11:15 am - Jumat September 22, 2017

Hari Aksara, Gubernur: Kepala Daerah/Kota Serius Tangani Tuna Aksara

248 Viewed Redaksi 0 respond
Peringatan Hari Aksara ke 49 di Takengon (foto: m.sanusi/pikirreview)

Takengon—Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, menegaskan bahwa seluruh kepala daerah kabupaten/kota serius berantas masyarakat “tak bisa baca tulis latin” atau tuna aksara di Aceh yang semakin menjadi.

Demikian benang merah isi pidato Gubernur Aceh yang dibacakan oleh Wakil Bupati Aceh Tengah Drs. Khairul Asmara saat pembukaan Hari Aksara ke-49 di Aceh yang dipusatkan dilapangan Musara Alun-alun Kota Takengon, Aceh Tengah, hari ini

Pemerintah Aceh saat ini giat melakukan pencegahan tuna aksara, seperti halnya memberikan afirmasi yang mencakup akses bahan pengajaran dan bahan ajar, pemberdayaan perempuan, dan peningkatan budaya baca serta secara konstektual berbasis lokal bahasa ibu serta teknologi informasi dan komunikasi.

Single content advertisement top

“Kebijakan afirmasi juga diarahkan untuk kecakapan hidup bagi remaja tuna aksara” tulis gubernur dalam naskah pidatonya.

Diakuinya, rawan tuna aksara termasuk kawasan tertinggal dan terpencil terutama didominasi dari kaum perempuan. Hal ini dikarenakan dari segi geografis, ekonomi, usia, bahasa dan intesitas, penyebabnya karena kurang mempunyai akses terhadap pembelajaran keaksaraan  dan bahan pembacaan.

Data BPS menyebutkan, angka tuna aksara usia 15 sampai 59 tahun di Aceh, sebesar 2,2 persen, turun 0,28 persen pada tahun 2013.

“Di Aceh terdapat dua kabupaten yang banyak ditemukan penderita tuna aksara di atas rata-rata nasional yakni Gayo Lues memiliki tuna aksara 6,99 persen, dan Simeulu 0,7 persen.

Sementara tuna aksara di Aceh Tahun 2011 pada tingkat 20 secara nasional. Tahun 2012 turun menjadi tingkat 24 dari 33 provinsi di Indonesia, 2013 semakin menurun menjadi 97,50 persen.

Sedangkan Kabupaten/kota di Aceh yang termasuk tuna aksara fungsional adalah Gayo Lues 9,63%, Pidie Jaya 7,19%, Nagan Raya 6,7%, Pidie 5,4%, Aceh Barat Daya 5,35%, Aceh Singkil 5,26% dan Aceh Selatan 5,10%.

“Saya juga mengharapkan agar Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang merupakan pendidikan Non-formal dapat digalakkan kembali, karena kita nilai itu sangat membantu penderita tuna aksara bangkit dari kekurangan yang dimilikinya” kata Zaini Abdullah.

Uniknya Tuna Aksara Di Aceh

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Aceh Anas M.Adam memaparkan, meski tuna aksara termasuk tinggi di Aceh, namun para penderita tuna aksara di Aceh sangatlah unik. Pasalnya, para penderita tuna aksara mampu menguasai Arab Melayu secara fasih.

“Cuma pemerintah sudah tidak mengakui lagi keahlian itu, artinya pemerintah sudah menetapkan bagi masyarakat yang tidak bisa baca tulis (latin), berarti mereka dianggap tuna aksara” ujarnya. (Nusi)

Redaktur: Khairu S

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Hari Ini, Gubernur Aceh Terima Penghargaan UNESCO

Anak Yatim Aceh Diundang Raja Arab Saudi Berhaji

Related posts
Your comment?
Leave a Reply