12:44 pm - Senin November 20, 2017

AS Tidak Pantas Nilai Kebebasan Beragama di Indonesia

167 Viewed Redaksi 0 respond

Jakarta– Laporan Tahunan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) berjudul “2012 Report on International Religius Freedom”, yang di dalamnya menyebut Indonesia lemah dalam menjaga kebebasan beragama disesalkan Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah.

“Tidak pantas menilai kebebasan beragama sebuah negara demokratis dengan kejadian atau kasus yang diangkat ke publik,” kata Teuku Faizasyah di Jakarta, Rabu (19/6) malam.

Single content advertisement top

Faizasyah tidak menampik kalau masih ada ketidakadilan dalam kegiatan beragama di Indonesia. Tapi ia menganggap, penilaian Kementerian Luar Negeri AS itu sungguh tidak pantas dan elok, karena secara umum pemerintah Indonesia melindungi warganya untuk bebas memilih agama yang mereka anut.

“Penilaian itu tidak berdasarkan seluruh kejadian yang ada di Indonesia. Pemerintah Indonesia saja tidak menilai kebebasan beragama di negara lain secara sepihak,” ujar Faizasyah.

Ia menyebut, menilai kebebasan beragama di negara lain seperti yang  dilakukan AS itu sangat sepihak. “Kita menghormati kebebasan beragama negara lain dan tidak menilainya begitu saja,” papar Faizasyah.

Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional itu mengatakan, penilaian AS yang negatif kepada Pemerintah Indonesia dalam kebebasan beragama itu tindakan diskriminasi, yang tidak mewakilii kondisi general di Indonesia.

“Pemerintahan SBY sudah menegaskan, hingga 2014 mendatang akan menekankan kepada toleransi dan harmonisasi antar komunitas beragama,” ungkap Faizasyah.

Soal adanya ketidakadilan, menurut Faizasyah, bukan berarti Indonesia diam dan tidak bertindak. “Kita terus memperjuangkan kebebasan beragama di negeri ini,” tegas Faizasyah.

Sementara itu Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha menilai, laporan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS yang dikeluarkan oleh Kedutaan Besar AS di Jakarta, Selasa (18/6), hanya bagian dari pendapat lain dari penilaian dunia internasional terhadap kebebasan beragama di Indonesia.

“Kami rasa dunia internasional secara umum memberikan apresiasi atas kondisi kebebasan beragama yang ada di Indonesia. Hal ini jelas, dari diberikannya penghargaan World Statesman Award dari Appeal of Conciences Foundation kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” sebut Julian.

Senada dengan Teuku Faizasyah dan Julian Aldrin Pasha, pengamat internasional Hikmahanto Juwana sebagaimana dikutip sebuah media mengatakan, bahwa laporan yang dibuat Deplu AS itu tidak bisa dijadikan tolok ukur kebebasan beragama di Indonesia.

“Laporan mereka jelas bias karena mereka menilai hanya melihat dari permukaan saja,” ujar Hikmahanto.

Menurut Hikmahanto, melakukan penilaian terhadap kebebasan beragama di Indonesia, seharusnya dilakukan dengan dari dekade-dekade ke belakang.

“Dengan begitu akan jelas bahwa pemerintah Indonesia sudah dengan baik memperjuangkan kebebasan beragama dan sukses menyelaraslam kelompk bergama,” papar Hikmahanto. (SETKAB RI)

Editor: @redaksi

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Duh, Bank Mandiri Segera Naikkan Suku Bunga

Riset BSA: 18% Rakyat Indonesia Melek Internet

Related posts
Your comment?
Leave a Reply