3:03 pm - Kamis Agustus 22, 1067

8 Cara Media Putarbalikkan Fakta Pembakaran Masjid Tolikara Papua

422 Viewed Redaksi 0 respond
Larangan Muslim Shalad Ied oleh GIDI, Kemudian GIDI Bakar Masjid (foto: pojoksatu)

Pikirreview.com–Banyak cara untuk menghilangkan kasus pembakaran masjid Baitul Muttaqin di Tolikara Papua, yang dilakukan kelompok Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) saat shalat Idul Fitri, Jum’at (17/7/2015) lalu. Segera, peristiwa itu menjadi berita di hampir seluruh media. Namun, ternyata banyak pemberitaan oleh media sekuler yang mengaburkan kebenaran sesuai fakta.

Berikut ini 8 cara media membalikkan fakta terkait kasus pembakaran Masjid di Tolikara Papua:

1. ‘Yang dibakar adalah mushala’

Single content advertisement top

Papan nama Masjid Baitul Muttaqin yang tersisa (Eramuslim.com)

Banyak media memberitakan bahwa yang dibakar adalah mushala. Baik di judul maupun badan berita, yang disebut adalah mushala. Istilah mushala tentu membuat publik memiliki persepsi berbeda. Mushala itu kecil, tidak dipakai shalat Jum’at. Faktanya, yang dibakar adalah Masjid Baitul Muttaqin.

2. ‘Yang dibakar adalah kios’

Lebih bias lagi, berita-berita yang menyebutkan bahwa yang dibakar adalah kios bukan masjid atau mushala. Berita-berita tersebut bersumber dari Kepala Staf Presiden Republik Indonesia, Luhur Binsar Panjaitan. CNN Indonesia menurunkan dalam berita berjudul “Luhut: Pembakaran Terjadi di Kios Bukan di Musala”

3. ‘Aksi tidak ditujukan kepada umat Islam’

Selain menyebut yang dibakar adalah kios, Luhut juga menyebut bahwa aksi tersebut tidak ditujukan kepada umat Islam. Padahal, kelompok massa yang diketahui berasal dari jemaat GIDI itu sempat menyerang ke arah jamaah shalat Idul Fitri sebelum akhirnya membakar masjid.

4. ‘Mengubah berita menjadi bias’

Metrotvnews.com mengganti judul berita (Facebook.com)
Metrotvnews.com mengganti judul berita (Facebook.com)

Metrotvnews diketahui melakukan perubahan berita yang semula berjudul “Saat Imam Takbir Pertama, Sekelompok Orang Datang dan Lempari Musala di Tolikara” menjadi “Amuk Massa Terjadi di Tolikara”. Isi berita pun diubah, yang semula menyebut “Sejam kemudian, orang-orang itu melempari Musalla Baitul Mutaqin yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka juga membakar rumah ibadah tersebut” diubah menjadi “Sejam kemudian, orang-orang itu melempar batu dan membakar bangunan di sekitar lokasi kejadian. Enam rumah dan sebelas kios pun menjadi sasaran amukan orang-orang itu.”

5. ‘Mengarahkan pada persepsi umat Islam yang salah’

Kendati memberitakan rumah ibadah umat Islam dibakar, sejumlah media banyak memberitakan dari sumber yang menyebut penyebab peristiwa tersebut adalah umat Islam yang memakai speaker atau umat Islam telah diingatkan tidak merayakan hari raya. Berita-berita tersebut agaknya membentuk persepsi pembaca bahwa bagaimanapun juga yang salah adalah umat Islam.

6. ‘Tidak menyebut tindakan teror dan pelakunya teroris’

Ketika ada perusakan rumah ibadah non Muslim, dengan serta merta media-media menyebut aksi tersebut sebagai tindakan teror dan pelakunya adalah teroris. Namun ketika yang dibakar adalah masjid, banyak media enggan menyebut tindakan tersebut sebagai teror dan pelakunya adalah teroris.

7. ‘Penyebab Pembakaran Masjid adalah Speaker’

Jusuf Kalla, berkomentar setelah peristiwa pembakaran masjid Baitul Muttaqin di Tolikara Papua, bahwa penyebabnya adalah speaker yang terlalu kencang. Apa yang dikomentari Jusuf Kalla sebagai wakil presiden langsung diamini oleh Kapolri saat itu. Padahal muslim Tolikara dari dulu mengaku tidak pernah pakai speaker ketika menjalankan ibadah.

8. ‘GIDI dianggap Surat Edaran Palsu’

Surat Edaran GIDI yang melarang umat Muslim shalat Ied (eramuslum)

Saat ini pihak GIDI berdalih bahwa surat resmi yang dikeluarkan oleh badan pekerja GIDI Wilayah Tolikara, Papua pada tanggal 11 Juli 2015 dengan nomor 90/SP/GIDI-WT/VII/2015 dikatakan palsu. Padahal Kepala kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tolikara, Yusak Mauri, membenarkan adanya pemberitahuan yang ditandatangai oleh Ketua Badan Pekerja GIDI Tolikara, Pdt. Nayus Wenda dan Sekretarisnya, Pdt. Marthen Jingga adalah asli. (bersamadakwah/kabarmakkah)

Editor: Muhajir AF

Don't miss the stories followPikirReview.Com and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Filed in

Bikers Se-Aceh Buka Puasa Bersama di Lhokseumawe

Doto Zaini Buka MTQ Ke-32 Provinsi Aceh

Related posts
Your comment?
Leave a Reply