12:25 am - Selasa November 21, 2017

Diskursus Kekerasan: Cerminan Budaya Kita ?

1235 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi Kekerasan Sosial (wordpress)

Kamaruddin Hasan, M.Si

Kamaruddin Hasan, M.Si

Oleh: Kamaruddin Hasan, M.Si*

CAKRAWALA bumi pertiwi dipenuhi asap ketidakpastian, seakan menutupi langit cerah dalam alam sadar dan bawah sadar.  Awan kelabu peradaban manusia kita lewati dilangit-langit harapan, nurani manusia yang terasa dan tersisa kosong.

Disisi lain, berbagai prediksi kita pancangkan, harapan kita taburkan dan kekhawatiran ditadaruskan sementara kegelisahan, kekecewaan masih tersimpan di balik hati yang paling dalam.

Karenanya, kata ‘paece’ (dama), menjadi akhir dari sebuah sejarah kekerasan. Dalam bahasa lain the end of violence history yang ada dimuka bumi. Akhir dari sebuah sejarah, walau dalam bentuk berbeda, hal ini bagian dari tesis the end of history Fukuyama. Berakhirnya sebuah sejarah kekerasan mestinya melahirkan kedamaian sebagai pemenangnya.

Namun satu hal yang pasti, ada impian banyak manusia terutama yang masih “normal” yang lama terpendam, bahwa bangun besok pagi tidak ada lagi kenyataan dan berita media massa tentang kematian yang tidak wajar, tidak ada lagi nyawa terkubur sia-sia, tidak ada lagi pembunuhan, tidak ada lagi kerusuhan, tidak ada lagi intimidasi, tidak ada lagi pemaksaan kehendak, tidak ada lagi anak-anak sekolah ditengah tembak menembak, tidak ada lagi bangkai manusia berceceran di pinggir jalan, tidak ada lagi pemerkosaan secara bergilir, tidak ada lagi pelecehan dan penghinaan yang menisbikan hakikat kemanusiaan.

Single content advertisement top

Kekerasan dalam setiap moment pemilu dengan mengatas namakan demokrasipun atau demokrasi defektif berlansung terus menerus, lihat saja penerapan pola budaya monolog, komunikasi top down  atau dalam bahasa berbeda adalah komunikasai gaya totaliterisme, kekerasan simbolik, politik tanpa etika, mobilisasi massa yang beringas, media kekerasan, ingin menang sendiri, penganiyaan, teror, intimidasi, bahkan pada taraf membunuh, dan sebagainya –sudah menjadi ciri khas manusia modern saat ini. Kekerasan, tidak saja meneror hati nurani, tetapi juga semakin mendorong kita pada batas krusial antara zona kehidupan dan kematian peradaban bangsa.

Maraknya tindak kekerasan yang dilakukan secara individu maupun kolektif seolah menjadi tradisi baru, tradisi yang keluar atmosfir ketidakpastian dalam banyak hal di berbagai penjuru dunia tidak terkecuali negari ini dan terutama di Negeri Serambi Mekkah ini.

Kadang tidak sanggup membayangkan, mengapa bumi tempat kita berpijak ini senantiasa dipenuhi oleh hujan air mata, bermandikan darah, penuh dengan nyayian kepedihan, teriakan kesakitan, jeritan minta tolong dan jeritan kematian.

Kekerasan yang dipamerkan dengan bangga oleh sekolmpok manusia, terjadi dihampir seluruh belahan dunia, mulai dari sudut Balkan sampai ke wilayah tanduk Afrika, hingga negara-negara latin seperti Kolumbia hinggai ke pasifik seperti Fiji atau daratan Aborijin Australia. Dari Bosnia, Tepi Barat jalur Gaza, dan semenanjung Korea. Dari Asia Selatan; Srilangka hingga ke Chechnya di kawasan Kaukasus, negara-negara pecahan Uni Soviet. Demikian juga di ASEAN; Thailand, Myanmar, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Kemudian teradiasi pada pada daerah dalam suatu bangsa, seperti Aceh, Lampung, Jakarta sampai ke Sulawesi, Maluku hingga Papua. Di Aceh, kekerasan dalam rupa beragam terjadi di hampir wilayah, hingga tapal batas Sumatera Utara.

Miris, pendidikan dan resapan nilai-nilai moral ‘semakin tak berbekas dalam benak manusia. Tidak ada hormat terhadap HAM dan jiwa manusia. Tidak ada empati untuk menjaga manusia secara manusiawi. Sastrawan Aceh, menulis ”…dan saya sebagai si terkutuk dilahirkan dan tumbuh di tanah yang buruk itu, namun saya begitu mencintai Aceh dengan segala alamnya yang elok dan masyarakat yang ramah untuk menyambung hikayat lama dan menyampaikan kepada dunia!”.

Tentu, kekerasan dalam bentuk apapun, salah satunya disebabkan oleh rangsangan pemikiran, yang telah menjadi ruang efektif untuk menghabiskan atau meminimalisir kuantitas dan kualitas kemanusiaan kita.

Kahlil Gibran, megungkapkan kekecewaan peradaban kemanusiaan dalam salah karya anyernya, bahwa ”aku mencari kesunyian, pengasingan dan kesendirian karena aku benci akan istana yang besar dan hebat yang disebut peradaban, karena bangunan dan arsitakturnya yang bagus dan berdiri tegak diatas bukit tengkorak manusia”.

Begitulah noda hitam dalam sejarah kemanusiaan terus berlalu dengan alasan kemanusiaan pula, tidak mudah dihapuskan. Paling tidak, segala kekejaman sesama manusia yang terjadi dalam setiap peradaban, menjadi catatan sejarah kelam. Dinno Patti Djalal mengungkapkan, “memang dalam Millenium ini, yang paling berbahaya adalah perilaku (destruktif) manusia”.

Dialektika Identitas

Pertanyaan mengenai makna hidup dan identitas, salah satunya dapat dijawab dengan menengok ke dalam subyektivitas diri manusia, dan dengan memperhatikan kehidupan spiritual batiniah. Subyektivitas, dalam pemahaman Rene Descartes, terletak dalam kemampuan manusia berpikir secara logis, rasional, dan terpilah-pilah. Berawal dari proses dialektika berpikir dan merenung dalam menginterpretasikan realitas.

“Manusia berpikir maka dia ada”, “Aku memilih maka aku ada”, demikian Descartes, filsuf Prancis. Ketika manusia berhenti berpikir, maka lambat laun kehilangan identitasnya sebagai manusia.  Tugas membuat pilihan ini ada pada setiap manusia, dan berlangsung dalam proses pergulatan batin untuk menentukan sebuah keputusan atau pilihan hidup. Otentisitas manusia hanya dapat diraih dalam keberaniannya untuk membuat keputusan dan pilihan-pilihan penting dalam hidupnya.

Suatu masyarakat manusia merupakan  usaha pembangunan dunia, bahwa dunia sosial adalah dunia yang dibangun oleh manusia sendiri. Ia merupakan hasil dari projek manusia membangun dunianya, suatu enterprise of world building. Perspektif ini, memberikan pengertian bahwa dunia (lingkungan sosial, budaya, politik, ekonomi, hukum dll) merupakan hasil konstruksi pemikiran dan aktivitas manusia, melalui apa yang disebut Peter L. Berger sebagai proses dialektika, melalui proses eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Semua dunia yang dibangun (dikonstruksi) oleh masyarakat manusia, secara inhern adalah rawan, karena terancam oleh fakta kepentingan diri dan kebodohan manusia itu sendiri.

Karena itu, konsep diri yang cenderung individualistik, konsumtif dan kapitalis membawa kehancuran pada manusia itu sendiri. Konsep diri terbentuk dari identitas sosial dan identitas pribadi. Identitas sosial dibentuk dari keanggotaan dalam kelompok sosial. Identitas pribadi terbentuk berdasar pengalaman unik yang dialami sebagai individu.

Manusia masuk kedalam arus, kecenderungan selera, arus konsumtif, arus pengkaburan identitas, tanda dan makna. Secara bersamaan seperti tiba-tiba merasa kehilangan  identitas. Itulah kiranya suatu perjalanan  yang penuh paradok. Mengejar identitas sekaligus kehilangan identitas..

Mengapa kekerasan

Pada tataran praksis kekerasan dipahami sebagai manifestasi akumulasi kekecewaan manusia terhadap berbagai masalah yang dihadapi. Kekecewaan terhadap praktek politik, ekonomi, kesenjangan sosial-budaya  secara kotor telah membuat manusia kehilangan kontrol diri.

Kekerasan dan kebiringasan menjadi jalan penyelesaian berbagai masalah. Tentu mesti dianalisis secara konfrehensif.  Perbedaan pendapat, beda bendera partai, beda pilihan politik dan lain sebagainya dijawab dengan kekerasan oleh masyarakat manusia. Pertanyaan lanjutan mengapa  masyarakat manusia cenderung  mudah melakukan  aksi  kekerasan  ketika  berhadapan berbagai perbedaan. Kemana sifat yang toleran, humanis, sportif dan saling menghargai, mental kesatria, mau menang sendiri, dan unjuk kekuatan dengan memperagakan kekerasan menjadi jalan pilihan.

Kecenderungan  meluasnya aksi-aksi kekerasan dan keberingasan dengan beragam bentuk dalam berbagai persoalan hidup masyarakat manusia, dapat disebutkan beberapa sebab akibat antara lain.

Pertama,  Masyarakat manusia terlalu lama  berada  pada posisi yang lemah dan kalah.  Bahkan posisi yang lemah tersebut  terus dipelihara agar sama sekali tidakberdaya  dan terus terkalahkan. Karena itu ketika ada peluang untuk keluar  dari situasi tertekan sarat depresi, yang muncul adalah perasaan permusuhan sehingga terdorong membalas. Dorongan inilah yang yang sering memicu aksi-aksi kekerasan.  Secara konsep struktural intreraksi sosial dapat dipahami sebagai kedudukan  komunitas dengan posisi subordinat paling bawah dan lemah yang cenderung  rawan akan tindakan atau perilaku kekerasan dalam  bentuk apapun dan kondisi kapanpun lambat atau cepat mengalaminya.

Kedua, bangsa ini sudah lama mengalami krisis keteladanan. Para elite, para pemimpin, tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat jarang muncul  sebagai tokoh  yang mengemban  dasar-dasar moral dan budaya yang kuat.  Tidak banyak sosok dan pribadi yang patut menjadi refrensi moral, budaya dan keteladanan yang patut ditiru masyarakat manusia. Kondisi  politik pun sangat kurang mendukung, elite politik masih  dan terus saja sibuk memikirkan  perebutan kekuasaan, baik melalui ajang politik nasional maupun  regional.

Ketiga, Pendidikan; sejak duduk di bangku Tk sudah disodorkan pendidikan dengan mengabaikan unsur karakter seperti nilai-nilai agama, moral, etika, budaya/sastra, kepribadian. Sehingga kurang pemahaman tentang eksistensi manusia sebagai khalifah dimuka bumi.

Keempat, Ketika keberanian, semangat, militansi, imajinasi dan idealisme akan digantikan  oleh perhitungan  ekonomis – tidak ada lagi jiwa saling tolong menolong.  Memasuki dan menjalani hidup dalam abad kekerasan atau The Age of Violence. Abad dimana berbagai wajah kekerasan telah menemukan bentuknya yang luar biasa dalam universium sejarah kemanusiaa. Dalam The End Of Histori, Fukuyama,  bahwa dalam kurun pasca sejarah ini tidak ada lagi seni budaya atau filsafat, yang ada hanya pemeliharaan museum sejarah  manusia  secara fisik. Karenanya akhir sejarah  akan merupakan  saat yang menyedihkan.

Kelima, ledakan kekerasan ideologi juga menjadi salah satu  dari sekian  wajah kekerasan yang ditemui dalam masyarakat manusia. Sementara perdebatan ideologis menyangkut strategi-strategi ekonomi telah  berubah menjadi  konfrontasi yang penuh kekerasan. Padahal sejarah membuktikan, kekerasan itu sekali dipakai,  kekerasan akan memasukkan lingkaran spiral, resistensi dan reaksi yang  terus memuncak dari masa ke masa.

Keenam, Media yang berada dalam genggaman hegemoni kekuasaan yang totalitarian yang dapat menjadi semacam “tirani terselubung”  karena eksploitasi pikiran yang dimanipulasi lewat media lambat-laun  akan menjelma menjadi sebuah sistem  totaliter yang mengendalikan pikiran yang menyuburkan berbagai kekerasan  dalam daratan kognitif dan spikologis.  Persoalan kekerasan juga diperkuat, ketika tehknologi canggih terus berkembang, disini ada mesin besar kekerasan yang tengah merepresentasikan diri yaitu media dalam genggaman hegemoni kekuasaan. Produksi kekerasan  dalam panggung kapilisme. Masyarakat manusia kini tidak saja memikirkan film yang estetis, tapi juga pembunuhan, perang, atau kekerasan yang estetis. Estetika tidak lagi merupakan suatu bentuk penggalian dan penampakan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan seperti agama, moral dan etika, tapi kita dihadapkan  pada wajah  reproduksi dunia sosial lewat media yang penuh ironi dan tanpa identitas.

Ketujuh, kekerasan struktur, kekerasan yang menyatu  dengan struktur sosial yang sesungguhnya lebih banyak mengandung kekerasan. Akar dari wajah  kekerasan  yang ada hampir dapat dipastikan  bermuara disini, kerena kebanyakan masyarakat manusia tengah dilanda  oleh proses transformasi sosial-budaya, politik, hukum dan ekonomi yang amat mendalam yang merupakan sumber ketidakstabilan dalam relasi-relasi kekuasaan. Oleh karena itu, budaya kekerasan akan terus mencemarkan semua segi kehidupan.

Kedelapan, ada kondisi pseudo-neurotik yang menyebabkan masyarakat manusia terpasung dan tertekan secara sosiocultural bahkan tekanan psikologis. Masih merasa tidak memiliki siapapun dan apapun yang bisa menghilangkan keresahan, menggangkat martabat, harga diri, kepercayaan diri, kebutuhan dan keinginan. Pada puncaknya solusinya adalah kekerasan.

Memang ironi, ketika begitu sering diajar oleh sejarah bahwa penggunaan kekerasan justru telah menghancurkan  tujuan dan cita-cita yang hendak dikejar, dan justru menciptakan  ketidakadilan yang sama dengan apa yang hendak dihancurkan.  Karena itulah stabilitas dibawah keadaan yang penuh penindasan berarti pelanggengan kekerasan.

Sepertinya Soejatmoko benar ketika ia mengatakan bahwa perjuangan tanpa kekerasan seperti diguklirkan Gandhi atau pengagumnya telah berubah dari suatu mimpi utopis menjadi suatu kebutuhan praktis. Idi Subandi Ibrahim, bahwa kita juga diingatkan oleh getaran-getaran perasaan yang mendalam yang sering dilupakan, bahwa dunia yang bebas dari kekerasan bukanlah dunia yang bebas dari konflik. Ini berarti menanggalkan kekerasan  tidak  berarti  menghentikan perjuangan  melawan kondisi-kondisi yang tidak adil dan menindas.

Selalu, dialektika proyek kemanusiaan tengah dan terus dipancangkan, saat yang sama di setiap sudut wajah-wajah kekerasan terus memoles luka yang dalam. Sementara masyarakat manusia  sendiri masih peka terhadap reaksi-reaksi yang dijumpainya dari manusia lain disekitarnya. Mungkin saja ada masyarakat manusia yang tidak bisa hidup tenang tanpa kekerasan, karena kekerasan sudah menjadi teman setia.

Padahal hanya dengan cinta, kasih sayang, tolong menolong, interaksi sosial yang sehat, komunikasi yang sehat (saling pengertian-kesepahaman) kita dapat menikmati hidup secara sempurna. Namun mengapa  saling pengertian dan kesetiakawanan sosial hanya  sebatas kata.  Apakah karena kejahatan dan kejelekan dengan sendirinya kebaikan  dan keindahan ada? Atau karena kekerasan, maka kita menyadari pentingnya kelembutan dan cinta kemanusiaa.

Mengakhiri tulisan ini, mari di simak bait-bait syair lagu Ebit G. Ade; mudah-mudahan menjadi renungan dan merubah perilaku, ”…bila masih mungkin kita menolehkan batin, atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas. Mumpun masih ada kesempatan buat kita mungumpulkan bekal perjalan abadi. Kita mesti ingat tragedi yang memilukan. Kenapa harus mereka, yang terpilih menghadang, tentu ada hikmah, yang  harus dipetik. Atas nama jiwa, mari heningkan cipta. kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu entah sampai kapan, tak ada yang bakal dapat menghitung. Hanya atas kasih-Nya, hanya atas kehendak-Nya kita masih bertemu matahari. Maka yang terbaik hanyalah segeralah bersujud mumpung kita masih diberi waktu”.[]

———————

*Penulis: Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Malikussaleh, juga Direktur Development for Research and Empowerment (DeRE-IndonesiaEmail: kamaruddinkuya76@gmail.com

Editor: Safta

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in
Sakit Jiwa

Sakit Jiwakah Kita ?*

Kesadaran Manusia Merajut Keharmonisan

Related posts
Your comment?
Leave a Reply