7:55 am - Jumat September 22, 2017

Di Aceh Utara, Harga Daging ‘Meugang’ Rp 150 – 160

354 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrasi (dok.pikirreview)

Aceh Utara--Harga daging ‘meugang’ di Aceh Utara dan Lhokseumawe berkisar 150 ribu rupiah hingga 160 ribu rupiah sejak Selasa (22/9) dan hari ini, Rabu (23/9).

Hari kedua ‘meugang’ di pasar-pasar tradisional dan juga di pasar dadakan di permukiman penduduk dalam wilayah Aceh Utara dan sekitarnya terlihat ramai dikunjungi pembeli sejak malam hari  hingga siang hari , Rabu (23/9).

Meskipun harga daging ‘meugang sambut Idul Adha, 2015 tergolong mahal, dengan ekonomi yang morat marit dirasakan masyarakat akibat bombardir dollar AS terhadapa rupiah yang mencapai level 14.500 rupiah per-dollar, namun antusias masyarakat untuk membeli daging ‘meugang’ tidak surut.

Single content advertisement top

Pantauan pikirreview.com di seputaran wilayah barat Aceh Utara dan Lhokseumawe sejak Selasa dan Rabu, mengindikasi bahwa tradisi ‘meugang’ pada perayaan hari raya kaum muslimin menjadi trend tersendiri, khususnya bagi masyarakat bumi Serambi Mekkah itu.

“Jika dipikir-pikir soal ekonomi, ya morat-marit bang, tapi ya gimana lagi sudah turun temurun, masyarakat kita ‘wajib’ ada daging meugang sambu hari raya”, ujar salah seorang ibu rumah tangga di pasar tradisional Kreung Mane, Aceh Utara, kemarin siang.

Pernyataan serupa juga diungkapkan Abubakar (46), warga bungkah saat membeli daging ‘meugang’.

“Sudah tradisi bansa Aceh dua hari ‘meugang, bang, mau-tak mau harus ada daging meugang untu keluarga jelang hari raya”, katanya, Rabu (23/9) siang.

Pesta daging ‘meugang’ yang hanya ada dalam masyarakat Aceh setiap menjelang hari raya dan sambut ramadhan itu selalu dilestarikan hingga kini. Entah apa makna yang sesungguhnya, sejak H-2 hari raya selalu dijadikan moment tradisi yang sangat gembira di seluruh wilayah Aceh.

Namun yang pasti, kegiatan budaya yang sudah ada sejak zaman ‘endatu’ (sejak masa Sulthan Iskandar Muda-red) dan tetap hidup di zaman modern ini dikalangan rakyat Aceh menjadi spesial dalam menymbut bulan ramadhan dan hari raya (idul fitri dan idul Adha).

“Tentu saja ada makna sendiri bagi masyarakat Aceh dengan ‘meugang’ ini. Salah satunya, setiap warga merasa bersama, tidak ada kaya-miskin, semuanya merasakan daging meugang, termasuk yatim piatu,” tegas salah seorang tokoh adat warga Dewantara, Aceh Utara di Keude Kreung Geukueh, Rabu siang kepada pikirreview.com.

Makna lain, mungkin sebagai rasa syukur kepada Allah atas diberikan kesempatan untuk bisa berhari raya kembali, makanya tradisi meugang ini dilestarikan cicit dan buyutnya Sulthan Iskandar Muda.

“Lagi pula kan, ‘meugang ini bisa diartikan sebagai rasa syukur kita atas pemberian nikmat Allah, untuk bisa menikmat daging bersama-sama sebelum hari raya tiba”, tambah tokoh adat itu lagi yang tidak mau ditulis namanya. (adi/fauzan)

Editor: Muhajir AF

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Duh…1000 Koperasi di Aceh Segera Dibubarkan

BPS: Pengangguran Di Aceh Bertambah 26.000 Orang

Related posts
Your comment?
Leave a Reply