12:48 pm - Senin November 20, 2017

Duh…Kesehatan Masyarakat Pulo Aceh di Tangani ‘Jin’

183 Viewed Redaksi 0 respond

Janthou, Aceh Besar–Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, Iwan Sulaiman menilai, persoalan kesehatan di Pulo Aceh adalah masalah serius yang harus diperhatikan Pemkab, di samping pendidikan dan ketersediaan infrastruktur lainnya.

“Pulo Aceh sangat tertinggal di segala bidang. Pulo Aceh itu berbeda dengan daerah terpencil lain karena masyarakatnya ada di dua pulau berbeda,” ujar Iwa, seperti dilansir Okezone.

Iwan merupakan legislator dari daerah pemilihan (dapil) dua yang meliputi Pulo Aceh, Kecamatan Peukan Bada, Lhok Nga, Leupung dan Lhoong. Ada tujuh wakil rakyat dari dapil ini, tapi tak seorang pun yang asli putra Pulo Aceh.

Tokoh masyarakat Meulingge, Nurdin Ibrahim, menilai ketiadaan putra Pulo Aceh di parlemen menyebabkan aspirasi mereka sering kandas dan daerah itu terus teringgal. Janji perhatian pemerintah, tapi tak pernah terwujud.

Iwan tak sepakat dengan itu. “Kami sering turun ke sana, kami selalu mendengar keluhan masyarakat. Tiap tahun saat Musrembang kami selalu hadir, kami mendengar keluhan mereka,” ujarnya.

Single content advertisement top

Iwan mengaku, selalu menyampaikan keluhan kekurangan tenaga medis di sana. “Tetapi dinas selalu beralasan masalah teknis, seharusnya ada upaya penambahan tenaga khusus kesehatan,” ujarnya.

Dinas Kesehatan diminta meninjau kembali distribusi tenaga kesehatan. Sekarang, kata dia, petugas medis banyak menumpuk di wilayah dekat perkotaan, sedangkan daerah terpencil masih minim.

Soal tambahan ambulans, Iwan yang sudah empat tahun menjadi wakil rakyat mengaku, belum pernah mengusulkannya kepada eksekutif, kecuali hanya sebatas penyampaian lisan.

Pemkab juga didesak untuk menghidupkan Pustu, bangunan kesehatan, yang ada di Pulo Aceh, karena akses ke Puskesmas kecamatan sulit dijangkau sebagian warga, khususnya yang tinggal di Pulau Nasi. Mereka harus menyeberang laut hingga satu jam lebih.

Pemkab Aceh Besar sendiri kini dinilai sulit meningkatkan pembangunan daerah terpencil dengan anggaran yang ada. Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) 2013 yang mencapai Rp876,9 miliar, kata Iwan, porsinya masih cenderung besar untuk belanja pegawai.

“Bisa dikatakan hanya 40 persen alokasinya untuk belanja publik, selebihnya untuk pegawai,” sebut politikus Partai Keadilan Sejahtera itu.

Iwan yang pernah menjadi Ketua Komisi E DPRK Aceh Besar yang salah satunya membidangi kesehatan, mengaku, tak tahu berapa alokasi total anggaran bidang kesehatan tahun ini termasuk untuk Pulo Aceh.

“Pokoknya masih kurang, tapi saya tidak ingat ini. Coba tanya ke dinas,” ujar dia.

Setali tiga uang, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, Wahyu Zulfansyah juga tak mampu menjawabnya. “Saya tidak tahu angkanya. Itu (anggaran kesehatan) hanya bagian perencanaan yang tahu,” katanya saat ditemui di kantornya.

Meski Pemkab Aceh Besar sudah ada situs resmi yang juga mempublikasikan plot dana untuk masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam Penetapan Kinerja Tahun 2013, namun tak ditemukan rincian anggaran untuk Dinas Kesehatan.

Dalam Laporan Akuntabilitas Keuangan Instansi Pemerintahan (Lakip) Aceh Besar 2012 disebutkan, Dinas Kesehatan mendapat alokasi anggaran senilai Rp19,38 miliar dari APBK, tapi realisasinya hanya Rp12,83 miliar atau sebesar 66 persen.

Wahyu berkilah, dinasnya tak mengalami kekurangan anggaran untuk meningkatkan layanan kesehatan. “Anggaran cukup, tidak ada yang kurang. Yang kurang itu tadi, tenaga kesehatan,” ujarnya.

Di Aceh Besar ada 28 Puskesmas dari 23 kecamatan, semua Puskesmas sudah memiliki dokter umum, namun dokter ahli seperti spesialis gigi belum semuanya ada.

Selain itu, kata Wahyu, perawat, bidan, ahli gizi dan analis juga terbatas. Bidan sendiri kini baru ada 400 orang, sedangkan jumlah desa di Aceh Besar sebanyak 604 dengan penduduk mencapai 373 ribu jiwa. “Jangan harap bisa ditempatkan di semua desa,” ujarnya.

Kekurangan tenaga dokter bukan hanya masalah di Aceh Besar. Provinsi Aceh secara keseluruhan juga mengalami.

Soal kebutuhan dokter misalnya, berdasarkan penelitian Public Expenditure Analysis and Capacity Strengthening Program (PECCAP) pada 2012, rasio dokter di Aceh adalah 1:4.000 orang, masih di bawah rasio nasional yang 1:2.500.

“Jumlah dokter di Aceh tahun 2012 adalah 1.200 artinya masih kekurangan 600 orang lagi,” kata Rachmat Suhanda, Peneliti PECCAP.

Wahyu menilai, distribusi tenaga medis sudah merata, termasuk di Pulo Aceh. Sebanyak 31 petugas medis di kepulauan itu dinilai sudah lumayan. “Kita sudah tempatkan sampai ke desa-desa untuk memudahkan akses masyarakat,” sebutnya.

Bagaimana dengan warga pelosok Pulo Aceh seperti Meulingge, Rinon, Alue Raya, Lapeng yang masih sulit mengakses Puskesmas? “Mereka bisa ke Pustu atau Polkedes terdekat,” ujarnya.

Wahyu lupa kalau ternyata Pustu Meulingge dan Rinon kosong. Menurutnya di Polkedes Rinon sudah ditempatkan seorang bidan. Sayangnya dia juga tak tahu kalau bidan itu tak tinggal di sana.

“Kami akan cari tahu soal ini, yang jelas di Rinon itu ada bidan, tidak benar kalau dikatakan tidak ada petugas medis,” ujarnya.

Dinas Kesehatan juga mengaku sudah mengusulkan pembelian satu unit mobil ambulans dengan dana otonomi khusus yang dikelola Pemprov Aceh. Ambulans itu untuk ditempatkan di Pulau Breuh.

“Ambulans itukan milik Puskesmas. Puskesmas adanya di Pulau Breuh, jadi kita usulkan untuk Pulau Breuh saja,” ujarnya.

Meski ambulans air dibutuhkan, Wahyu menegaskan, pihaknya belum punya rencana mengadakan boat untuk merujuk pasien itu. Alasannya harga kapal mahal, biaya operasional dan perawatannya sangat tinggi.

“Itu butuh biaya yang sangat tinggi. Pasien kan tidak dirujuk tiap hari, masih bisa ditangani dengan boat yang ada,” ujarnya.

Di pulau paling barat Indonesia, warga berjuang sendiri melawan sakit. Pusat layanan kesehatan memang tersedia, tapi seperti kata Nurbaiti di Rinon, “Kalau sakit hanya melihat bangunan kosong. Untuk berobat siapa yang layani? Jin? (okezone)

Editor: Muhajir AF

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Hacker Indonesia Serang Situs Polisi Federal dan Bank Sentral Australia

Bentrok Mahasiswa UNM Makassar, Kampus Dibakar…!

Related posts
Your comment?
Leave a Reply