9:43 am - Selasa November 21, 2017

Jihad Tjoet Nyak Dhien, Dari Aceh Hingga Ke Sumedang

369 Viewed Redaksi 0 respond
single-thumb.jpg

TJOET NJAK DIEN lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang sangat taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, uleebalang VI Mukim, bagian dari wilayah Sagi XXV. Leluhur dari pihak ayahnya, yaitu Panglima Nanta, adalah keturunan Sultan Aceh yang pada permulaan abad ke-17 merupakan wakil Ratu Tajjul Alam di Sumatra Barat. Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang bangsawan Lampagar.

Tjoet Nya’ Dhien, Sang Mujahidah Sekaligus Pejuang Aceh (ilustrasi:google)

Tjoet Nyak Dhien memberikan cacatan emas yang sangat tebal sebagai seorang istri, ibu, dan pejuang yang taat kepada Allah. Tidak hanya rakyat Aceh, rakyat di luar Aceh pun sangat bercermin atas perjuangan beliau, dalam kondisi sakit dan tertawan pun terus menggerakkan perjuangan Rakyat Aceh terhadap kolonial Belanda.

Sebagaimana lazimnya putri-putri bangsawan Aceh, sejak kecil Tjoet Njak Dien memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan agama. Pendidikan ini selain diberikan orang tuanya, juga para guru agama. Pengetahuan mengenai rumah tangga, baik memasak maupun cara menghadapi atau melayani suami dan hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari, didapatkan dari ibunda dan kerabatnya. Karena pengaruh didikan agama yang amat kuat, didukung suasana lingkungannya, Tjoet Njak Dhien memiliki sifat tabah, teguh pendirian dan tawakal.

Tjoet Njak Dien dibesarkan dalam lingkungan suasana perjuangan yang amat dahsyat, suasana perang Aceh. Sebuah peperangan yang panjang dan melelahkan. Parlawanan yang keras itu semata-mata dilandasi keyakinan agama serta perasaan benci yang mendalam dan meluap-luap kepada kaum kafir.

Tjoet Njak Dien dinikahkan oleh orang tuanya pada usia belia, yaitu tahun 1862 dengan Teuku Ibrahim Lamnga putra dari uleebalang Lam Nga XIII. Perayaan pernikahan dimeriahkan oleh kehadiran penyair terkenal Abdul Karim yang membawakan syair-syair bernafaskan agama dan mengagungkan perbuatan-perbuatan heroik sehingga dapat menggugah semangat bagi yang mendengarkannya, khususnya dalam rangka melawan kafir (Hourgronje, 1985: 107).

Single content advertisement top

Setelah dianggap mampu mengurus rumah tangga sendiri, pasangan tersebut pindah dari rumah orang tuanya. Selanjutnya kehidupan rumah tangganya berjalan baik dan harmonis. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.

Ketika perang Aceh meletus tahun 1873, suami Tjoet Njak Dien turut aktif di garis depan sehingga merupakan tokoh peperangan di daerah VI Mukim. Karena itu Teuku Ibrahim jarang berkumpul dengan istri dan anaknya. Tjoet Njak Dien mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan, bahkan menjadi pendorong dan pembakar semangat juang suaminya. Untuk mengobati kerinduan pada suaminya yang berada jauh di medan perang, sambil membuai sang buah hatinya ia menyanyikan syair-syair yang menumbuhkan semangat perjuangan.

Ketika sesekali suaminya pulang ke rumah, maka yang dibicarakan dan dilakukan Tjoet Njak Dien tak lain adalah hal-hal yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kaum kafir Belanda. Keterlibatan Tjoet Njak Dien dalam perang Aceh kentara sekali ketika terjadi pembakaran terhadap Mesjid Besar Aceh. Dengan amarah dan semangat yang menyala-nyala ia berseru:

Hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala, tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda?” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Bertahun-tahun peperangan kian berkecamuk. Karena keunggulan Belanda dalam hal persenjataan dan adanya pengkhianatan satu per satu benteng pertahanan Aceh berjatuhan, termasuk Kuta (benteng) Lampadang. Karena terdesak Tjoet Njak Dien beserta keluarganya terpaksa mengungsi. Pada sebuah pertempuran di Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim Lamnga gugur.

Meski kematian suaminya menimbulkan kesedihan yang dalam bagi Tjoet Njak Dien, tapi ini tak membuatnya murung dan mengurung diri. Sebaliknya, semangat juangnya kian berkobar. Sebagai seorang janda yang masih muda dengan seorang anak, ia tetap ikut bergerilya melawan Belanda. Menurut orang yang dekat dengannya, Tjoet Njak Dien pernah bersumpah hanya akan menikah dengan orang yang turut membantunya melawan Belanda.

Kehadiran seorang figur seperti Teuku Umar yang juga adalah pemimpin perjuangan yang gagah berani, sangatlah berarti bagi rencana perjuangan Tjoet Njak Dien. Meski masih saudara sepupu, dia baru bertemu dengan Teuku Umar saat upacara pemakaman suaminya. Karena sama-sama terikat dalam jihad fi Sabilillah maka pasangan ini kemudian menikah pada 1878.

Perlawanan terhadap Belanda kian hebat. Beberapa wilayah yang sudah dikuasai Belanda berhasil direbutnya. Dengan menikahi Tjoet Njak Dien mengakibatkan Teuku Umar kian mendapatkan dukungan. Meskipun telah mempunyai istri sebelumnya, Tjoet Njak Dien lah yang paling berpengaruh terhadap Teuku Umar. Perempuan inilah yang senantiasa membangkitkan semangat juangnya, mempengaruhi, mengekang tindakannya, sekaligus menghilangkan kebiasaan buruknya.

Selanjutnya Tjoet Njak Dien terpaksa meninggalkan Montasik, Aceh Besar, karena kepala Mukim menyerah pada Belanda. Pada saat itulah Tjoet Njak Dien melahirkan putrinya yang diberi nama Tjoet Gambang yang kemudian dinikahkan dengan Teungku Di Buket, anak laki-laki Teungku Tjik Di Tiro (ulama dan pejuang Aceh, yang juga merupakan salah seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia). Anak dan menantu Tjoet Njak Dien ini pun gugur sebagai syuhada melawan Belanda.

Melihat perjuangan yang tanpa kenal lelah, dengan persenjataan apa adanya, kemudia Teuku Umar menerapkan taktik mematikan lawan dengan cara bersandiwara “menyerah dan sumpah setia” pada Belanda. Ketika sudah mendapatkan berbagai fasilitas, Teuku Umar justru bertambah semangat dalam melakukan jihad fisabilillah untuk membasmi Belanda di bumi Aceh.

Keadaan ini menyebabkan kemarahan besar Belanda hingga membuat Tjoet Njak Dien dan Teuku Umar beserta para pengikutnya yang setia terpaksa memasuki hutan rimba. Dari belantara inilah Teuku Umar memimpin perlawanan.

Dalam sebuah serangan ke Meulaboh Teuku Umar tertembak pada 11 Februari 1899. Dengan tabah dan tawakal Tjoet Njak Dien menerima berita duka ini. Sepeninggal Teuku Umar, Tjoet Njak Dien memimpin langsung perlawanan. Sejak meninggalnya Teuku Umar Johan, selama 6 tahun lebih Tjoet Njak Dien mengordinasikan serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Segala barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk mengisi kas peperangan.

Tjoet Nya’ Dhien Ketika Memimpin Perang (ilustrasi:google)

Lama-lama pasukan Tjoet Njak Dien juga melemah karena kekurangan persenjataan dan akomodasi. Kehidupan putri bangsawan ini kian sengsara akibat selalu hidup di dalam hutan dengan makanan seadanya. Usianya kian lanjut, kesehatannya kian menurun. Tapi, ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah sebagai jalan pembebasan dari kehidupan yang serba terpencil dan penuh penderitaan ini, Tjoet Njak Dien menjadi sangat marah.

Ketika tertangkap wanita yang sudah tak berdaya dan rabun ini, mengangkat kedua belah tangannya dengan sikap menentang. Dari mulutnya terucap kalimat, “Ya Allah ya Tuhan inikah nasib perjuanganku? Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepada kafir”. Kemudian berusaha mencabut rencong untuk menikam Letnan Van Vureen yang memimpin operasi penangkapan itu.

Setelah ditangkap Tjoet Nyak Dhien di bawa ke Kutaraja (red-Banda Aceh sekarang). Penempatan Tjoet Njak Dien di Kutaraja mengundang kedatangan para pengikutnya. Karena khawatir masih bisa menggerakkan semangat perjuangan Aceh, Tjoet Njak Dien terpaksa dijatuhi hukuman pengasingan oleh Belanda ke Sumedang, Jawa Barat.

Tjoet Nya’ Dhien dan Para Pengawalnya Saat Tua renta (ilustrasi:blogspot)

Di Sumedang tak banyak orang tahu perempuan ini. Tua renta dan bermata rabun. Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih tak lepas dari tangannya, juga sebuah periuk nasi dari tanah liat. Dia datang ke Sumedang bersama dua pengikutnya sebagai tahanan politik Belanda, yang ingin mengasingkannya dari medan perjuangannya di Aceh pada 11 Desember 1906.

Perempuan tua itu lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Bupati tak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat.

Sebagai tahanan politik, perempuan yang kemudian oleh masyarakat digelari ibu Perbu (Ratu) itu, jarang keluar rumah. Tapi banyak sekali ibu dan anak setempat yang datang mengunjunginya, untuk belajar mengaji meskipun dalam keadaan mata yang sudah rabun –karena banyak sekali ayat suci yang dihafalnya.

Kegiatan lain selain mengajar mengaji hanyalah berdzikir dan beribadah di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Ia terus bertaqarrub kepada Sang Pencipta serta menikmatinya, seolah meninggalkan keinginan duniawi. Di antara mereka yang datang banyak membawakan makanan atau pakaian, selain karena mereka menaruh hormat dan simpati yang besar, juga karena Ibu Perbu tak bersedia menerima apapun yang diberikan oleh Belanda.

Keadaan ini terus berlangsung hingga 6 November 1908, saat Ibu Perbu meninggal dunia. Dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh, sebuah komplek pemakaman para bangsawan pangeran Sumedang, tak jauh dari pusat kota Sumedang. Sampai wafatnya, masyarakat Sumedang belum tahu siapa sesungguhnya perempuan yang banyak memberikan manfaat bagi masyarakat itu, bahkan hingga kemerdekaan Indonesia.

Makam Tjoet Nya’ Dhien di Sumedang, Jawa Barat (ilustrasi:vivablog)

Ketika masyarakat Sumedang beralih generasi dan melupakan Ibu Perbu, pada tahun 60-an berdasarkan keterangan dari pemerintah Belanda baru diketahui bahwa Tjoet Njak Dhien, seorang pahlawan wanita Aceh yang terkenal telah diasingkan ke Pulau Jawa, Sumedang, Jawa Barat.

Pengasingan itu berdasarkan Surat Keputusan No. 23 (Kolonial Verslag 1907:12). Akhirnya dengan mudah dapat dipastikan bahwa Ibu Perbu tak lain adalah Tjoet Njak Dhien yang diasingkan Belanda bersama seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Teungku Nana berusia 15 tahun.

Pada 2 Mei 1964, melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106, Tjoet Njak Dien ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, sebagai penghargaan terhadap jasa-jasanya yang besar. Makamnya kemudian dipugar dan dibangun sebuah meunansah (mushalla) di dekatnya. Menjelang akhir hidupnya, di Sumedang, di daerah yang sangat asing baginya, Tjoet Njak Dien masih juga berperang dalam pertempuran lain, yakni perlawanan terhadap penjajahan kebodohan.

Pada dinding makam sebelah kiri terdapat tulisan “Karena Jihadmu Perjuangan Aceh beroleh kemenangan dari Belanda kembali ketangan rakyat sendir kegirangan. Itulah sebab sebagai kenangan , kami teringat terangan-angan, akan budiman Pahlawan Junjungan, Pahlawan Wanita berjiwa Kayangan”.
Ditulis menggunakan bahasa melayu sebelum ejaan yang disempurnakan (EYD), disebelahnya dengan menggunakan tulisan arab gundul (berbahasa melayu juga), sedangkan dinding kanan menggunakan bahasa Aceh. Semoga Allah SWT menempatkan arwah beliau didalam surga-Nya. Amiin”. (berbagai sumber).
Editor: @redaksi

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Sekjen FUI: Peringati HUT Jakarta, Baca Riwayat dan Sejarah Fatahilah

Kiat Menyiapkan Diri Menyambut Ramadhan

Related posts
Your comment?
Leave a Reply