3:03 pm - Kamis Agustus 22, 0999

Gaya Penghancuran Akidah di Bumi Aceh

402 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi Pemurtadan (azrihermawan.files.wordpress.com)

Oleh: Miswar, S.Ag*

BERBAGAI cara dilakukan oleh kaum musyrikin atau kaun anti Islam dalam menebar fitnah, menghasut, mengadu domba untuk menghancurkan Islam di nusantara, khususnya di Bumi Aceh.

Informasi pelbagai media dan dunia maya 9sosmed) menjadi fenomel dari hari kehari. Mulai dari sisipan  formalin dalam daging ayam atau sapi yang diperjualbelikan pedagang, siomay dan bakso daging celeng, minuman dan makanan ringan anak-anak sekolah dasar, gaya hidup keluyuran, fashion dan mode, hingga radikalisme agama yang disipkan dalam buku-buku agama di sekolah dasar hingga menengah atas.

Dalam buku-buku pelajaran di sekolah pikiran-pikiran kaum liberal, sekuler dan anti Islam dikemas dengan begitu rapi, seolah-oleh itu kerja tim penyusun buku agama, seperti  terjadi di Jombang Jawa Timur, buku agama untuk tingkat SMA disusupi radikalisme agama, seperti siswa dibolehkan membunuh kaum kafir macam kekerasan yang dirilis via video atau youtube ala ISIS.

Sementara pada buku-buku agama sekolah dasar untuk Aceh, beberapa belun lalu disusupi racun mematikan keyanikan beragama anak dengan tulisan murtad seperti tuhan yesus juru selamat.

Single content advertisement top

Misi kaum liberal dan misionaris dan rabi-rabi yahudi memiliki program penghancuran Islam dengan berbagai cara; melalui uang, pekerjaan, kesenjangan sosial, kemiskinan, sistem tardisi yang kental, fanatisme atau melalui celah eforia publik, termasuk kegaulauan politik di suatu wilayah mayaoritas Islam.

Karena itu, para kaum liberal, sekuler, freemason dan misionaris tidak pernah berhenti sampai disitu saja, aktivitas mereka seperti di Aceh misalnya– lebih menyoroti aspek ekonomi, pekerjaan dan fanatisme religius dan budaya. Maka dari itu mereka dengan haus dan elok membentuk ratusan LSM donor atau lembaga pemberdayaan ekonomi, di setiap daerah/kabupaten/kota.

Gaya kerja mereka cukup rapi dan halus -terinspirasi metode yang diterapkan Snock Hockrange tempo dulu. Dengan cara ini tidak sedikit tokoh-tokoh kampung yang menjadi anutan masyarakat di berbagai kabupaten/kota di Aceh telah murtad menjadi pendeta.

Disamping mereka mendirikan LSM, mereka juga menerbitkan buku-buku atau produk sesat, yang jika dilirik sepintas tidak ada beda dengan buku-buku agama Islam yang murni.

Pesan-pesan anomi dan penghancuran akidah umat Islam baru disadari ketika anak-anak sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan atas berdebat hebat dengan orang tuanya di rumah. Ketika dicari tahu asal usulnya, baru teungkap diajar di sekolah oleh guru agama.

Boleh jadi, ke-eforiaan warga bersama batu giok, akik dan sejenisnya dalam setahun terakhir merupakan ruang baru yang mereka tunggu-tunggu. Melirik realitas, suatu kesempatan besar untuk meracuni akidah umat Islam. Metode oprasionalnya, dengan cara memberi nilai ekonomis yang tinggi pada batu giok atau akik yang sedang mewabah di seantero nusantara.

Dengan harga beli yang tinggi, khususnya muslim yang rentang ekonominya pas-pasan bisa mencari 24 jam jenis batu giok atau akik untuk mendapatkan uang yang banyak.

Selain itu, disetiap sudut jalan atau emperan toko juga orang disibukkan dengan mesin pengasah batu-batuan tersebut dari sejak pagi hingga malam hari.

Dengan cara ini, orang Islam (di KTP-nya)  tidak ingat lagi dengan kewajiban dalam menjalankan ajaran agamanya, misalnya mendirikan shalat lima waktu.

Pada akhirnya, para kaum liberal dan misionaris bisa menulis buku lagi, menulis artikel atau opini dengan mendasarkan pada hasil surveinya, bahwa orang Islam sudah meninggalkan ajaran agamanya.

Buktinya tulis mereka, meunasah dan masjid-masjid tidak lagi ada orang shalat berjamaah pada setiap shalat lima waktu, sedang masjid ribuan jumlahnya selalu kosong tanpa shalat berjamaah. Index kuantitas ini menjadi penting bagi dunia ilmiah, sebab para mahasiswa, akademisi, peneliti lain siap mengutip hasil survei yang dilakukan kaum anti Islam. Mau bilang apa!

Penulis: Guru SMPN 2 Mutiara, Kabupaten Pidie.

Editor: Safta Diputra

 

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

‘Valentine Day’ Identik dengan Ajakan Berzina

Related posts
Your comment?
Leave a Reply