masuk bulan puasa pak, jadi Radi pingin punya kain sarung untuk Radi gunakan waktu solat taraweh nanti di mushalla pak, kan kain sarung Radi yang dulu itu udah lusuh kali pak, Radi malu kalau harus pakai sarung itu lagi”, jawab Radi dengan suara memelas.

“Oh jadi itu yang kamu pikirkan daritadi, baiklah akan bapak usahakan beli kain sarung baru untuk kamu”, kata pak Amad berjanji kepada Radi. Benar ini pak? Kalimat Radi seakan memperjelas bahwa bapaknya akan membelikan kain sarung untuknya. “Iya iya, InsyaAllah secepatnya akan bapak belikan untukmu”, jawab pak Amad lagi. “Terimakasih ya pak”, ucap Radi dengan wajah riang karena akan memiliki kain sarung baru.

Pak Amad sebenarnya agak berat saat ia berjanji akan membelikan kain sarung untuk Radi, namun ia tidak ingin melihat Radi kecewa seandainya saja ia menolak permintaannya anak tunggalnya itu. Karena selama ini pun Radi tidak banyak meminta sesuatu pada dirinya.

Pak Amad pun harus bekerja keras agar ia dapat mengumpulkan uang untuk membelikan kain sarung untuk Radi, apapun akan ia lakukan asalakan itu menghasilkan uang, ia juga rela ketika orang disekitar nya meminta jasanya walau hanya sekedar untuk membersihkan kebun mereka. Pak Amad sangat bersemangat dalam bekerja dengan tekad agar keinginan anaknya itu bisa dikabulkan.

Seminggu kemudian ketika keluarganya kecil itu sedang berkumpul di ruang tengah tanpa alas dihiasi dengan atap yang dari daun rumbia, tapi bagi mereka inilah istana mereka tempat mereka berteduh disaat hujan dan teriknya matahari.“Bu, tolong panggilkan Radi”, perintah pak Amad. “iya pak”, jawab bu siti sambil berjalan menuju ke kamar Radi.

“Radi, kamu dipanggil bapak tu”, kata bu Siti pada anaknya itu. “Oh iyaya bu, sebentar lagi Radi keluar’, jawab Radi.“Iya pak, ada apa ya pak”, Tanya Radi agak sedikit heran. “Kan kemarin itu bapak sudah berjanji akan membelikan sarung baru untuk kamu, nih sarungnya (sambil menyodorkan kain sarung berwarna hijau) bapak harap kamu senang dengan pemberian bapak ini”, kata pak Amad.

“Waduuh terimakasih banyak ya pak, Radi senang sekali, karena sekarang sudah punya kain sarung baru”, jawab Radi kegirangan. Iya, hanya satu pesan bapak, jangan pernah kamu tinggalkan shalat ya nak, dimanapun kamu berada jangan pernah lupa kamu tunaikan kewajiban yang lima itu, dan pak Amad memberikan nasihat pada anaknya.

Radi sempat tersentak mendengar perkataan yang keluar dari mulut bapaknya itu, seakan itu sebuah pesan isyarat terakhir dari bapaknya, Astagfirullah namun ia membuang jauh-jauh pikiran itu. “Iya pak, Radi janji akan rajin shalat”, jawab radi dengan nada lemas. Tak ada yang menyangka tiga hari kemudian setelah ia mendapatkan sebuah kain sarung hijau dari bapaknya itu, pak Amad pergi untuk selama-lamanya meninggalkan istri dan anaknya tercinta.

Saat itu Radi menangis terisak-isak sambil memegang kain sarung permberian pak Amad yang menjadi pemberian terkahir kepadanya, sekaligus memiliki makna tersendiri buat Radi, bahwa kain sarung ini adalah wasiat dari bapaknya agar ia selalu mengingat Allah dan tidak meninggalkan shalatnya. Dalam hatinya Radi menggumam, “Bapak akan aku jaga kain sarung hijau ini, karena dengan menjaganya aku juga telah menjaga wasiatmu”.[*]

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

‘Dia Melindungiku Dan Menyakitiku’

Bintang Kelam

Related posts
Your comment?
Leave a Reply