11:43 am - Selasa November 21, 2017

Harapan Masyarakat di Pemilu 2014

415 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi (foto: ist)
Muhammad Fuadi

Muhammad Fuadi

Oleh: Muhammad Fuadi*

MENJELANG pemilihan umum legislatif  (pileg) yang  segera dilaksanakan esok, Rabu (09/4/2014) secara serentak di seluruh Indonesia. Beragam harapan muncul ke permukaan, terutama kehidupan masyarakat bangsa akan lebih baik ke depannya, agar rakyat tidak sia-sia memilih wakil-wakilnya di parlemen, atau pemimpinnya di singgasana kepresidenan.

Dalam konteks Indonesia, pemilu lazim disebut sebagai pesta demokrasi rakyat untuk memilih pemimpinnya sebagai pengelola negara, penggerak pembangunan bangsa, pengayom kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkeadilan sosial. Sementara pemilu legislatif berarti rakyat berpesta untuk memilih para wakil-wakilnya untuk duduk di parlemen sebagai penyambung lidah, saluran aspirasi dan keluhan rakyat demi perbaikan nasib rakyat dan bangsa.

Miris, di realitas, saat proses tahapan pemilu berjalan, telah melukai nilai-nilai demokrasi, bahkan terjadi pertumpahan darah, memakan korban jiwa dan pemusnahan harta benda rakyat pemilih. Akibat pemaksaan kehendak demi kepentingan poltik sesaat dari parpol yang mengusung calon legilatif (caleg).

Single content advertisement top

Demokrasi dijadikan slogan belaka, sementara nilai fan falsafah demokrasi acapkali diabaikan. Slogan demokrasi yang diagungkan seperti dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun dalam proses perjalanan menuju pemilu, sebelum hari pemungutan suara, rakyat dijadikan korban slogan demokrasi. Salah siapa ini? Demokrasi, Rakyat, Pemerintah atau Parpol?

Pemilu Pasca Reformasi

Pasca reformasi  yaitu tahun 1998 menjadi titik ledakan perubahan demokrasi untuk wajah Indonesia baru, hingga kebebasan dan tranparansi publik menjadi slogan baru dalam masyarakat Indonesia.

Pada 1999 lalu, pemilu era reformasi dimulai. 48 kontestan parpol dan yang lolos ke parlemen sebanyak 21 parpol hal ini menandakan proses demokrasi sudah mulai mewarnai tubuh burung garuda. Dan pada tahun 2004 ada sebanyak 24 partai politik yang betraung memperebutkan kursi parelemn dan hanya 16 parpol yang dinyatakan lolos. Pada tahun 2009 ada 38 parpol dan uniknya ada 6 partai lokal yang ada di aceh dan 9 parpol dinyatakan lulus ke parlemen. Pada tahun 2014 ada 12 parpol nasional dan 3 partai lokal dinyatakan berhak ikut pesta pemilu Indonesia.

Denngan sederetan tahapan pemilu pasca reformasi diharapkan semakin baik untuk kondisi kekinian bangsa ini. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan realitas angka pemilih atau partisipasi masyarakat yang semakin mengkhawatirkan hal ini tercatat dalam penelitian yang dilakukan oleh Insis Mochtar W Oetomo.

Oetomo menerangkan  pada tahun 1999 partisipasi pemilih mencapai 92,74%, tahun 2004  84,07% dan pada tahun 2009 mencapai  79%  hal ini menjadi dilematis bagi perkembangan wajah demokrasi Indonesia yang semakin surut minat pemilih dan terdaftar. Semakin tahun angka partisipasi pemilih semakin menurun hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah kurang percanya masayarakat terhadap para calon legislatif dan eksekutif?

Sehingga tidak salah ditahun 2014 ini pemerintah melalui Komisi Pemilihan Umum (KPU) membentuk suatu wadah yang diberi nama “relasi” atau relawan Demokrasi yang tujuannya adalah percerdasan pemilihan dalam rangka meminimalisir angka golput terahadap masyarakat.

Tanggung Jawab Dan Harapan 

Dalam upaya menciptakan keberlangsungan pemilu aman, damai dan lancar pada tahum 2014 ini, harus terlibat semua unsur untuk mendukung jalannya pesta demokrasi yang demokratis, bebas, jujur dan adil.

Karenanya, ada beberapa unsur yang sangat penting dalam proses ini, diantaranya; yang pertama, pihak kemanan, dalam hal ini intitusi Polri menjadi tanggung jawab penting dalam menjaga keamanan. Pihak  keamanan harus tegas menjaga dan menugusut kasus-kasus kekerasan yang terjadi selama pemilu sehingga para preman politik tidak berani mengganggu pesta demokrasi rakyat lima tahunan itu.

Kedua, Komisi Pemilihan Umum (KPU, Komisi Idependen Pemilu (KIP) dan Bawaslu harus menjadi patron utama sebagai penyelenggara pemilu. Pihak penyelenggara pemilu ini, juga harus menindak tegas para kontestan pemilu yang tidak mengikuti aturan perundang-undangan sistem pemilu. Ketiga, sebagai masyarakat , lembaga swadaya masyarakat dan seluruh elemen sipil harus ikut partisispasi bertanggung jawab menjaga ketertiban demi terselenggaranya pemilu damai.

Berfungsinya usur-unsur tersebut, maka diharapkan dapat terwujudnya pemilu legislatif atau eksekutif pada 2014 ini. Masyarakat dan bangsa hanya berharap dengan berjalannya pemilu damai, bebas, jujur dan adil sebagai modal perubahan bangsa yang lebih baik ke depannya.[]

Penulis: Presiden Mahasiswa STAIN Malikussaleh Lhokseumawe periode 2014-2015, dan Alumni Sekolah Demokrasi Aceh Utara angkatan ke III.

Editor: Safta

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Kesadaran Manusia Merajut Keharmonisan

Aksi Teror Bus Aceh, Siapa Peduli !

Related posts
Your comment?
Leave a Reply