6:46 pm - Selasa November 21, 2017

Aksi Teror Bus Aceh, Siapa Peduli !

442 Viewed Redaksi 0 respond
Ilustrai (antaranews)
Khairu Syukrillah, S.Ikom

Khairu Syukrillah, S.Ikom

Oleh: Khairu Syukrillah

Kasus-kasus pelemparan bus Aceh tujuan Medan atau sebaliknya masih saja terjadi hingga kini, seolah tanpa ada yang perduli dan tanpa hukum. Tindakan kriminal ini membuat masyarakat pengguna bus semakin resah saja.

Fenomena teror bus Aceh dengan cara melempar batu dilaporkan media pada tahun 2012 dan kemudian kasus ini berhenti sejenak, dan muncul lagi pada 2013. Pada awal 2014 hingga kini pelemparan bus selalu saja terjadi, terutama di kawasan Stabat, Langkat Sumatera Utara. Di kawasan tersebut, seolah sudah menjadi  ‘daerah angker’ bagi bus, mobil pribadi atau truk Aceh.

Single content advertisement top

Kasus terbaru bulan lalu pelemparan batu di Langkat Sumatera Utara menimpa bus Star Simpati. Belum lagi terungkap siapa pelaku kasus itu, diberitakan pada (19/04) di wilayah Stabat, Sumut, juga terulang lagi kasus pelemparan bus Aceh, yang menimpa Bus Kurnia nomor polisi BL 7463 PB, meskipun tidak mengakibatkan korban jiwa namun pihak armada Bus Kurnia mengalami kerugian karena kaca pintu supir pecah.

Sentimen Rasial, Persaingan Bisnis atau Pihak Ketiga

Beberapa motif sempat muncul, dan untuk kasus terbaru, ketika bus-bus Aceh dilempari di wilayah Sumatera Utara dipahami sebagai rasisme atau sentimen rasial. Jika sentimen rasisme menjadi motif alangkah primitifnya hubungan antar-masyarakat berbeda daerah terbangun saat ini.

Dipahami konteks hubungan Aceh–Sumut bukan sekedar hubungan sosio-antropologis, karena dekatnya aspek-aspek kekerabatan dan timbangan sejarah yang pernah membentuknya, namun juga yang lebih nampak nyata adalah hubungan bisnis dan perdagangan.

Ada aspek saling memerlukan dalam konteks ini, bukan hanya Medan memerlukan Aceh, Aceh juga memerlukan Medan yang dalam taraf tertentu bahkan ketergantungan. Jika kasus ini melahirkan pandangan rasial akan berakibat buruknya hubungan ekonomi dan perdagangan antara dua daerah ini. Ini juga sekaligus menunjukan evolusi manusia belum berkembang menjadi makhluk kultural masih menjadi homo racial.

Selain sentimen rasial, juga bisa penyebab kasus-kasus tersebut meningkat karena persaingan bisnis antara pemilik saham utama bus-bus tersebut. Peningkatan yang dahsyat terhadap tampilan atau model bus-bus Aceh memang kian kompetitif sejak akhir tahun 2012.

Masing-masing pengusaha bus saling kejar untuk membuktikan kesanggupan pengadaan bus baik dari segi karoseri yang luar biasa hingga desain yang mewah yang mampu menandingi kemewahan dalam menaiki armada pesawat. Model bus dengan berbagai karakter Highclass, Luxuryclass, Super Eksekutif, Eksekutif dan lain-lain telah memanjakan penumpang Aceh yang juga berdampak meningkatnya harga sewa.

Atas faktor ini tidak menutup kemungkinan persaingan antarpemilik bus-bus mewah tersebut yang menghalalkan segala cara termasuk yang durjana. Dampak model ini tentu melahirkan model persaingan yang purba, dengan memanfaatkan asas “yang paling kuat menahan godaan maka ia yang bertahan (survival of the fittest). Evolusionisme seperti ini seharusnya berhenti jutaan tahun lalu ketika seleksi alam masih berlaku bagi spesies dan bukan menjadi model peradaban bisnis modern.

Sementara aksi pelemparan bus asal Aceh pada malam hari, juga tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh pihak ketiga. Pihak ketiga ini, kelompok yang benar-benar lihai dan bermental ingin menyakiti orang lain, dan memanfaatkan situasi; damai atau konflik.

Pihak ketiga ini, adalah para preman dalam kategori mental abuse. Tugas mereka hanya untuk membuat kekacauan dengan cara apapun dan dengan berbagai dalih apapun juga dan cukup sulit diberantas memang, pihak ketiga ini, karena pelakunya misterius macam bunglon. Di negara-negara berkembang, para bunglon ini tumbuh pesat, tidak pernah dapat diungkapkan identitasnya.

Kemana Negara?

Melihat peningkatan kasus pelemparan yang terjadi belakangan ini yang sangat signifikan, berbagai argumen pun muncul dari berbagai kalangan untuk segera menindaklanjuti kasus tersebut, seperti yang dikatakan oleh Ketua DPD Organda Aceh bahwa aksi pelemparan tersebut sudah mengkhawatirkan keselamatan penumpang, selain kerusakan yang berakibat kerugian di kalangan pengusaha armada angkutan di Aceh.

Yang sangat patut untuk membongkar segala motif dibalik pelemparan ini adalah negara, yaitu aparat keamanan, secara khusus kepolisian. Pihak kepolisian harus bekerja dengan keras untuk menentukan motif tunggal atau jamak dari kasus ini sehingga publik tidak berebut memberikan kesimpulannya sendiri, yang juga bisa mengarah kepada kerugian sosial akibat model interpretasi yang keliru.

Dalam kondisi ini, pihak kepolisian jangan hanya melakukan upaya pencegahan terhadap pelemparan bus dari Aceh ke Medan atau sebaliknya melalui patroli di jalan nasional Banda Aceh – Medan tapi juga melakukan investigasi untuk tidak membiarkan tindakan kejahatan yang saat ini masih dianggap anonim ini menjadi perilaku berketerusan.

Perlu dilakukan juga kordinasi dengan kepolisian Sumatera Utara untuk mengungkap masaah karena kasus ini telah melibatkan dua wilayah kepolisian. Harus ada pandangan jernih bahwa masalah ini bukan hanya demi kepentingan masyarakat Aceh, tapi warga negara yang perlu dilindungi hak-haknya termasuk hak kenyamanan dan keamanan yang diatur di dalam konstitusi.

Atau karena kegawatan kasus ini telah cukup tinggi, perlu ada persiapan dan kontigensi yang dilakukan oleh pasukan khusus (Densus 88 – intel misalnya), karena level kriminalitas yang dilakukan ini telah bersifat acak dengan korban warga negara yang sama sekali tidak berurusan dengan motif-motif jahat pelaku.

Kejadian ini telah meneror publik dan melahirkan budaya ketakutan yang tidak perlu, dan kini berlapis, setelah juga mengalami ketegangan karena menjelang pemilu presiden. Jangan biarkan teror kembali memenuhi jalan-jalan negara dan negara harus berusaha sekuat tenaga menjamin hak konstitusional warganya.[]

Penulis: Alumni Ilmu Komunikasi Unimal Lhokseumawe, jurnalis, dan juga keluarga besar Aceh Bus Lovers Community (ABLC)

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Harapan Masyarakat di Pemilu 2014

Menakar Kapital Politik Jokowi dan Prabowo

Related posts
Your comment?
Leave a Reply