2:15 am - Minggu November 19, 2017

Ilmuwan Indonesia Pamerkan Pemindai Otak 4D Pertama di Dunia

108 Viewed Redaksi 0 respond

Jakarta – Ilmuwan Indonesia, Warsito P Taruno, memamerkan alat pemindai aktivitas otak pertama di dunia ciptaannya. Ia mempresentasikan ciptaannya di International Symposium on Biomedical Imaging yang diselenggarakan IEEE di San Fransisco, Amerika Serikat, 7-13 April 2013.

Alat oemindai otak ciptaan Warsito bernama 4D Brain Activity Scanner berbasis Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). Alat itu telah dipatenkan di lembaga paten dunia WIPO/PTO tahun 2006. IEEE sendiri adalah organisasi ilmiah profesional beranggotakan 425.000 orang.

Single content advertisement top

“ECVT digunakan untuk mengukur sinyal-sinyal listrik yang dihasilkan dari aktivitas otak manusia dan merekonstruksi citra volumetrik dan aktivitas otak,” ungkap Warsito dalam rilis yang diterima Kompas.com, Jumat (12/4/2013).

“Ini adalah teknologi pertama di dunia yang bisa melakukan pemindaian terhadap aktivitas otak manusia secara 4D dan real time, yang bisa digunakan untuk membantu melakukan studi terhadap otak manusia,” imbub Warsito.

Denganalat tersebut, abnormalitas pada otak manusia bisa terlihat. Warsito mengungkapkan, dari abnormalitas itu, bisa idketahui apakah seseorang memiliki penyakit tertentu, seperti epilepsi dan Alzheimer.

Warsito merupakan Direktur Eksekutif CTECH Labs Edwar Technology, lembaga riset yang berlokasi di Alam Sutera, Tangerang Selatan, yang fokus pada pengembangan teknologi pemindaian yang mendukung dunia kedokteran.

Dalam simposium International Symposium on Biomedical Imaging, Warsito adalah satu-satunya pemakalah dari Indonesia. Hanya segelintir pemakalah berasal dari Asia. Total, ada 371 makalah yang dipresentasikan dari 700 pengaju dari seluruh dunia.

Sumber: kompas.com

News Feed
Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Semut Diduga Bisa Mendeteksi Gempa Bumi

Related posts
Your comment?
Leave a Reply