2:21 pm - Sabtu September 23, 2017

Bernahkoda di Tanah Rencong

402 Viewed Redaksi 0 respond
Penampakan Islamic Center Lhokseumawe Parkiran Timur Pada Malam Hari
Husnul Fajri

Husnul Fajri

Oleh: Husnul Fajri

INDONESIA dinyatakan merdeka pada tahun 1945, namun kehidupan masyarakatnya dinilai masih jauh dari kemerdekaan. Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 7.504 pulau dan 34 provinsi.

Berbagai macam bentuk kebudayaan dan bunyi bahasa yang berbeda juga ada di Indonesia. Meskipun begitu, para pemuda Indonesia tempo dulu sudah berjanji berbangsa satu dan berbahasa satu tetap Indonesia, sehingga muncul jargon “ Bhinika Tunggal Ika”.

Di Aceh misalnya, bahasa yang digunakan memang tergolong sulit untuk dipahami tetapi unik. Menurut salah seorang anggota masyarakat bahasa Aceh mengadopsi beberapa bahasa negara lain seperti Arab, India, Jepang, Inggris, Belanda dan lain-lain.

Hal itu juga dipraktikkan masyarakat Aceh di Kota Lhokseumawe. Kota Lhokseumawe merupakan salah satu kota yang terdapat di Provinsi paling barat Indonesia.  Dalam pengamatan penulis, Lhokseumawe merupakan kota unik, karena bila tidak fokus saat berjalan bisa-bisa terkena ranjau darat, serta masih sangat jauh dengan kesadaran tertib berlalu lintas.

Single content advertisement top

Di kota ini juga terdapat sejumlah perguruan tinggi negeri maupun swasta. Salah satu perguruan tinggi negeri, tempa penulis menimba ilmu adalah Universitas Malikussaleh (Unimal). Kampus Unimal yang tersebar di empat titik wilayah kota lhokseumawe.

Kampus utama terdapat di Reuleut, Kampus 2 di Bukit Indah Muara Satu, Kampus 3 di Utenkout Cunda dan Kampus Pasca sarjana di Lancang Garam. Di Unimal para mahasiswa tidak hanya dari antero Aceh, tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Sumatra Barat, Sumatra Utara, Riau, Jakarta, Bekasi, dan lain-lain.

Pengalaman menjadi mahasiswa perantau, tidak hanya di tuntut untuk mampu mengatur kaeuangan, namun juga harus berpandai pandai dalam membagi waktu. Masa-masa transisi memang terlalu dini agaknya menjadi seorang mahasiswa di perantauan, tanpa adanya kontrol kedua orang tua, bisa-bisa terjerumus ke dalam api kemurkaan. Namun inilah realitanya yang harus dijalani, proses pendewasaan dan paencarian jati diri bukanlah dicarikan oleh kedua orang tua, tetapi diri sendirilah yang bertanggung  jawab atas apa yang hendak dicari.

Belum lagi banyaknya godaan-godaan yang datang silih berganti, apalagi hidup diperantauan itu sendiri ngekost, tentu saja kondisi lingkungan sekitar tidak semua sehat akan berpengaruh terhadap diri yang masih labil.

Banyak hal-hal baru yang ditemukan di perantauan, seperti religiusitas, budaya, adat istiadat dan pergaulan yang prural. Disini, kita dituntut kesabaran tinggi, pandai-pandai membawa diri, suka maupun duka di jalani sendiri. Apabila ada sanak saudara di kampung ditimpa musibah, disinilah kesabaran dan keimanan perantau diuji waktu, mau pulang tak ada uang, tidak pulang akan selalu terkenang dan tertancapkan dalam hati. Konsentrasi mulai buyar, semangat mulai pudar.

Begitulah kira-kira duka yang dirasakan mahasiswa yang marantau. Keimanan menjadi modal kuat untuk terus bergerak, agar dapat memenuhi segala keinginan kelak. Satu tekad yang kuat “Hidup bermanfaat di dunia dan berarti di akhirat”.

Hidup di perantauan laksana nahkoda di samudera luas. Hari ini mungkin saja sang nahkoda bersantai-santai berlayar di tengah samudera yang tenang, tanpa adanya tantangan dari badai-badai dan goncangan ombak lautan samudera. Namun suatu ketika kondisi samudera berbeda, bisa saja sang nahkoda mendapat terpaaan badai dan ancaman ombak lautan yang akan menenggelamkan sang nahkodah jauh ke dalam dasar laut. Demikianlah kira-kira dianalogikan kepada mahasiswa yang hidup serba difasilitasi lengkap dari orang tuanya. []

Penulis: Mahasiswa FISIP Unimal Lhokseumawe, Anggota UKM-Kelompok Studi Mahasiswa Creative Minority

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Di Jepang, Perempuan Lebih Memilih Rumah Tangga Daripada Karier

Related posts
Your comment?
Leave a Reply